Ini tentangku, tentangmu, dan tentang mereka.... Tetes-tetes hujan di setiap sisa ujung hari sengaja aku tampung pada sebuah cawan di sini. Kelak ketika aku, kau, atau kalian lupa, kita bisa menengok dan berkaca pada pantulan air di secawan tetes hujan ini.
Yang mau nyari fan fiction, bisa klik label "fan fiction" sebelah kanan.

Yang mau galau badai menye-menye puitis ria, bisa klik label favorit gue "phoetic phrase".

Any comments are welcomed.... ^_^

Thursday, 11 December 2014

My 8401th day



Pukul 00.02 WIB....

Seandainya manusia bisa merasakan, hidup itu begitu cepat berlalu. Tak akan terasa ketika kita sudah melewati lima tahun, sepuluh tahun, lima belas tahun, dua puluh tahun.... Semua begitu cepat berlalu.

Memang, dunia itu sesingkat usia capung. Ibarat pepatah Jawa, mampir ngombe. Dunia ini, hanyalah persinggahan singkat kita sebelum dunia nyata yang pada akhirnya akan menentukan kita, surga atau neraka.

Dua itu, teman-teman. SURGA, atau NERAKA.

Ah, masih muda ngapain mikirin mati?

Well, mati muda, siapa tahu?
Mungkin kita adalah salah satu anggota daftar malaikat maut yang tergolong mati muda. Ampun, saya masih ada hutang puasa enam hari. Ho ho, sebaiknya segera cepat dilunasi. Insya Allah minggu ini saya cicil.



(to be continued)




01.46 WIB

Aaaaaak . . . . Pengen teriaaaaaaaak!

Tau nggak apa yang baru aja terjadi pas tak tinggal ngetik sejak jam 00.02 tadi?

Jadi gini ceritanya.
Pas aku ngetik paragraf-paragraf paling atas itu, tiba-tiba ada bisikan aneh dari jendela kamar. Kamarku yang deket jalan, otomatis gampang banget jadi target iseng orang-orang. Apalagi tengah malam begini. Siapa tahu pas aku ngecek buka jendela, Mbak Kunti atau Mas Pocong muncul mendadak.

Aku pasang telinga, menghentikan aktivitas menulis barang sejenak. Siapa itu?
Suara bisikan dan sat sut sat sut terus terdengar. Enha, teman kamar samping sempet berbisik lewat balik tembok, "Siapa itu, mbak?"

"Nggak tau, En."

Akhirnya setelah didengar lebih lanjut, ada panggilan memanggil namaku, "Mbak Fatya."

Deg.
Aku melebarkan mata. Suara itu begitu aku kenal. Itu suara kan milik....

"Mbak, ada yang manggil kamu deh kayaknya." seorang adik kos yang masih begadang ngintip masuk ke kamar.

Astaga. Jangan-jangan yang di luar itu.... Oh my God, it's raining!

Bergegas aku jenggiratan, menyambar apa saja pakaian panjang secepatnya untuk segera keluar. Akhirnya aku hanya pakai coat yang panjangnya sebetis dan jilbab langsungan. Well, sudah malam, tak ada yang bakal lihat.

Begitu pintu luar kebuka....

Seorang perempuan berambut panjang berdiri di bawah pohon beringin lampu depan pintu masuk, sambil pegang kue ulang tahun dan kado warna biru.

That's Dykaaa!

Oh my God!

Aku langsung berhambur ke sana, memeluknya.
Teriak dalam hati karena emang nggak bisa ngomong saking shock.
Teriak dalam hati terus menerus. It's midnight, it's raining, and you're coming?

Thank you so much, Dyka.
I love you.
:')

This is my first time receiving midnight surprised. I never have received one midnight surprised before.


Dan kami ngobrol selama hampir dua jam, di depan rumah disertai hujan rintik-rintik.

Makasih, Dyka.
I have no words to be said. 
But I know, you feel what I feel even though I cannot explain it.

I really love this.

And, how do you know that I need a woman bag?
It will be useful for my future. I have planned to buy one since several month ago, but still not have enough money to buy one.

Thank you.
:)





With love,

Fatyana Rach



*note: kapan-kapan gue minta foto yang tadi
XD





Yogyakarta, 11 Desember 2014
02.20 WIB






Sunday, 7 December 2014

Suara-suara




Apa yang keluar dari mulut orang-orang sekitar, adalah suara, kan? Hanya salah satu jenis suara yang bertebaran di muka bumi. Kita tak perlu menyimpannya dalam hati hingga terluka sedemikian parah, hanya karena salah satu jenis suara itu.

Sekali lagi, itu hanya salah satu jenis suara, sama seperti suara kendaraan, suara hujan, suara dangdut di warung-warung, suara terompet tahun baru, atau suara para penjaja koran di lampu merah. Orang-orang yang bercuap-cuap tentang kita, hanyalah mengeluarkan salah satu jenis suara di muka bumi ini lewat mulut mereka.

Kita tak perlu terluka karena suara-suara itu.
Mari nikmati suara mereka sebagai kekayaan suara dunia ini.


(Ditulis oleh Fatyana Rachma Saputri, dengan mata merah dan hidung meler karena pilek. Lalu segera sms bapak, sumber ketenangan saat sedang terluka. Kemudian beristighfar.)



Beberapa sms bapak kemudian membuatku tersenyum dengan tawa kecil.



Thanks mom & dad, you always make me smile.
:)
Love U



"Of course. Good and bad are everywhere."



Buat yang di sana,
*u** your messages and your calls!
I do not want to receive them anymore!
You know nothing about me.
Bye, old man!





Yogyakarta, 7 Desember 2014
22.23 WIB


Monday, 3 November 2014

Dyka's Birthday



Oke guys, balik lagi sama guweh. Setelah postingan sebelum ini melow drama total bikin galau mau gantung diri, sekarang gilirannya cerah ceria membabi buta mau jingkrak-jingkrak bahagia, biar hidup nggak ngenes mikirin takdir dan skripsi. Ha ha ha!

Kali ini ada bahan m̶a̶k̶a̶n̶a̶n̶ tulisan.
Bulan kemarin Dyka ulang tahun tanggalnya g̶u̶e̶ ̶l̶u̶p̶a̶ 24 Oktober. Makin tua. Syukur deh tambah tua. Kalo tambah muda malah gue ketakutan.

Kadonya udah tak rencanain beberapa bulan lalu. Ini pertama kalinya aku beli kado buat Dyka. Lagi punya duit soalnya. Wkwkwk....

Beli cushion deket ring road Condong Catur. Udah biasa beli di situ. Si Dai-chan belinya dulu juga di situ. Tau Dai-chan, kan? Itu lho boneka bear kuning unyu yang suka g̶a̶n̶t̶u̶n̶g̶ ̶d̶i̶r̶i̶ gantungan di tas akyu.


Dai-chan tercintaaa....


Akhirnya dapet deh Rilakuma. Sekitar dua minggu sebelum birthday Dyka. 

Rabu tanggal 22 Oktober 2014, Dyka ternyata mau mudik pulang. Langsung aku cegat kepulangannya. Enak aja, aku beli kado dua minggu lalu tapi ngasihnya telat. Setelah serah terima m̶a̶h̶a̶r̶ ̶k̶a̶w̶i̶n̶ bingkisan, Dyka pamit dan aku mewanti-wanti dia nggak boleh buka itu kado sebelum lewat tanggal ultahnya.

Selesaaai....

Eh, belum. Masih ada traktirannya Dyka. Tanggal 27 Oktober Dyka dah di Jogja. Kita ke WS dan dia yang d̶i̶p̶e̶r̶a̶s̶ nge-boss-in.

XD


Thank you.
<3




Yogyakarta, 3 November 2014
21.51 WIB




Detik dan Waktu #2




Terlalu lama. 

Apa kau tahu bagaimana waktu mempertemukan kita kelak? Atau bahkan tidak mempertemukan sama sekali. Waktu begitu egois. Berlalu dengan sangat cepat tanpa tahu kita sudah menua sedemikian parah. Terlalu cepat, sampai kita tidak sadar bahwa kita sudah berada di ujung detik penantian panjang, yang mungkin akan diakhiri dengan segera.

Tuhan....
Bisakah waktu menjadi karet? Bukan jam karet bermakna molor seperti kata kebanyakan orang. Aku hanya ingin waktu lebih panjang untuk menyiapkan, tanpa takut kehilangan.

Seperti kata-kataku di masa lalu tentang Detik dan Waktu. Kau tahu detik dan waktu? Mereka diciptakan untuk mempertemukan dan memisahkan. Seperti ilalang yang tumbuh muda dan bertemu belalang. Lalu suatu ketika salah satu dari mereka harus pergi... atau keduanya harus pergi. Kemudian detik dan waktu kembali mempertemukan yang lain. Untuk dipisahkan.



Pada akhirnya, aku ketakutan akan melupakan bagaimana senyum di wajahmu itu ada.





Yogyakarta, 3 November 2014
20.10 WIB



Tuesday, 28 October 2014

Gaya Bahasa: Formal dan Informal




*note
Tulisan ini tidak mengarah ke suatu pihak. Ini murni saya tulis untuk semua. Jadi tidak untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu. Kalaupun gaya bahasa saya kesannya seperti mengarah ke pihak tertentu, maka itu hanyalah sebatas gaya menulis saya biar lebih komunikatif sama pembaca. Ho ho.... XD

Mari saling belajar.





Mana yang kamu pilih?
Permintaan formal atau tak formal?


Saya harap malam ini anda jangan tidur dulu. Ada yang harus diselesaikan malam ini juga. Kemungkinan saya bisa ke sana sekitar jam 10an.


Atau yang ini....


Nanti jangan tidur dulu, ya. Ada hal kecil yang mau diselesaikan sebentar. Cuma hal kecil aja, kok. Ndak papa kan kalo nunda tidur sebentar sampai jam 10an nanti?


Pilih yang mana?
Lebih enak bahasanya yang kedua, kan?

Entah ini bahasa cowok kurang gaul atau emang sengaja biar terdengar serius, tetep aja yang pertama bikin males pol. Begitu baca isi pesan saja langsung hati tak tenang karena merasa was-was. Apalagi kalau kesannya membuat sesuatu itu begitu "waow" dan "sangat penting" dan "sangat urgent" dan begitu "bahaya". Paling tidak, untuk menenangkan si penerima, tambahin kata "ada hal kecil" atau "hal sederhana" yang mau diselesaikan "sebentar". Biar si penerima pesan tenang. Coba kalau si penerima punya penyakit jantung atau darah tinggi. Mau jadi penyiksa batin orang?
-___-"



Hampir semua orang memilih tempat nyaman, kan? Kalau kau saja tak bisa membuat orang nyaman dengan dirimu, bagaimana mungkin orang-orang akan terbuka dan menyambut hangat sosokmu?

Mas, pak, om, atau apalah. Ganti susunan kata-kata anda selama ini ketika sedang berkomunikasi dengan orang lain. Buat orang lain nyaman dengan sosokmu kalau tak ingin orang-orang menutup diri darimu.

You do not want to make other people feel irritated by you, right?

Bukan kau saja.
Tapi kita.
Kita semua.

Karena pesan yang akan disampaikan, bisa bermakna berbeda jika tak tepat dalam menggunakan bahasa.

At least, pelajari bahasa-bahasa hangat yang membuat orang merasa nyaman dan tenang. Apapun itu. Kita bukan sosok penyebar ancaman, kan? Meskipun aku tahu kau tak berminat mengancam.





Yogyakarta, 28 Oktober 2014
21.06 WIB
Di kamar nomor 5 aspi, setelah menerima sms "teror" yang membuat ide cerita ini muncul
:)