Ini tentangku, tentangmu, dan tentang mereka.... Tetes-tetes hujan di setiap sisa ujung hari sengaja aku tampung pada sebuah cawan di sini. Kelak ketika aku, kau, atau kalian lupa, kita bisa menengok dan berkaca pada pantulan air di secawan tetes hujan ini.
Yang mau nyari fan fiction, bisa klik label "fan fiction" sebelah kanan.

Yang mau galau badai menye-menye puitis ria, bisa klik label favorit gue "phoetic phrase".

Any comments are welcomed.... ^_^

Saturday, 2 April 2016

Hampir 365 Hari Berlari



Tulisan ini tergabung dalam Antologi Batch 1 2016 LPDP yang sedang dalam proses pembuatan. Saya ikut tergabung di tim ilustrator dan layouter. Tulisan ini saya post di blog, selain untuk memotivasi juga untuk promosi Antologi Batch 1 2016 LPDP. Selamat membaca, semoga memberi semangat dan inspirasi.





Hampir 365 Hari Berlari
Oleh Fatyana Rachma Saputri



Sepuluh tahun lalu di bangku putih biru
Jenjang itu adalah sebuah bayangan
Yang bahkan menghilang karena cahaya terlalu menyilaukan
Terlalu terang hingga mata terpejam
Dan tak berniat mendongak melihatnya


Di bangku SMP, cita-cita saya adalah menjadi guru bahasa Inggris. Berpikir tentang menyelesaikan gelar S.Pd saja sudah alhamdulillah. Mimpi menjadi guru Bahasa Inggris mengantar saya masuk ke jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Yogyakarta lewat jalur tanpa tes. Di tempat itulah saya bertemu banyak teman dan dosen-dosen yang menginspirasi.
Beberapa teman dan dosen pergi ke luar negeri untuk pertukaran mahasiswa atau presentasi karya. Di kelas, tak jarang dosen-dosen bercerita tentang study abroad. Melihat foto tempat-tempat luar nusantara, mimpi itu begitu nyata di depan mata. Ditambah lagi, saya belajar banyak lewat cerita-cerita inspiratif dunia pendidikan Indonesia lewat diskusi di kelas-kelas. Semua itu membuat saya ingin melakukan sesuatu. Sesuatu yang lebih luas cakupannya. Perlahan-lahan, cita-cita saya berubah dari guru menjadi dosen.
Di bangku kuliah, berbagai beasiswa mulai dikenal. Belum pernah sekalipun saya mendapat beasiswa meski sudah apply setiap tahun beasiswa PPA-BBM. Menjelang lulus kuliah, BPI yang dikelola LPDP terdengar di telinga. Beberapa teman lolos beasiswa tersebut, mengambil studi luar negeri. Teman-teman lain ikut termotivasi. Maka, kami sering berkumpul membicarakan persiapan-persiapan beasiswa meskipun belum lulus kuliah.
Waktu tak mau berkompromi. Kami juga harus cepat. Sedikit demi sedikit, skripsi selesai. Di saat yang bersamaan, kami juga mulai belajar bahasa Inggris untuk memperbaiki TOEFL maupun IELTS. Semua butuh persiapan matang. Saya pun rajin membaca maupun mendengarkan berita online bahasa Inggris. Tak jarang, saya bertukar software pelatihan bahasa dengan teman-teman. Saya bahkan ikut simulasi TOELF sebanyak kurang lebih tiga kali, sebelum benar-benar mengambil TOEFL yang diakui.
Skripsi selesai dan bersiap yudisium. Beberapa dari kami mulai membidik universitas tujuan. Mendatangi setiap Education Fair adalah wajib hukumnya. Sebelum lulus pun kami rajin mendatangi Education Fair, tak peduli antrean sepanjang rel kereta. Di sana, kami memanfaatkan stand-stand universitas untuk mendapat informasi semaksimal mungkin.
Sembari mencari universitas tujuan, saya persiapkan segala persyaratan seperti surat rekomendasi, tes kesehatan, SKCK, dan lain sebagainya. Saya tulis semua sertifikat organisasi, seminar, workshop, kepanitiaan, dan segala macam data pendukung. Bahkan untuk benar-benar matang supaya tak terlewat, saya membutuhkan waktu kurang lebih dua bulan merangkum semua. Tujuan saya satu, supaya semua terangkum dan tidak tercecer. Saya rajin memilah-milah kembali mana yang menjadi kekuatan saya. Apa yang bisa saya lakukan untuk masa depan Indonesia.
Lalu saya merancang essay sambil terus memantau peraturan LPDP yang selalu diperbaiki. Bahkan essay ditulis ulang lebih dari tiga kali. Saya berdiskusi pada teman atau dosen tentang bagaimana cara menulis essay yang benar. Laptop menjadi saksi bisu tentang banyaknya draft essay yang telah saya tulis.
Apa kekuatan saya? Mimpi saya? Kontribusi saya? Tujuan saya? Rencana saya?
Saya dapatkan jawaban tentang masa depan Indonesia seperti apa yang ingin saya kontribusikan, setelah merenung selama kurang lebih tiga bulan.
Hal pertama yang saya lakukan adalah berkaca pada diri sendiri. Apa yang saya punya? Kekuatan macam apa yang bermanfaat bagi Indonesia? Kenapa harus mengambil uang rakyat untuk membiayai pendidikan lanjut saya? Dalam bentuk apa semua uang pendidikan ini saya balas nanti?
Saya benar-benar berkaca pada diri sendiri.
Akhirnya saya paham, saya tidak perlu ambil universitas luar negeri. Keputusan mengambil universitas dalam negeri benar-benar matang dan sesuai kebutuhan saya. Awalnya saya ingin apply di Batch 4 2015. Namun saya masih merasa ada yang harus diperbaiki pada mental saya. Maka saya undur dan memutuskan ikut Batch 1 2016.
Saya lengkapi semua persyaratan, mendaftar, dan berdoa sambil cemas-cemas menunggu. Tuhan memberi jawaban lewat sebuah e-mail hari itu. Saya lolos administrasi.
Menuju proses wawancara, saya banyak persiapan. Rajin membaca berita, rajin bercermin untuk latihan wawancara, sampai-sampai memberitahu bapak ibu supaya tidak menganggap saya gila karena berbicara sendiri. He he....
Pada 10 Maret 2016, semua kerja keras selama hampir satu tahun persiapan terjawab sudah. Saya lolos. Dan saya menangis malam itu di pelukan ibu. Di hadapan ayah.
Untuk perjuangan hampir 365 hari menabur mimpi, menapak terjalnya jalan, saya diberi amanah oleh Indonesia. Di atas kaki-kaki kita nantilah Indonesia dipanggul pundak.



Gemolong, Sragen, 21 Maret 2016
15.54 WIB
Di antara gerimis yang bertempias lewat jendela.






Saturday, 13 February 2016

Museum dan Aku





Apa salahnya dengan museum?
Meski ada banyak orang bilang bahwa museum adalah sebuah dunia membosankan, saya sungguh mencintainya.

Sejak mengenal Sangiran lebih dari sepuluh tahun lalu, saya jadi cinta museum. Seperti masuk dunia lain. Seperti kembali ke masa lalu. Pernah saya mengunjungi Museum Affandi Yogyakarta. Di depan sebuah lukisan pohon, tiba-tiba mata saya pedih dan meneteskan air mata. Dalam sorot lampu kekuningan ala museum, saya hayati cerita tersembunyi di setiap bingkainya.


Atau ketika mengunjungi Monumen Jogja Kembali, pada patung diorama pertama, dada sesak melihat adegan perang. Diorama kedua, mata pedih. Diorama ketiga, mata basah.

Apa salahnya menangis ketika berada di dunia lain? Toh, tak akan ada yang melihat. Karena tempat itu sepi peminat. Kalaupun ada, tak seramai wisata alam di luar sana, yang katanya pada cinta alam tapi buang sampah semena udel masing-masing.

Dua jam bagi saya di museum hanya terasa dua menit.








Solo Grand Mall, 11 Februari 2016
16:26 WIB


Tuesday, 9 February 2016

The Kids and What Life is





Saya sedang di warnet umum tanpa bilik. Sehingga layar komputer samping kanan kiri kelihatan. Di sebelah kanan, segerombol anak laki-laki usia pertengahan SD sibuk main game. Setelah bosan game, mereka buka facebook. Mereka stalking teman-temannya, lalu di timeline banyak sekali foto orang-orang, kebanyakan teman-teman perempuan mereka. Mereka browsing kalimat mutiara tentang cinta untuk ditulis dan dipost ulang ke timeline facebook.

Benar. Kalimat mutiara tentang cinta, saudara-saudara! Seperti samar saya dengar barusan, “Meskipun kau mencintai orang lain, tapi aku tetap cinta.”

Duh, gusti. Mereka pipis saja belum lurus, sudah bicara tentang cinta.

Indeed, our kids should be taught about what LIFE is.
Life is hard, sweetheart. Life is NOT ONLY about love. Life is about how to live.
The kids must try hard, play as hard as they try, get a proper live, and find the one they love.




Rental Komputer dan Warnet Hidayah, Gemolong, 9 Februari 2016
15:14 WIB



Temanku dan Anjing-anjing yang Ditemuinya di Jalan



Suatu hari, aku membuka facebook dan di timeline kutemukan sebuah post yang dipublish seorang teman dekat. Namanya Anindyka Sekar Trisnasih. Tertangal 2 Februari 2016.

Awalnya aku tidak begitu tertarik. Tapi paragraf pertamanya menarik. Aku iseng baca satu kalimat. Ternyata tak bisa berhenti di kalimat pertama. Mataku terus memindai paragraf demi paragraf berupa cerita sepulangnya ia dari kampus.

Setelah selesai membaca, aku terdiam agak lama. Termenung/ Lantas menghela napas. Detik selanjutnya, kembali melakukan aktivitasku yang tadi sempat terhenti. Ceritanya terlupakan begitu saja.

Hari berikutnya, aku membuka facebook lagi dan kudapati Anindyka menge-post satu tulisan lagi, yang sepertinya punya korelasi dengan post sebelumnya. Aku baca, penasaran apa yang ia tulis dan bagaimana kelanjutan kisahnya.

Selesai membaca, lagi-lagi aku terdiam. Kali ini terdiam lebih lama. Termenung lebih lama. Dan dada lebih sesak dari sebelumnya.

Mendadak, kepalaku teringat Loo, kucing yang sekitar dua bulan lalu dibungkus di karung dan dibuang di depan rumah tetangga. Pemiliknya entah siapa. Lalu teringat Sniff, kucing liar yang ditemukan ayahku beberapa minggu lalu di kebun, seberang jalan, yang sama sekali tidak ada sumber makanan di sana.

Astaga ya Tuhan....
Bukankah Tuhan selalu menyuruh manusia berkasih sayang pada semua makhluk ciptaan-Nya? Termasuk binatang malang sekecil apapun. Setakberdaya apapun.

Kali ini, setelah aku izin dengan Anindyka untuk repost tulisannya, aku ceritakan kisah seekor anjing dan satu temannya padamu. Semoga, yang berkunjung ke tulisan ini adalah orang-orang yang tergerak hatinya untuk melindungi hewan.




Rental Komputer dan Warnet Hidayah, Gemolong, 9 Februari 2016
14:19 WIB






Post 2 Februari 2016, 11:29 WIB


Berusan ngeliat pemandangan yang miris dan bikin nangis.

Balik ke kos dari kampus, lewat jalan yang bukan biasanya. Muter-muter di daerah Seturan, Yogyakarta.

Pas masuk gang kecil ngeliat ada anjing dirantai. Kupikir wajarlah, tapi pas ngeliat dari dekat kaget bukan main..!! Itu anjing Siberian Husky! Dengan kondisi badan yang tinggal tulang dan kulit. Bahkan bisa keliatan jelas tulangnya menonjol semua. Kurus parah. Lebih kagetnya lagi, dari punggung sampai area pantat warnanya ungu. Entahlah kenapa bisa begitu. Mungkin dicat atau apa. Tapi nggak bisa dipungkiri itu anjing dalam kondisi yang tidak baik dan sehat. Dia ditelantarkan begitu saja. Nggak mungkin anjing bisa sampai sekurus itu. Bahkan lebih kurus daripada anjing dijalan yang biasa terlihat dipinggiran jalan Babarsari.

Syok, iya pasti. Pengen banget nemuin pemiliknya dan tanya kenapa si husky bisa sampai gitu. Muka sayu, kurus kering, dan bulunya sepertinya rontok parah. Pengen tanya tapi takut pemiliknya tersinggung dan marah. Tapi hati nggak kuasa pengen protes kenapa si husky bisa sekurus itu..!! Dia anjing rumahan, tapi ditali diluar pagar. Pengen adopt tapi udah ada 2 pom di kos. Sekarang nggak tau harus gimana. Butuh bantuan dan saran banget. Apa ada shelter, animal defender, ataupun regu penyelamat binatang yang mau bertandang ke rumah si pemilik dan menanyakan kondisi anjingnya? Please... Kasihan sekali. Tolongin anjing itu

Yang terakhir, pengen bilang ke kalian semua. Kalau kalian punya binatang peliharaan, baik anjing, kucing, kelinci, ikan, burung, bahkan satwa ekstrim seperti ular dll, dijaga dan dipelihara sebaik mungkin. Jangan ditelantarkan dan ditinggal ketika mereka sudah tua. Jangan pernah memutuskan untuk mempunyai binatang peliharaan ketika kamu tidak yakin akan sanggup mengasihi, menjaga, merawat, dan memelihara mereka layaknya bagian dari keluarga..!

Ini teguran untuk siapapun.









Post 6 Februari 2016, 18:29 WIB


Inget husky yang kapan hari saya ceritakan? Well, ternyata ada dua. Dengan kondisi yang tidak jauh beda. Jantan dan betina.

Dengan perasaan agak was-was akhirnya berani datang dan lewat ke tempat si husky ditali. Dan ternyata ada pemiliknya. Si pemilik tinggal bersama 2 saudaranya. Saya minta ijin untuk melihat. Puji Tuhan diijinkan.

Sesuai dugaan, bulu rontok parah, caplak dan semua jenis kutu menyebar rata di badan dua husky ini.

Saya hampir menangis ketika melihat tulang-tulang yang menonjol di badan mereka.

Oke saya deskripsikan, mata sehat, bulu rontok, kurus, banyak kutu kemungkinan besar menyebabkan anemia, tulang besar, struktur bagus. Seandainya mereka sehat akan terlihat sangat gagah.

Saya tanya pada pemilik kenapa kondisi dua husky nya seperti itu, dia bilang kurus karena stres mau kawin tidak bisa. Well, saya kurang paham. Dua pom saya stres mau kawin, bulu rontok, tapi masih gembul-gembul saja. Tapi okelah, saya iyakan.

Saya tanya apa mereka sudah makan dan apa makannya. Dijawab sudah makan, dua kali sehari, dengan dogfood. Kebetulan saat itu ada dogfood di sepeda motor saya. Saya ambil dan saya berikan. Mereka makan dengan lahap. Saya juga tak lupa memberikan mereka air mineral yang saya bawa. Dan saat itu saya menangis. Mereka manja terhadap saya, sejauh ini komunikasi antara husky dan saya lancar, mereka percaya pada saya.

Hampir lupa, saya melihat dan menyaksikan sendiri pup si husky betina. Pup nya penuh darah dan berwarna hijau kebiruan. Saya yakin dia sakit.

Tak lama setelah itu saya pamit, dan meminta si pemilik membawa nya ke vet untuk diperikasakan. Kasihan. Meski tidak sakit namun paling tidak semua caplak dan kutu bisa dihilangkan. Setelah itu saya mendekati husky jantan dan betina dan mencium kepala mereka. Si pemilik sepertinya tau gerak-gerik saya dan tidak membalas kata pamitan saya. Salah satu dari saudaranya terlihat kurang suka juga dengan kedatangan saya.

Saya berharap suatu saat diijinkan lagi bertemu dengan mereka.
Perasaan lega sudah bertemu dengan mereka tapi sedih karena tidak bisa me-rescue mereka berdua. Hanya bisa berharap mereka sehat selalu dan berumur panjang.

Please human, siapapun kalian, apapun binatang peliharaan kalian, mereka punya hak untuk hidup dengan layak. Rawatlah mereka dengan baik supaya mereka bisa menemani kalian sampai tua. Jangan biarkan mereka kelaparan dan terlantar. Jika kalian sudah memutuskan mempunyai binatang peliharaan maka kalian harus bertanggung jawab atas hidup mereka.

God bless you

#dogsarenotfood














Wednesday, 3 February 2016

Gagap Bantuan



Ada suatu fenomena, ketika Indonesia dilanda bencana nasional, orang-orang akan serempak mengirim bantuan. Dikirim ke luar pulau. Meringankan beban korban bencana.

Tak salah memang. Itu bagus. Pertanyaannya adalah, seberapa sering kita mengirim bantuan? Apakah hanya karena orang-orang serempak mengirim bantuan, kita ikut-ikutan kirim?

Indonesia terlalu luas.
Terlalu luas, sampai kita mengirim bantuan ke luar pulau, merasa ikut menggalakkan Bhineka Tunggal Ika, sedangkan masih ada penduduk sekota yang butuh bantuan itu. Yang kadang mata kita terlalu silau hanya untuk sekadar melihat dan menyadari.

Indonesia terlalu luas, kawan. Terlalu luas jika mengirim bantuan hanya pada musim bencana nasional.



Gemolong, 3 Februari 2016
16.14 WIB


Tuesday, 26 January 2016

Wanita Tua Berkaos Kuning dan Bangku Kosong di Gerbong Kereta



Aku menyela waktu di antara perjalanan pulang menuju kampung halaman, untuk sekadar membuka laptop, menyalakan wi-fi gratisan di stasiun Solo Balapan, dan mengetik kisah perjalanan ini.

Seharusnya aku bisa langsung pulang sekarang. Aku sudah sampai di stasiun dan tinggal naik bus Raka Makmur jurusan Gemolong. Hanya saja, ada kisah menarik yang ingin aku sampaikan. Menarik. Karena memang benar-benar unik.

Pagi ini, tiket kereta Prameks di tanganku mengatakan bahwa kereta akan berangkat pukul 09.16. Aku bersiap ketika dari kejauhan Prameks datang. Bersama orang-orang, kakiku melangkah masuk ke gerbong. Tak ada bangku kosong. Semua penuh. Maka aku memutuskan berdiri. Biasa. Aku sudah terbiasa berdiri.

Lalu, seorang ibu berjilbab memanggilku, mengatakan bahwa ada satu bangku kosong di hadapannya agak serong ke samping. Perlu diingat bahwa letak bangku kereta adalah berhadapan. Masing-masing bangku bisa diduduki dua orang.

Aku dengan senyum terima kasih langsung menuju ke sana. Ada tiga orang. Si ibu yang memanggilku, seorang laki-laki tak jauh dari usiaku, serta seorang ibu berambut putih sebahu dengan kaos kuning.

Tak ada rasa curiga apa-apa. Seperti perjalananku yang lain, perjalanan ini pun sama. Ke kereta, bertemu banyak orang, sebagian menjadi kenalan singkat satu jam perjalanan.

Kereta mulai jalan. Aku menyamankan diri di bangku. Kami berempat duduk berhadapan. Lalu ibu tua berkaos kuning (yang bergambar partai tertentu) mulai berbicara.

"Tiap duduk kok depannya perempuan." Nada beliau bersungut-sungut, "Padahal aku nggak masalah kalau yang duduk di depan itu anggota polri atau TNI yang laki-laki. Tapi kok perempuan terus dapatnya."

Aku tersenyum ramah saja. Mengangguk sopan.

Well, tak ada hal aneh.

Aku lihat si ibu berkaos kuning selalu menutup hidung. Benar, aku mencium bau tak sedap. Aku ajak ngobrol saja si ibu dengan ramah seperti biasa.

"Sepertinya bagian sini agak bau ya, bu." kataku seraya menunjuk salah satu sisi kereta yang terlihat kotor. Ada semacam gumpalan di situ. Entah gumpalan apa, hitam menjijikkan.

Aku mengatakan ini karena aku punya tujuan. Yakni membuat ibu berkaos kuning itu nyaman dan yakin bahwa tidak hanya dirinya yang membaui tak sedap. Aku ingin ibu itu nyaman menutup hidung. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku setuju dengannya. Itu saja.

Tapi jawaban ibu terdengar ketus sekali.

"Masih untung kamu bsia naik kereta seperti ini."

Aku tertegun.
Sejenak, aku kagum dengan si ibu berkaos kuning. Wah, beliau bijak sekali meski penyampaiannya kasar.

Benar, kita masih beruntung disediakan fasilitas ini sehingga jarak Yogyakarta-Solo hanya perlu waktu satu jam. Tak lebih dari satu jam malah.

Aku mengiyakan, "Benar, bu. Bersyukur saja ya." kataku sambil tersenyum.
Well, Prameks termasuk salah satu fasilitas nyaman. Aku senantiasa memakai jasa transportasi ini sejak lima tahun lalu. Tak ada masalah. Pelayanan begitu baik. Bahkan Prameks sangat bersih. Baru kali ini aku menjumpai gerbong kereta yang ada gumpalan kecil warna hitam di jendela dan berbau tak sedap. Tapi tak apa. Ini masih termasuk pelayanan baik.

Si ibu berjilbab yang tadi memanggilku dan mas-mas di sampingku tak bereaksi apa-apa. Diam saja.

Aku nikmati saja perjalanan.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh. Aku layangkan pandangan ke ibu berkaos kuning. Beliau menatapku. Tak berkedip. Benar-benar menatap.

Kau tahu seperti apa wajah orang menatap sesuatu?
Tak berkedip. terus menatap. Tanpa rasa sungkan terus menatapku.

Aneh.
Merinding.
Tiba-tiba dari detik inilah aku merasa was-was.

Ada apa?
Apa ada yang salah denganku?

Aku melayangkan senyum termanisku. Teramahku. Sambil mengangguk sopan dengan harapan tatapan ibu itu hanyalah tatapan ingin bertegur sapa denganku. Aku balas tatapannya dengan senyum.

Tapi tatapan itu tak kunjung beralih. Beliau terus menatap. Layaknya film horor.

Tanpa sadar, aku mulai memindai penampilan ibu itu.

Ia berusia sekitar enam puluhan tahun.
Berkaos kuning milik partai tertentu dan terlihat lusuh. Aku yakin itu kaos gratisan yang dibagikan partaitersebut. Celananya pendek, celana kain biasa. Ada tas lusuh juga, terbuat dari anyaman tali plastik warna-warni yang biasa dipakai simbok-simbok ke pasar.

"Kalau nggak mau duduk di sini, duduk yang lain aja." kata beliau.
Aku menggeleng, "Tidak, bu. Saya nyaman di sini. Tidak apa-apa."

"Sana, tempat lain masih banyak."

Aku tak berniat pindah. Aku meyakinkan padanya bahwa aku baik-baik saja duduk di dekatnya.

"Nggak usah ngajak saja bicara." katanya lagi. Masih dengan tatapan mengerikan.

Aku tercenung. Kecurigaanku semakin terasa.
Bukannya mengatakan beliau aneh, tapi memang ada keanehan tersendiri dalam diri ibu itu.

Kau percaya insting?
Seperti itulah yang aku rasakan, bahwa ada yang tak beres dengan si ibu.

"Pergi saja, mbak. Pindah saja sana. Cari tempat duduk lain. masih banyak."

Aku melongo.
Sedangkan si ibu berjilbab dan mas-mas di antara kami bersikap apatis.

Si ibu melanjutkan, "Nggak enak lihat muka kamu."

HAH?

Kesalahan apa yang telah aku lakukan?

"Maaf, bu?" dahiku mengenyit.

Si ibu masih menatapku tajam, "Ada efek tertentu kalau lihat wajahmu itu."

Ngeeek....

Aku pindai penampilanku.
Apa ibu ini benci wanita pakai jilbab?
Atau bertindak rasis terhadap yang berjilbab agak lebar?
Kebetulan aku sedang pakai jilbab selebar lengan.

Aku masih tersenyum.
Lalu aku pamit undur diri.

"Terima kasih sudah mempersilakan saya duduk di sini tadi." kataku pamit. Dengan sopan.

Aku berpindah ke pintu kereta. Dekat dengan ibu-ibu lain.

Kereta terus berjalan menuju Maguwo dan aku berdiri.
Lalu seorang ibu lain berjilbab orange kecoklatan mempersilakan aku duduk mepet dengannya. Padahal bangku beliau sudah diduduki dua orang. Beliau sendiri dan seorang bapak.

Aku menolak halus, berterima kasih.

Aku terus berdiri.

Aku melihat si ibu berjilbab orang kecoklatan mengobrol dengan dua orang wanita dekat pintu. Beramah tamah, teman perjalanan sepertinya.

Aku terus berdiri.

Pada suatu titik, sepertinya ibu yang berjilbab orange kecoklatan merasa kasihan dan tak nyaman aku berdiri. Untuk menyamankan beliau, aku duduk pakai helm. Hanya sekedar menyamankan beliau. Padahal aku nyaman berdiri.

Kami mulai mengobrol. Beliau bernama Bu Rini, dari Wonogiri.

Dari obrolan itu, tiba-tiba nyambung tentang tempat duduk. Aku bilang kalau sebenarnya aku sudah dapat tempat duduk. Tapi aku nyaman berdiri.

Entah bagaimana, kita sampai menuju suatu titik obrolan tentang sang wanita tua berkaos kuning.

"Ah, ibu-ibu tua berambut sebahu putih?" tanya Bu Rini,
Aku mengiyakan, "Saya pilih pergi saja dari sana, ibu."

Bu Rini tersenyum lebar, "Saya tadi juga duduk di depannya."

Mataku melebar, "Lalu?"

"Lha ya dia aneh. Saya datang langsung dimintai makanan. Dia bilang 'ayo, keluarkan semua makanan dalam tas, bagi-bagi sini'. Setelah itu dia minta apa-apa dari tas saya. Saya pergi, mbak."

Aku tersenyum kecut.
Dalam hati beryukur. Kenapa bersyukur? Karena itu artinya aku tidak membuat kesalahan. Si ibu berkaos kuning itulah yang bersikap tak biasa.

Di Maguwo, kereta berhenti. Penumpang masuk lagi.

Lalu, aku melirik bekas bangku.
Ada seorang mbak menduduki bangku di depan si ibu berkaos kuning. Telingaku mendengar jelas si ibu mengomel lagi, "Perempuan lagi! Tiap duduk kok perempuan! Mbok bapak-bapak itu aja yang duduk di sini!"

Aku melirik para penumpang lain.
Bapak yang ditunjuk tak menggubris. Berjalan lurus ke arahku dan duduk lesehan di lantai pakai bangku lipatnya.

Si mbak yang baru duduk di sana sepertinya agak terkejut. Kutangkap wajahnya mengheran. Lalu ia memilih mengobrol bersama mas-mas di sampingnya.

Astaga....

It is a strange journey.
Sungguh.
Aku penasaran ada apa dengan si ibu tua berkaos kuning itu.
Apakah ia sebegitu bencinya dengan perempuan?



Solo Balapan, 26 Januari 2016
11.07 WIB
Di sela-sela perjalanan pulang, menulis ini segera di sebuah bangku dekat kios-kios makanan sebelah utara..




Monday, 11 January 2016

Ibu dan Sang Wanita Karir




Ada perdebatan klise, mana yang lebih baik antara seorang wanita ibu rumah tangga dan wanita karir.

Ada yang beranggapan bahwa ibu rumah tangga jauh lebih mulia. Benar. Saya setuju. Saya ingin jadi ibu rumah tangga. Mendedikasikan waktu demi keluarga.

Lantas, pertanyaannya adalah apakah ibu rumah tangga tak boleh bekerja?

Seorang wanita, apapun kegiatannya, apapun pekerjaannya, adalah seorang wanita. Baik ibu rumah tangga maupun ibu karir tetaplah seorang wanita. Lantas, kenapa ada anggapan ibu karir adalah bukan ibu?

Wanita yang bangun sebelum subuh demi menyiapkan apapun untuk anak dan suami, lalu bersiap berangkat kerja...

Wanita yang mengajarkan kepada anak tentang kerasnya bertahan hidup mencari uang...

Wanita yang harus membagi waktu antara bekerja dan keluarga...

Wanita yang ingin meringankan beban suami...

Wanita yang memikirkan kemungkinan buruk di masa depan karena suami tak mampu bekerja lagi...

Wanita yang akhir minggunya selalu terasa spesial untuk dihabiskan bersama keluarga...

... adalah wanita yang tak pantas disebut ibu.

Benarkah?
Kalau bukan ibu, kenapa ia mau melahirkan?
Kenapa mau menerima tanggung jawab merawat anak?

Bagi saya, wanita karir tetaplah seorang ibu. Yang merindukan sambutan anak di muka pintu sepulang kerja. Lalu mengajak anak jalan-jalan walau sekadar membeli es krim. Lantas bercerita tentang sekolahnya.

Begitu spesial karena waktu-waktu itu begitu terbatas. Tak bisa dinikmati setiap jam.


Saya bisa mengatakan ini karena saya tumbuh kembang dari seorang ibu karir. Ibu saya bekerja di luar rumah. Jam tujuh pagi sudah berangkat bekerja. Jam dua siang, beliau baru pulang. Tapi, kesibukan itu tak lantas membuat saya jauh dengan ibu saya.

Sebelum saya sekolah, alias usia balita, saya dititipkan pada seorang pengasuh dimana beliau adalah tetangga sendiri. Tapi ibu saya tidak semena-mena menyerahkan. Sebelum yakin bahwa tetangga itu adalah orang baik-baik, ibu melakukan pengamatan jauh-jauh hari. Setelah yakin dengan tetangga tersebut, ibu berani menitipkan saya. Dari usia setahun sampai menginjak bangku SD.

Setelah SD, ibu tidak menitipkan saya lagi. Saya di rumah sendiri. Membaca majalah atau buku. Mungkin dari sinilah hobi saya membaca muncul.

Saya menyadari, waktu ibu terbatas di pagi hari. Maka, ketika bersama ibu, itu adalah momen-momen romantis kami berdua. Biasanya, sepulang sekolah, saya akan membaca majalah atau mewarnai buku gambar. Lalu ketika mendengar suara motor ibu datang di halaman, ada perasaan riang gembira dan ceria. Biasanya ibu membawa aneka jajanan seiring beliau pulang. Lalu bertanya aku mau makan apa. Sorenya, kami biasanya jalan-jalan.

Ibu, meskipun berkarir di luar rumah, tetaplah seorang ibu.





 Gemolong, 11 Januari 2016
16.11 WIB
Rental komputer dan Warnet Hidayah, sehabis gerimis mereda.












Pos Indonesia dan Masa Kecil




Saya masih ingat sekali masa-masa di mana kaki mengayuh sepeda dan berdiri di depan sebuah kotak warna orange menyala. Biasanya rutinitas itu saya lakukan sepulang sekolah. Sekitar tahun 2001 sampai 2004 ketika saya menginjak bangku SD.

Tak peduli terik matahari, karena ada sensasi tersendiri yang akan dirasakan ketika berdiri di depan kotak orange itu. Lalu tangan mengambil sebuah amplop di keranjang depan sepeda. Mengarahkannya ke lubang kotak.

Terhenti, tak jadi dimasukkan.

Berkali-kali tangan kecil saya bermain di lubang kotak untuk merasakan sensasi berkirim surat. Karena setelah surat masuk, tentu tak bisa lagi diambil. Mata berbinar ceria sambil sesekali menoleh kanan kiri. Takut ada Pak Pos yang melihat dan menertawakan.

Kadang, saya duduk tak jauh dari kotak pos orange itu untuk melihat Pak Pos datang. Lalu membuka kotak. Mata saya mengerjap kagum melihat limpahan surat. Puluhan. Bahkan ada yang beramplop besar di mana saya tak pernah mengirim surat sebesar itu.

Saya pulang. Menunggu balasan surat minggu depan. Tak sabar. Lalu ketika pada suatu hari ibu saya pulang dari kantor, beliau selalu menyodorkan amplop hasil balasan surat minggu lalu. Saking hafalnya dengan nama saya, Pak Pos memilih menuju kantor ibu saya dibanding datang ke rumah. Dan Pak Pos sudah akrab dengan ibu dan saya.

"Oh, ini adik yang sering kirim surat itu, ya?" sapa Pak Pos ketika pada suatu hari sepulang sekolah saya dijemput ibu dan menemani di kantor. Lalu kebetulan ada surat datang.

Benar, memori itu begitu kuat. Begitu indah. Begitu mendebarkan di sela penantian datangnya surat.

Karena Pos Indonesia, saya punya banyak sahabat pena di seluruh Indonesia, yang sama-sama suka menulis, suka membaca majalah, suka berkirim surat, maupun suka mengirim karya ke media cetak anak-anak. Saya bisa mendengar cerita mereka tentang Indonesia di seberang pulau, di balik gunung, di seberang laut, maupun di balik perbukitan serta hutan. Tak jarang mendapat kiriman barang khas daerah mereka, bahkan makanan khas.

Kami akan berlomba-lomba tulisan tangan siapa yang paling bagus. Lalu harus menyusun kalimat supaya mudah dipahami. Lama-lama terbiasa menulis.

Sayang sekali, anak-anak sekarang hampir mustahil merasakan sensasi memasukkan surat ke kotak pos. Hampir mustahil mendapat surat istimewa yang ditujuan khusus pada mereka. Dengan amplop tertera nama mereka di depannya.

Sungguh. Itu sensasi yang mahal harganya.



Gemolong, 11 Januari 2016
15.47 WIB
Rental komputer dan Warnet Hidayah, sehabis gerimis mereda.


Monday, 16 November 2015

Kesan Personal Kepada Para Peserta Kampus Fiksi #14



Dua postingan sebelumnya membahas kegiatan Kampus Fiksi. Kali ini, aku mau share kesan personal pada masing-masing peserta. Ngikutin postingan Mei di blognya. Mwuahahaha....


Oke, ini dia, 21 orang (termasuk aku) yang selama 4 hari 3 malem kumpul kebo di satu gedung yang sama.


1. Agus Mulyadi
Ini artis paling keren di antara kami angkatan 14. Secara, dia sudah terkenal dan punya buku, judulnya "Diplomat Kenangan" dan "Jomblo Tapi Hafal Pancasila". Bisa cari di google dan bakal nemu banyak tulisan tentangnya. Sekarang lagi menggarap buku ketiga kayaknya. Orangnya ramah. Tapi aku nggak deket soalnya nggak sekamar. (plak)

2. Ahmad Muhtarom
Aku ngrobrol panjang sama Tarom baru pada hari-hari menjelang akhir. Dia backpacker sejati. Blundas-blundus negeri. Orangnya sih sekilas pendiem. Tapi nggak tau aslinya. Dia partner bikin mie goreng bareng aku sama Mei. Endingnya, partner nyuci piring sama aku. Nggak banyak omong. Tapi aku ragu dia pendiem.

3. Anisa Sholihat
Kenal sejak pertama kali dateng ke asrama. Tipe wanita sholihah seperti namanya. Aamiin.... Orangnya pendiem, nggak banyak omong, Sampai ending juga pendiem. Santun. Murah senyum. Sepertinya Nisa tipe orang yang harus didekati, baru bisa deket. Itu menurut pengamatan. Aslinya belum tahu sih. Siapa tahu dia sampai rumah bakal lempar tas dan jungkir balik sendirian?
(peace, Nis....)

4. Dwi Sri Utami
Orangnya dewasa dan bisa mengontrol kadar level kegilaan yang menggebu. Pengamat sejati kayaknya, diam-diam mengamati. He he.... Rasanya, dia hampir tau kelakuan anak-anak meskipun tanpa banyak berkata.

5. Elsa Pradani
Pertama kali bertemu ketika aku masuk kamar. Elsa sudah di dalam. Begitu dengar namanya, terlintas bayangan Elsa Frozen dan mendadak ruangan serasa dihujani kristal es. Lalu mataku berhalusinasi melihat Elsa sedang menari sambil lempar-lempar es batu. Sebagian kena mata, sebagian mecahin jendela.

6. Erin Cipta
Ini emak-emak gaul. Serius. Usia beliau 37 tahun dan kesan pertamaku adalah beliau berusia 27 tahun. Datang kurang lebih satu jam setelah aku datang. Aku pikir, Mbak Erin ini pembicara atau orang penting. Penampilannya gahol gitu. Cantik. Saat itu, entah bagaimana ceritanya kami bisa duduk bersampingan. Lalu mulai cerita. Mbak Erin paling senang ceritain kedua tuan putrinya, Elok dan Embun, serta perpustakaan mini bernama "Gemas" yang beliau buka. Bukunya udah terbit di Taiwan dalam dua bahasa. Kayaknya beliau tipe emak yang suka keluar negeri. Mwuahaha.... *kecup Mbak Erin

7. Iqbal
Ini peserta paling bayi di antara kami. Usianya 15, masih SMP kelas IX, dan menjadi korban bribikan para tante di Kampus Fiksi. Saya jadi trenyuh sama perjuangan Iqbal mempertahankan diri di antara serbuan para tante. Dia anaknya pendiem. Unyu. Tapi dari sorot mata Iqbal dan kuluman senyumnya, aku rasa dia bukan tipe pendiam. Di sekolah aja dia penyiar radio. Tapi sumpah, dia jaim banget. Pendieeem....

8. Fatyana Rachma Saputri
(ini saya)
Saya berusaha kalem di tempat itu. Tapi gara-gara Mei, pertahanan saja kebobolan. Saya sudah tidak polos lagi bersamanyaaa.... T,T

9. Firman
Ini bapak berasal dari Padang. Tempat duduknya di samping saya waktu di kelas. Mungkin, sebagian besar teman berpendapat Mas Firman (ndak mau dipanggil "pak", he he) adalah sosok pendiem. Itu sepenuhnya tidak salah, karena selama kegiatan berlangsung, beliau memang pendiem. Mungkin lelah karena ulah kami para ababil labil. Tapi ketika saya sudah terjerat percakapan dengan beliau, woi... jangan salah. Beliau orangnya kritis dan banyak pendapat.

10. Frilla Amanda
Neng geulis dari Bandung. Pertama lihat dia, waaah... cantik. Modis pulak. Aku mau dong kayak Frilla. Dia termasuk pendiam di antara kami. Dekat sama Gyna (bukan peserta, tapi alumni Kampus Fiksi senior yang sudah menelurkan lebih dari 10 novel, dan hari itu menemani kami full selama kegiatan berhari-hari). Nggak banyak yang aku tahu dari Frilla. Tapi sepertinya teman enak buat hang out sore-sore.

11. Ibnu Majah
Ini adik kelas SMP, woi.... Dan guweh baru pertama kali liat wajahnya pas kemaren. Sebelum di Kampus Fiksi, dia pernah beberapa kali inbox facebook menanyakan tentang kereta Solo-Yogyakarta dan arah seputar wilayah UNY. Lantas, beberapa minggu kemudian, dia tanya apakah aku ikut Kampus Fiksi angkatan 14. Ha ha.... Akhirnya ketemu juga. Nggak nyangka yak, gara-gara Kampus Fiksi jadi kenal sama adik kelas yang sebelumnya nggak tau sama sekali.

12. Lalu Muhammad Getar
Namanya.... Unique. At the first glance, ini tipe-tipe nama puitis yang menjual kalo jadi nama pena. Lalu Getar? Orangnya pendiem juga. Karena aku nggak begitu deket sama dia. Kontaknya baru pas hari-hari akhir. After all, dia asik.

13. Latifah Desti
Temen sekamar niiih.... Aku kira dia pendiem, sampai akhirnya pas malam terakhir dia maju ngasih kesan pesan pada kegiatan ini. Ya ampuuun.... Latifah, kamu ternyata orangnya gitu?

14. Meilisa Eka Nur Alam
Mei.... Mei.... Mei.... Entah kenapa, Mei dan aku relatif berhubungan dengan foto 45 derajat serong nyamping. Ha ha ha.... Dia sepertinya sosok legawa, rela, dan koperatif. Meskipun ujungnya pengen cubit dan tampar. *cipok

15. Mustika Desi Harjani
Mbak Tika, kesannya pemerhati lingkungan sekitar. Pengamat seperti Dwi. Nggak begitu deket sama Mbak Tika, nggak sekamar juga. Tapi asik buat temen diskusi.

16. Septian Andrian Putra
Hh.... (menghela napas)
Sosoknya sulit ditebak.
Septi.... Dia punya kekuatan mengubah orang asing menjadi dekat dengannya, menjadi nyaman dengannya. Septi punya kekuatan itu. Dan dia enak buat dibully rame-rame. Nyiahahaha.... Awalnya pada nggak percaya umurnya baru 18 (kelahiran 97). Aku juga nggak percaya. Tapi ketika aku melihat lebih dalam ke roman mukanya, dia kelihatan baru aja lulus SMA, menanggalkan identitas anak ingusan menuju anak kuliahan. Septi sampe nunjukin KTP lho, buat bikin orang-orang percaya umurnya bukan 25.

17. Sri Amalia Kusuma W.
Sriii.... Biasa dipanggil "black". Dia adalah orang pertama di Kampus Fiksi yang kutemui dalam mobil penjemputan. Di mobil, dalam waktu hitungan menit, kami sudah akrab. Asal Palembang. Easy going. Kadang apatis. Masa bodoh. Tapi di sisi lain, dia peduli banget. Black ini ketua suku angkatan 14. Enak diajak gila. Semangat, yah.... *peluk

18. Sri Wahyuni
Dipanggil Riri. Aku pikir dia senior pas pertama kali aku datang ke asrama. Dia duduk depan laptop, sibuk, sesekali menyahut obrolan. Agak nyeremin tatapannya. Kupikir dia galak, ternyata.... Ahahaha!

19. Syaifullah
Nah, ini satu dari dua orang yang nggak aku samperin alias nggak aku ajak ngobrol. Well, seharusnya aku deketin semua peserta. Tapi Ipul nggak kejamah, nggak tergapai, meskipun aku ingin dekat juga dengannya seperti yang lain. Jarak kursi kami juga berjauhan. Tapi di grup wa sama facebook, kita nyambung. Dari review pandangan, Ipul anaknya asik.

20. Tri Hermawan
Kalau salah satu orang yang nggak aku samperin adalah Ipul, orang lainnya adalah Triher. Well, kursi kita juga jauhan. Jadi kurang banyak komunikasi. Dari semua yang dia lakukan, aku tahu Triher anaknya asik juga. Oh iya, ada satu episode tentang facebook. Triher add friend. Tapi ketika aku accept, nggak bisa. Aku kirimin inbox. Ternyata saking banyaknya teman facebook jadi nggak bisa add friend lagi. Tapi ujung-ujungnya bisa, setelah dia kurangi beberapa friend.

21. Wakhidati Maimunah
Temen sekamar. Pertama kali lihat Dati, aku pikir dia anak SMA, Mungil dan baby face. Anaknya rame, ramah, dan kita sempet review beberapa novel K-Pop di kamar.


Well, itu tadi review dariku.
^___^
I miss you, guys.... <3




Gemolong, 16 November 2015
07.41 WIB

Kampus Fiksi #14 Hari Kedua dan Ketiga



Ya ampun, ini postingan telat bangeeet....
Nggak papa, aku bakal ulas balik kegiatan hari kedua dan ketiga kok.

Hari kedua adalah masa-masa paling menantang. Setelah di pagi hari dapet pemanasan tentang proses ide kreatif bareng alumni dan arahan sekilas Mbak Rina, kita mengalami yang namanya tantangan menulis cerpen. Cuma dikasih waktu 3 jam, dari jam 13.00 sampai jam 16.00.

Untuk proses ide kreatif bareng alumni, guest kali ini adalah Kak Ginanjar, alumni Kampus Fiksi #13. Beliau adalah film maker dan sudah nerbitin novel "Bulan Merah", yang notabene ditulis dalam bimbingan Tasaro GK. Keren banget yah....

Beberapa hari lalu aku cari di Gramedia Yogyakarta nggak ada. Kata Kak Ginanjar, mending cari di Solo karena masih ada beberapa.

Tantangan nulis cerpen kilat itu adalah momen paling berkesan buat aku.

So, setelah Mbak Rina menjabarkan banyak hal tentang ide, kami dibagi dalam 4 kelompok yang masing-masing kelompok punya mentor sendiri. Mentorku adalah Mbak Misni. Teman sekelompokku adalah Mbak Erin, Pak Firman, Elsa, dan aku sendiri.

Cerpen yang ditulis sudah ditentukan malam sebelumnya. Yaitu perubahan ending novel yang pernah kita baca. Malam sebelumnya, aku memilih novel Ilana Tan, "Autumn in Paris". Bah, mumet deh bikin ending berbeda dari novel keren itu. Ya ampuuun.... Aku puter otak sampai rambut keriting dan akhirnya menemukan beberapa ide.

Di ending asli, salah satu tokoh utama laki-laki, bernama Tatsuya Fujiwara, kan mati. Nah, aku kepikiran beberapa ending.

1. Tatsuya nggak jadi mati dan kawin lari sama saudarinya sendiri, Tara
2. Tatsuya jadi gay sama Sebastien
3. Tatsuya nggak terlahir karena Tara ke masa lalu menghentikan ayahnya menghamili (genre fantasi)
4. Tatsuya tetap lahir tapi jadi anak balita, Tara ke masa lalu menghentikan ayahnya menghamili (genre fantasi juga)

Akhirnya, option terakhir aku pilih.

Hari kedua, malam hari, kita udah mulai akrab. Bikin kopi, ngobrol malam-malam, sampai menemukan kebusukan diri masing-masing. Nyiahahaha.....

Hari ketiga, kita ada tamu, pemenang lomba novel DKJ 2014 dengan judul "Kambing dan Hujan". Siapakah dia? Jeng, jeng.... Coba googling. Pasti nemu. Ho ho....

Selain tamu pemenang DKJ, kita ada tamu juga bagian marketing buku. Kita jadi belajar banyak tentang perbukuan dan pertokoan. Ternyata, proses buku dipajang di toko itu panjang juga.

Ketika buku pertama kali masuk toko, semisal Gramedia, pihak sana akan memberi waktu 4 hari buku itu dipajang di deretan buku baru. Kalo selama hari itu nggak ada yang beli, buku pindah ke rak. Di rak, kalo selama sebulan nggak ada yang beli, jadi best seller di gudang deh....

Nah, tapi kalo selama seminggu terjual 2 buku, akan dimasukkan ke deretan recommended books. Kalau di deretan recommended terjual 7 buah selama seminggu, masuk kategori best seller.

Nah, gitu.... Panjang juga perjalanan si buku.

Malam hari terakhir, adalah malam terakhir. Kita serasa nggak bisa tidur. Kuta banyak yang ngobrol di sudur-sudut. Pada buat mie instan juga. Aku, Mei, dan Tarom adalah partner bikin mie. Dan antrian bikin mie panjang juga. Sayangnya, beberapa teman kami sudah pulang ngejar kereta atau pesawat malam itu. Salah satunya adalah Septian. Padahal dia paling enak kalau dibully rame-rame. Dia harus cepat kembali ke Jakarta karena ada ujian matematika.

Ngopi bareng, ngobrol sama temen-temen editor, banyak tukar ide, curhat cinta, bahkan ada yang nyanyi galau di sudut. Ya elah....

So warm, giving warmth.

I will miss them.

Paginya, adalah perpulangan.

Satu demi satu, mereka pulang. Asrama mulai sepi.

Aku kebagian pulang agak akhir, meskipun bukan yang paling akhir.

Akhirnya, ada 5 orang dengan jam sama yang pulang. Mbak Erin, Sri "Black", Elsa, Dati, dan aku. Kami pulang di jam yang sama. Sebenarnya aku pulang jam berapa aja bisa. Kan keretaku Prameks. Akhirnya nebeng yang mau ke Tugu ataupun Giwangan.

Pulang-pulang dibawain buku sekardus. Gilak, berat banget. Au jadi pengen ketawa bayangin teman-teman dari jauh yang kewalahan junjung sekardus buku. Apalagi yang harus jalan menuju rumah. Ckckck.... Btw, makasih Pak Edi, CEO Diva Press yang keren abiz.



Gemolong, 16 November 2015

06.20 WIB