Ini tentangku, tentangmu, dan tentang mereka.... Tetes-tetes hujan di setiap sisa ujung hari sengaja aku tampung pada sebuah cawan di sini. Kelak ketika aku, kau, atau kalian lupa, kita bisa menengok dan berkaca pada pantulan air di secawan tetes hujan ini.
Yang mau nyari fan fiction, bisa klik label "fan fiction" sebelah kanan.

Yang mau galau badai menye-menye puitis ria, bisa klik label favorit gue "phoetic phrase".

Any comments are welcomed.... ^_^

Monday, 3 November 2014

Dyka's Birthday



Oke guys, balik lagi sama guweh. Setelah postingan sebelum ini melow drama total bikin galau mau gantung diri, sekarang gilirannya cerah ceria membabi buta mau jingkrak-jingkrak bahagia, biar hidup nggak ngenes mikirin takdir dan skripsi. Ha ha ha!

Kali ini ada bahan m̶a̶k̶a̶n̶a̶n̶ tulisan.
Bulan kemarin Dyka ulang tahun tanggalnya g̶u̶e̶ ̶l̶u̶p̶a̶ 24 Oktober. Makin tua. Syukur deh tambah tua. Kalo tambah muda malah gue ketakutan.

Kadonya udah tak rencanain beberapa bulan lalu. Ini pertama kalinya aku beli kado buat Dyka. Lagi punya duit soalnya. Wkwkwk....

Beli cushion deket ring road Condong Catur. Udah biasa beli di situ. Si Dai-chan belinya dulu juga di situ. Tau Dai-chan, kan? Itu lho boneka bear kuning unyu yang suka g̶a̶n̶t̶u̶n̶g̶ ̶d̶i̶r̶i̶ gantungan di tas akyu.


Dai-chan tercintaaa....


Akhirnya dapet deh Rilakuma. Sekitar dua minggu sebelum birthday Dyka. 

Rabu tanggal 22 Oktober 2014, Dyka ternyata mau mudik pulang. Langsung aku cegat kepulangannya. Enak aja, aku beli kado dua minggu lalu tapi ngasihnya telat. Setelah serah terima m̶a̶h̶a̶r̶ ̶k̶a̶w̶i̶n̶ bingkisan, Dyka pamit dan aku mewanti-wanti dia nggak boleh buka itu kado sebelum lewat tanggal ultahnya.

Selesaaai....

Eh, belum. Masih ada traktirannya Dyka. Tanggal 27 Oktober Dyka dah di Jogja. Kita ke WS dan dia yang d̶i̶p̶e̶r̶a̶s̶ nge-boss-in.

XD


Thank you.
<3




Yogyakarta, 3 November 2014
21.51 WIB




Detik dan Waktu #2




Terlalu lama. 

Apa kau tahu bagaimana waktu mempertemukan kita kelak? Atau bahkan tidak mempertemukan sama sekali. Waktu begitu egois. Berlalu dengan sangat cepat tanpa tahu kita sudah menua sedemikian parah. Terlalu cepat, sampai kita tidak sadar bahwa kita sudah berada di ujung detik penantian panjang, yang mungkin akan diakhiri dengan segera.

Tuhan....
Bisakah waktu menjadi karet? Bukan jam karet bermakna molor seperti kata kebanyakan orang. Aku hanya ingin waktu lebih panjang untuk menyiapkan, tanpa takut kehilangan.

Seperti kata-kataku di masa lalu tentang Detik dan Waktu. Kau tahu detik dan waktu? Mereka diciptakan untuk mempertemukan dan memisahkan. Seperti ilalang yang tumbuh muda dan bertemu belalang. Lalu suatu ketika salah satu dari mereka harus pergi... atau keduanya harus pergi. Kemudian detik dan waktu kembali mempertemukan yang lain. Untuk dipisahkan.



Pada akhirnya, aku ketakutan akan melupakan bagaimana senyum di wajahmu itu ada.





Yogyakarta, 3 November 2014
20.10 WIB



Tuesday, 28 October 2014

Gaya Bahasa: Formal dan Informal




*note
Tulisan ini tidak mengarah ke suatu pihak. Ini murni saya tulis untuk semua. Jadi tidak untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu. Kalaupun gaya bahasa saya kesannya seperti mengarah ke pihak tertentu, maka itu hanyalah sebatas gaya menulis saya biar lebih komunikatif sama pembaca. Ho ho.... XD

Mari saling belajar.





Mana yang kamu pilih?
Permintaan formal atau tak formal?


Saya harap malam ini anda jangan tidur dulu. Ada yang harus diselesaikan malam ini juga. Kemungkinan saya bisa ke sana sekitar jam 10an.


Atau yang ini....


Nanti jangan tidur dulu, ya. Ada hal kecil yang mau diselesaikan sebentar. Cuma hal kecil aja, kok. Ndak papa kan kalo nunda tidur sebentar sampai jam 10an nanti?


Pilih yang mana?
Lebih enak bahasanya yang kedua, kan?

Entah ini bahasa cowok kurang gaul atau emang sengaja biar terdengar serius, tetep aja yang pertama bikin males pol. Begitu baca isi pesan saja langsung hati tak tenang karena merasa was-was. Apalagi kalau kesannya membuat sesuatu itu begitu "waow" dan "sangat penting" dan "sangat urgent" dan begitu "bahaya". Paling tidak, untuk menenangkan si penerima, tambahin kata "ada hal kecil" atau "hal sederhana" yang mau diselesaikan "sebentar". Biar si penerima pesan tenang. Coba kalau si penerima punya penyakit jantung atau darah tinggi. Mau jadi penyiksa batin orang?
-___-"



Hampir semua orang memilih tempat nyaman, kan? Kalau kau saja tak bisa membuat orang nyaman dengan dirimu, bagaimana mungkin orang-orang akan terbuka dan menyambut hangat sosokmu?

Mas, pak, om, atau apalah. Ganti susunan kata-kata anda selama ini ketika sedang berkomunikasi dengan orang lain. Buat orang lain nyaman dengan sosokmu kalau tak ingin orang-orang menutup diri darimu.

You do not want to make other people feel irritated by you, right?

Bukan kau saja.
Tapi kita.
Kita semua.

Karena pesan yang akan disampaikan, bisa bermakna berbeda jika tak tepat dalam menggunakan bahasa.

At least, pelajari bahasa-bahasa hangat yang membuat orang merasa nyaman dan tenang. Apapun itu. Kita bukan sosok penyebar ancaman, kan? Meskipun aku tahu kau tak berminat mengancam.





Yogyakarta, 28 Oktober 2014
21.06 WIB
Di kamar nomor 5 aspi, setelah menerima sms "teror" yang membuat ide cerita ini muncul
:)




Sunday, 19 October 2014

Kau Ini Sebenarnya Apa?




Kita hanya bertatap muka beberapa kali, tak lebih dari lima kali. Bahkan mungkin hanya tiga kali. Tapi kau sudah mampu meneteskan air mataku sedemikian deras, ketika kau pergi untuk selamanya.

Bukan hanya satu dua kali air mata ini menetes. Hampir setiap sosokmu berkelebat di kepala, dada terasa sesak dan mata ini tak bisa berfungsi normal karena tergenang air.

Kita hanya bertemu beberapa kali. Ketemuan pun hampir tak pernah. Tapi seperti katamu di sebuah inbox facebook kita. Kau seperti sudah sekian lama mengenalku. Mungkin kita pernah bertemu di masa lalu. Begitu katamu.

Kita hanya mengenal tak begitu lama. Bahkan hanya saling mengenal selama beberapa semester. Tapi kau sudah mampu membuatku terbawa emosi dan meredamnya hanya dalam tempo jam. Seperti sosok sahabat yang sudah aku kenal bertahun-tahun.

Kertas hasil fotokopian di saat terakhir kali aku bertemu denganmu secara tak sengaja di Excellent pun, sampai saat ini masih aku simpan, formulir lomba novel yang deadline jatuh bulan Maret 2013. Sampai sekarang masih ada di tumpukan meja-meja paling bawah. Dan baru saja aku temukan kemarin ketika bersih-bersih, mengingatkanku padamu lagi.

Pada pertengkaran kecil kita....
Pada kesalahpahaman di mana kau selalu mengalah....
Pada rasa sebalku padamu yang akhirnya membuatku begitu mengenalmu....


aku hanya tak ingin menyakiti siapapun.....demi apapun aku tidak ingin.....


Di lain pesan....


wlw sampai detik ni belum pernah bertemu langsung,rasanya aq sudah lama sekali mengenalmu,trimakasih


Atau ini....



Aku:
kamu itu yg mana e, nis? 
he he, peace

Kamu:
walah........ya liat d foto ne to ma,piye to???nakal tenan ki jan.... 
pake kacamata say....tau ga??

Aku:
pernah papasan belum? 
kadang2 aq ndak bisa bedain antara yg di foto sama yg di asli e . . . he he

Kamu:
pernah..tapi tak diemin,ngetes aja,kamu inget ga sma mukaku,heheh peace....:Dv

Aku:
he he, aku gak tau yu
mukamu beda mungkin
kan aku kadang kesusahan nyamain antara foto dan asli

Kamu:  
heheh...ya sudah lain kali tak panggil klw ketemu,hehehh,


iya,pengen ketawa sendiri,padahal aq d sampingmu,dalam hati cuma bisa ngomong (eh...nianak ga nyadar2 juga ya ni aq)
XDv

Aku: 
oh . . . ternyata di sampingku




Aku baca sekali lagi inbox kita. Kau memang tidak menyakitiku. Tapi aku malah terasa sakit ketika kau balas kata-kata negatifku dengan permintaan maafmu.

Kau tak punya hak untuk meminta maaf. Akulah yang punya kewajiban untuk meminta maaf.

Bagaimana kabarmu?
Apa menurutmu kita cukup baik untuk diterima di negeri akhirat bersama-sama?
Aku menyayangimu.
Apa kalimat itu sudah cukup?

Aku ingin memelukmu, lebih erat daripada saat itu.

Kita hanya bertemu beberapa kali. 
Tapi kau sudah mampu membuatku menangis seperti ini.
Kau ini sebenarnya apa?



Yogyakarta, 19 Oktober 2014
08.15 WIB




Tuesday, 14 October 2014

Anindyka Sekar Trinasih



Tak tulis namamu niiih....

Ini bukan namanya Raditya Dika.
Bukan pula Andika Kangen Band.

Ini kamuuu....

Noh, namamu udah ada di blog akuuu....

XD


Anindyka Sekar Trinasih
Anindyka Sekar Trinasih
Anindyka Sekar Trinasih
Anindyka Sekar Trinasih
Anindyka Sekar Trinasih
Anindyka Sekar Trinasih
Anindyka Sekar Trinasih
Anindyka Sekar Trinasih

Dyka cantik
Dyka nggak 4l4y
Dyka nggak gampang galau
Dyka gaul abiezzz
Dyka nggak suka nagih utang
Dyka imut unyu beud

Dyka
Dyka
Dyka

Kupanggil namamu 3x, jangan muncul di mimpi gue malem ini.
Ha ha ha!



Yogyakarta, 14 Oktober 2014
06.25 WIB (jam hape)
Tempat Pak Bambang, ngerjain buku