Ini tentangku, tentangmu, dan tentang mereka.... Tetes-tetes hujan di setiap sisa ujung hari sengaja aku tampung pada sebuah cawan di sini. Kelak ketika aku, kau, atau kalian lupa, kita bisa menengok dan berkaca pada pantulan air di secawan tetes hujan ini.
Yang mau nyari fan fiction, bisa klik label "fan fiction" sebelah kanan.

Yang mau galau badai menye-menye puitis ria, bisa klik label favorit gue "phoetic phrase".

Any comments are welcomed.... ^_^

Sunday, 15 March 2015

Pengemis dan Realita



Pengemis memang tidak bisa dihindari, kan?

Di setiap sudut kota, warung, emperan toko, bahkan yang berjalan dari rumah ke rumah, mereka semua ada, ikut berbaur bersama kita.

Kadang, aku berpikir, bolehkah kita memberi mereka? 

Banyak sekali pertimbangan kenapa harus memberi atau tidak. Kadang, mereka pura-pura berpenampilan seperti itu karena memang mereka ingin mendapat uang dengan cara instan. Di satu sisi, bagaimana kalau mereka benar-benar butuh bantuan?

Ada sebuah cerita dari teman. Ketika itu, ada bersih-bersih rumah kontrakan. Kerja bakti istilahnya. Dua orang adik kontrakan kebagian membersihkan jendela dan pintu bagian luar, beserta halaman depan termasuk rumput dan tanaman. Lalu, datang seorang ibu yang mengiba. Ibu itu meminta maaf kepada dua adik kontrakan itu dan meminta mereka membeli sebuah selimut, dengan alasan untuk membeli beras.

Tentu saja dua adik kontrakan menolak, karena bagaimanapun juga, itu terlihat mencurigakan. Mana tahu ibu itu penipu atau bukan?

Tapi, jawaban ibu itu membuat dua adik kontrakan menyesal. Apa jawabannya?

Alih-alih memaksa, ibu itu meminta maaf dengan wajah yang begitu malu (entah akting atau bukan), lalu pergi, membuat dua adik kontrakan menyesal telah menolak. Menurut dua adik kontrakan itu, si ibu benar-benar terlihat butuh pertolongan.

Lantas, yang jadi pertanyaan adalah, ini salah siapa?

Ketika ada seorang ibu menjual selimutnya untuk membeli beras (dan benar-benar sedang butuh beras), tetapi kita terlalu was-was takut ditipu, lantas, siapa yang salah?
Kita, 
atau penipu yang pura-pura mengiba?


Lalu, ada lagi sebuah ceritaku sendiri.

Malam itu, sepulang dari mengerjakan proyek buku dari rumah dosen, aku melintasi jalan samping FT UNY dan mendapati seorang bapak renta duduk di trotoar. Tampak kumal sekali. 

Aku yang saat itu baru saja mendapat bayaran gaji, lantas berbelok ke sebuah warung dan membeli sepaket makan malam, dengan tujuan memberi makan malam kepada bapak itu.

Setelah nasi lauk beserta es teh terbungkus, aku kembali ke tempat tadi. Bapak itu bersiap berdiri ketika aku mulai mendekat. Aku panggil, aku beri sepaket nasi itu dengan sangat pelan dan ramah. Tentu saja aku harus membuat alasan supaya tidak menyakiti hati si bapak. Aku katakan kalau sudah ada piket masak di kontrakan (dan memang ada, jadi aku tidak bohong). Jadi, nasi ini untuk bapak saja.

Di luar dugaan, bapak itu menolak halus. Aku tercenung. Aku paksa lagi, dengan alasan mubadzir kalau tidak dimakan sebab di kontrakan sudah ada piket masak. Tapi bapak itu lagi-lagi menolak. Aku sampai tidak bisa berkata-kata. Bahkan kami berdebat beberapa menit, mungkin malah lebih dari sepuluh menit hanya untuk memaksa si bapak menerima makan malam. Tapi tetap saja bapak itu menolak halus disertai seulas senyum terima kasih.

Aku yakin, bapak itu punya sekilas niat menerima karena beberapa kali aku lihat tangan si bapak seperti terangkat. Namun segera diurungkan. Atau langkah kakinya yang nyaris maju menerima, tapi segera ditahan.

Bapak itu bukan pengemis. Aku yakin si bapak butuh, namun dia terlalu malu untuk menerima.

Aku menyerah. 
Kuurungkan niatku memberi, lalu berjalan pulang. Di jalan, aku menangis sendiri. Kenapa bapak itu menolak? Apa karena caraku terlalu kurang ajar? Apa aku menyakiti hati si bapak dengan memberinya makan malam seolah-olah menganggap dia fakir?

Lantas, apa ini salahku?

Ketika aku menolak memberi pengemis, entah pengemis itu benar-benar miskin atau cuma pemalas, salahkan aku?

Atau ketika aku berniat memberi fakir, tapi malah ditolak dan menjadikanku ketakutan jika melukai perasaan mereka, salahkah aku?

Jadi, siapa yang salah?

Bisakah para pemalas-pemalas itu pergi saja dari dunia ini supaya kita tahu mana yang benar-benar fakir dan mana yang benar-benar pemalas?



Lantas, aku ceritakan semua pada ayahku. Termasuk aku yang menangis karena ditolak seorang fakir.
Jawaban ayah lagi-lagi di luar dugaan.

"Kau tidak bisa menangisi mereka. Itu salah mereka sendiri."

Helowh? Apa kupingku salah dengar?
Lalu serentetan kalimat muncul dari seberang telepon, suara ayah.

Semakin lama aku mencerna alasan ayah, semakin aku mengerti jalan pikiran ayah.
Ayah berkata seperti itu bukan karena dia tak punya hati.

Lihatlah, ada ribuan orang miskin, bahkan jutaan. Kita tidak bisa hidup hanya dengan menangisi mereka. Mereka mendapat keadaan itu karena ada dua kemungkinan. Pertama, itu tergantung usaha mereka di masa lalu. Kedua, Tuhan memang menakdirkan mereka untuk itu.

Jadi, kita tak perlu menangisi setiap orang miskin di muka bumi, kan?
Setiap akibat diawali oleh sebab.

Kita boleh membantu mereka, tapi hati kita juga tidak boleh terlalu melankolis.
Kan?



Well, setiap orang punya jalan yang mereka pilih.
Adapun tempat tujuan akhir, tergantung jalan yang telah mereka pilih.

Termasuk para pemalas yang menipu itu.
Mereka sama saja menganiaya para fakir yang benar-benar miskin. Sebab, karena aksi minta-minta para pemalas itu, orang yang benar-benar butuh pertolongan menjadi dicurigai.

Antara realita dan rekayasa, who knows?
Yang jelas, kita tidak bisa menangisi mereka.




Barat Taman Rektorat UNY
Yogyakarta, 15 Maret 2015
14.23 WIB



Monday, 23 February 2015

Being Somebody






There are many people out there. It means that you are not alone. You are a person who lives with them, right? You are a part of this universe, blending with so many colors of people. This color, that color, or this kind of color. You are a part of this universe. But sometimes, it makes you stressed because you feel that you are nobody between them, between all this kind of things which make the universe exists.
You are nobody. Of course, sometimes, I feel it, too. We are nobody. But, is it true that we can’t be somebody?
When you feel that you are nobody, why don’t you go out there to look with your own eyes, what actually the meaning of being somebody is?
See, the cat, the cart, the bottle, the wheels, the horse, the money, or the food. Maybe, they know about being somebody better than you. For them, being somebody can be done everywhere, at anytime. At least, they know how to make people useful.
Being nobody that makes you stressed is not the end of the world. If you think that you are nobody, or being somebody who can’t be useful, why don’t you make yourself useful for particular people out there? If it’s too difficult for particular people, at least, try to be useful for particular things.
Let’s take the examples.
There are many people who are stressed like you. They need help, they need motivation, they need spirit, they need money, they need food, they need smile, they need an umbrella, they need a ride, they need a hand, they need love, and they need to laugh. They are just like you who are stressed by the life, because bad day can happen in everywhere, at anytime.
Why don’t you try to be somebody for one of them? In the end, you will be somebody for somebody else, even for a hungry abandoned cat.


Yogyakarta, February 21, 2015
22.23 WIB
Room 5 of beloved Aspi Jogja






https://ptrmans.files.wordpress.com/2014/07/alone-in-a-crowd.jpg





Thursday, 11 December 2014

My 8401th day



Pukul 00.02 WIB....

Seandainya manusia bisa merasakan, hidup itu begitu cepat berlalu. Tak akan terasa ketika kita sudah melewati lima tahun, sepuluh tahun, lima belas tahun, dua puluh tahun.... Semua begitu cepat berlalu.

Memang, dunia itu sesingkat usia capung. Ibarat pepatah Jawa, mampir ngombe. Dunia ini, hanyalah persinggahan singkat kita sebelum dunia nyata yang pada akhirnya akan menentukan kita, surga atau neraka.

Dua itu, teman-teman. SURGA, atau NERAKA.

Ah, masih muda ngapain mikirin mati?

Well, mati muda, siapa tahu?
Mungkin kita adalah salah satu anggota daftar malaikat maut yang tergolong mati muda. Ampun, saya masih ada hutang puasa enam hari. Ho ho, sebaiknya segera cepat dilunasi. Insya Allah minggu ini saya cicil.



(to be continued)




01.46 WIB

Aaaaaak . . . . Pengen teriaaaaaaaak!

Tau nggak apa yang baru aja terjadi pas tak tinggal ngetik sejak jam 00.02 tadi?

Jadi gini ceritanya.
Pas aku ngetik paragraf-paragraf paling atas itu, tiba-tiba ada bisikan aneh dari jendela kamar. Kamarku yang deket jalan, otomatis gampang banget jadi target iseng orang-orang. Apalagi tengah malam begini. Siapa tahu pas aku ngecek buka jendela, Mbak Kunti atau Mas Pocong muncul mendadak.

Aku pasang telinga, menghentikan aktivitas menulis barang sejenak. Siapa itu?
Suara bisikan dan sat sut sat sut terus terdengar. Enha, teman kamar samping sempet berbisik lewat balik tembok, "Siapa itu, mbak?"

"Nggak tau, En."

Akhirnya setelah didengar lebih lanjut, ada panggilan memanggil namaku, "Mbak Fatya."

Deg.
Aku melebarkan mata. Suara itu begitu aku kenal. Itu suara kan milik....

"Mbak, ada yang manggil kamu deh kayaknya." seorang adik kos yang masih begadang ngintip masuk ke kamar.

Astaga. Jangan-jangan yang di luar itu.... Oh my God, it's raining!

Bergegas aku jenggiratan, menyambar apa saja pakaian panjang secepatnya untuk segera keluar. Akhirnya aku hanya pakai coat yang panjangnya sebetis dan jilbab langsungan. Well, sudah malam, tak ada yang bakal lihat.

Begitu pintu luar kebuka....

Seorang perempuan berambut panjang berdiri di bawah pohon beringin lampu depan pintu masuk, sambil pegang kue ulang tahun dan kado warna biru.

That's Dykaaa!

Oh my God!

Aku langsung berhambur ke sana, memeluknya.
Teriak dalam hati karena emang nggak bisa ngomong saking shock.
Teriak dalam hati terus menerus. It's midnight, it's raining, and you're coming?

Thank you so much, Dyka.
I love you.
:')

This is my first time receiving midnight surprised. I never have received one midnight surprised before.


Dan kami ngobrol selama hampir dua jam, di depan rumah disertai hujan rintik-rintik.

Makasih, Dyka.
I have no words to be said. 
But I know, you feel what I feel even though I cannot explain it.

I really love this.

And, how do you know that I need a woman bag?
It will be useful for my future. I have planned to buy one since several month ago, but still not have enough money to buy one.

Thank you.
:)





With love,

Fatyana Rach



*note: kapan-kapan gue minta foto yang tadi
XD





Yogyakarta, 11 Desember 2014
02.20 WIB






Sunday, 7 December 2014

Suara-suara




Apa yang keluar dari mulut orang-orang sekitar, adalah suara, kan? Hanya salah satu jenis suara yang bertebaran di muka bumi. Kita tak perlu menyimpannya dalam hati hingga terluka sedemikian parah, hanya karena salah satu jenis suara itu.

Sekali lagi, itu hanya salah satu jenis suara, sama seperti suara kendaraan, suara hujan, suara dangdut di warung-warung, suara terompet tahun baru, atau suara para penjaja koran di lampu merah. Orang-orang yang bercuap-cuap tentang kita, hanyalah mengeluarkan salah satu jenis suara di muka bumi ini lewat mulut mereka.

Kita tak perlu terluka karena suara-suara itu.
Mari nikmati suara mereka sebagai kekayaan suara dunia ini.


(Ditulis oleh Fatyana Rachma Saputri, dengan mata merah dan hidung meler karena pilek. Lalu segera sms bapak, sumber ketenangan saat sedang terluka. Kemudian beristighfar.)



Beberapa sms bapak kemudian membuatku tersenyum dengan tawa kecil.



Thanks mom & dad, you always make me smile.
:)
Love U



"Of course. Good and bad are everywhere."



Buat yang di sana,
*u** your messages and your calls!
I do not want to receive them anymore!
You know nothing about me.
Bye, old man!





Yogyakarta, 7 Desember 2014
22.23 WIB


Monday, 3 November 2014

Dyka's Birthday



Oke guys, balik lagi sama guweh. Setelah postingan sebelum ini melow drama total bikin galau mau gantung diri, sekarang gilirannya cerah ceria membabi buta mau jingkrak-jingkrak bahagia, biar hidup nggak ngenes mikirin takdir dan skripsi. Ha ha ha!

Kali ini ada bahan m̶a̶k̶a̶n̶a̶n̶ tulisan.
Bulan kemarin Dyka ulang tahun tanggalnya g̶u̶e̶ ̶l̶u̶p̶a̶ 24 Oktober. Makin tua. Syukur deh tambah tua. Kalo tambah muda malah gue ketakutan.

Kadonya udah tak rencanain beberapa bulan lalu. Ini pertama kalinya aku beli kado buat Dyka. Lagi punya duit soalnya. Wkwkwk....

Beli cushion deket ring road Condong Catur. Udah biasa beli di situ. Si Dai-chan belinya dulu juga di situ. Tau Dai-chan, kan? Itu lho boneka bear kuning unyu yang suka g̶a̶n̶t̶u̶n̶g̶ ̶d̶i̶r̶i̶ gantungan di tas akyu.


Dai-chan tercintaaa....


Akhirnya dapet deh Rilakuma. Sekitar dua minggu sebelum birthday Dyka. 

Rabu tanggal 22 Oktober 2014, Dyka ternyata mau mudik pulang. Langsung aku cegat kepulangannya. Enak aja, aku beli kado dua minggu lalu tapi ngasihnya telat. Setelah serah terima m̶a̶h̶a̶r̶ ̶k̶a̶w̶i̶n̶ bingkisan, Dyka pamit dan aku mewanti-wanti dia nggak boleh buka itu kado sebelum lewat tanggal ultahnya.

Selesaaai....

Eh, belum. Masih ada traktirannya Dyka. Tanggal 27 Oktober Dyka dah di Jogja. Kita ke WS dan dia yang d̶i̶p̶e̶r̶a̶s̶ nge-boss-in.

XD


Thank you.
<3




Yogyakarta, 3 November 2014
21.51 WIB