Ini tentangku, tentangmu, dan tentang mereka.... Tetes-tetes hujan di setiap sisa ujung hari sengaja aku tampung pada sebuah cawan di sini. Kelak ketika aku, kau, atau kalian lupa, kita bisa menengok dan berkaca pada pantulan air di secawan tetes hujan ini.
Yang mau nyari fan fiction, bisa klik label "fan fiction" sebelah kanan.

Yang mau galau badai menye-menye puitis ria, bisa klik label favorit gue "phoetic phrase".

Any comments are welcomed.... ^_^

Monday, 31 October 2016

Perempuan Kecil yang Menyukai Dongeng


http://www.enchantedfairies.com.au/




Perempuan kecil sepulang sekolah
Girang mengangkat majalah
Rebah di kasur, tengkurap
Hilang di rimba dongeng

Perempuan kecil, sepulang sekolah
Berwajah kusut muka lelah
Bercerita pada diary
Tentang hutan yang berkhianat

Perempuan kecil, sepulang sekolah
Terus saja berlari, pindah rimba
Karena beda belantara, beda buasnya
Untung saja rimba yang ini ada sungai sejuknya

Kini perempuan kecil, tidak lagi pulang sekolah
Mengembara, melebihi perbatasan kota
Mengejar apa yang dulu dibacanya dalam dongeng
Karena akhir cerita, selalu ada "mereka hidup bahagia selamanya"

Perempuan kecil, tidak lagi pulang sekolah
Sadar bahwa semua dongeng tak menjamin nyata
Tapi apa salahnya berlari?
Selama masih punya kaki

Perempuan kecil, tidak lagi pulang sekolah
Menulis dongengnya sendiri
Membuatnya jadi nyata
Satu demi satu, memang dongeng bisa nyata

Perempuan kecil
Yang dulu gemar membaca dongeng
Lalu mulai menulis dongengnya sendiri
Adalah perempuan yang sekarang menulis dongeng ini




Bandung, 31 Oktober 2016
UPInet Kelas B
14:53 WIB (Jam UPInet)












Wednesday, 26 October 2016

Suatu Senja dan Empat Voucher Nakamura








Awalnya, aku tidak mengenal apa itu Nakamura. Pertama mengenal adalah pada suatu senja menjelang Maghrib di bulan Oktober, di depan Bandung Indah Plaza (BIP). Seorang laki-laki muda menghampiriku dan menjelaskan sebuah program untuk membantu wanita pengidap kanker. Aku tertarik ikut menyumbang. Sebagai gantinya, laki-laki itu –yang ternyata masih mahasiswa semester tiga– memberiku buku berisi banyak voucher. Salah satunya adalah voucher dari Nakamura. Aku tak tertarik karena aku tidak tahu apa itu, tapi tetap saja aku buka-buka buku voucher itu sambil menunggu angkot. Kebanyakan adalah voucher makan di beberapa kafe dan restoran.
Sampai kos, sembari istirahat, aku buka-buka lagi voucher tadi dan mulai tertarik dengan Nakamura. Kebetulan beberapa hari terakhir, badanku capek serta lelah setelah tumpukan tugas kuliah. Apalagi program pascasarjana dituntut lebih aktif dan produktif. Akhirnya, aku merencanakan sebuah hari di mana aku akan ke Paskal Hypersquare, tempat di mana Nakamura cabang Bandung berada.
Tepat pada hari Senin tanggal 24 Oktober, sepulang kuliah, aku menuju daerah Pasir Kaliki. Naik angkot jurusan St. Hall - Lembang, berangkat dari UPI, bayar Rp7.000,-. Agak buta arah karena belum pernah ke Paskal Hypersquare, untung ada teteh cantik satu angkot yang memberi arahan dan cara bagaimana kembail ke UPI.
Setelah perjuangan (haelah), akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Sempat bertanya pada petugas satpam sebelum menemukan papan penanda milik Nakamura. Aku segera masuk dan disambut ramah oleh teteh cantik berpakaian yukata, alias pakaian tradisional Jepang. Sejenak mengobrol, tak lupa aku serahkan salah satu voucher tambahan tiga puluh menit. Lalu aku dipersilakan menunggu beberapa menit. Sembari menunggu, aku sempatkan melihat papan pengumuman di ruang tunggu dan menemukan pamflet Writing Competition ini, he he....
Tak terasa beberapa menit berlalu, aku dipersilakan masuk ke ruangan. Pertama kali masuk, waaah.... Suasananya benar-benar tenang, syahdu, damai, pokoknya bikin rileks seketika. Apalagi alunan lagu klasik yang enak banget buat tidur. Lampu temaramnya membuat mata ikut rileks.
Si teteh menanyakan di mana aku ingin memilih ruang. Aku pilih saja yang reguler. Lalu aku dipersilakan duduk di kursi (sofa?) panjang sedangkan teteh beryukata itu pergi ke belakang. Ia datang lagi membawa baskom air hangat untuk kaki. Direndam sejenak, dilap pakai handuk, dan mulai pemijatan, dari jari-jari kaki sampai ujung rambut. Benar-benar nyaman sekali. Saking nyamannya, aku nyaris tertidur, ho ho.... Tak terasa, dua jam sudah lewat. Cepat sekali.
Setelah selesai, aku ditawari mau minum apa. Aku memilih jahe hangat. Hm, badan langsung seger kembali. Begitu habis air jahe dan duduk santai beberapa menit untuk meringankan badan, tiba saat pembayaran. Naaah.... Biasanya ini yang bikin jantung dag dig dug. Habis berapa? Mahal nggak? Kalo mahal gimana?
Aku ke kasir dan menunggu si teteh cantik menghitung total. 
"Seratus dua puluh ya, teh." Kata si teteh ramah.
Aku mengernyit, "Loh, bukan seratus tiga puluh? Di daftar harga seratus tiga puluh."
Si teteh menjelaskan dengan hangat bahwa ada diskon tambahan 10%. 
Oh, begitu rupanya. Lumayan terjangkau kocek, ya. Apalagi aku dapat tambahan voucher tiga puluh menit. Total dua jam.
Akhirnya balik kos ke UPI naik angkot lagi. Tapi jurusan St. Hall - Lembang nggak muncul-muncul, padahal udah hampir Maghrib. Akhirnya aku naik angkot jurusan Bandung Electronic Center (BEC), lalu oper angkot ke UPI naik jurusan Kalapa - Ledeng. Selamat sampai kos deh.
Malam harinya, aku bisa tidur nyenyak banget tanpa terbangun tengah malam. Bangun-bangun sudah jam enam pagi. Untung lagi nggak sholat. Langsung saja mandi dan berangkat kuliah karena ada kelas jam tujuh.
Kayaknya aku bakal ketagihan datang ke sana, deh! Suasananya nyaman, begitu tradisional. Apalagi karyawannya memakai yukata atau kimono. Jadi merasa di negeri sakura beneran. Pelayanannya oke dan sesuai dengan rogohan saku kita. Cocok buat relaksasi habis ujian semester nanti. Toh, masih punya tiga voucher lagi. Wkwkwk....

Geger Kalong Girang, Bandung
25 Oktober 2016
20:54 WIB

 

Oh iya, sempat selfie juga dan rekam tempatnya loh.

 Ini suara gemericik air mancurnya bikin kuping seger.



 Papan penanda, jadi gampang banget ketemu sama jodoh (eh?)



 Bagian resepsionis, teteh cantik yang jaga lagi sembunyi, wkwkwk.... (bercanda)



Ini suasana dalamnya. Beneran serasa di Jepang. Ho ho....



Ada videonya juga loooh.... Ini suasananya. Taraaa! Jeng, jeeeng....

video
Ini pintu masuknya. Maafkan hape saya yang agak modot-modot. Mwuahahaha....



video
Nah, kalau yang ini situasi halaman luas Paskal Hypersquare. Yuk mari ke sini, gampang banget jalurnya. 
^_^
















Sunday, 21 August 2016

Bungkus Kopi





BUNGKUS KOPI
Fatyana Rach


ALEX Buntala menjentikkan jemarinya yang terselip rokok. Putung berserak dalam asbak di tengah meja, tepat di samping kopi yang tampaknya mendingin.
“Pesanannya, Pak.” Seorang pelayan kafe menghampiri ramah. Sigap meletakkan satu cangkir kopi lagi menemani cangkir kopi yang tadinya sendiri di meja.
Kebersamaan itu tak berlangsung lama. Alex memberi kode untuk menyingkirkan kopi dingin. Sang pelayan mengambil cangkir kopi yang mendingin dan undur diri sopan,
Alex meletakkan rokok di ujung asbak. Tangannya berganti meraih cangkir yang mengepulkan uap panas. Ia menghirup aroma kopi berharga puluhan ribu itu dengan ekspresi tenang. Lalu bibirnya menempel di cangkir dan menyeruput perlahan.
Ah, kopi panas memang lebih nikmat dibanding kopi dingin. Itulah sebabnya ia rela memesan satu cangkir kopi baru untuk membuang yang lama. Tak masalah.
***

“PAK, kopinya. Empat ribu.” Seorang remaja laki-laki menawarkan dagangan kepada orang-orang yang lalu-lalang di sekitar Malioboro. Panji Kahuripan, remaja itu, berusia sekitar tujuh belas tahun. Setiap sore sepulang sekolah, ia menggendong kotak plastik besar di depan perut berisi aneka minuman sachet. Juga termos air panas dalam jinjingan. Tak lupa rokok yang bisa dibeli eceran.
“Panji!” sebuah sapaan memanggil.
Kepala remaja laki-laki itu menoleh cepat. Namun rasanya ia ingin segera membuang muka setelah tahu siapa yang memanggil. Dua teman sekelasnya.
“Kau di sini rupanya.” Catur Mandala, laki-laki berkaca mata yang hobinya main play station, melangkah mendekat.
Di belakangnya, seorang remaja laki-laki lain mengekor. Ia Joshua Yoon, satu-satunya murid blesteran di kelas mereka. Tentu wajahnya ganteng dan rambutnya agak kecoklatan alami.
“Aku pikir hanya rumor.” Catur berhenti satu meter di hadapan Panji.
Sedangkan yang diajak bicara hanya mematung. Kedua tangannya tanpa sadar menggenggam pinggiran box jualan dengan erat.
Joshua mencondongkan tubuh ke depan, seolah memastikan bahwa sosok yang berjualan keliling di hadapannya adalan teman sekelas mereka. “Ah, ternyata bukan rumor ya? Tapi beneran.”
Panji melirik dagangannya. Lalu mengangkat wajah dengan muka datar. “He he....” tawanya hambar. “Kalian mau beli?”
***

SIARAN musik terdengar dari radio mobil. Alex Buntala memacu mobilnya keluar dari mall terbesar di Yogyakarta itu ketika langit bersemu jingga di ufuk barat. Ia menuju apartemen ketika ponselnya berdering.
Matanya melirik layar. Tangan kanan Alex segera menggeser layar untuk menerima telepon dan mengaktifkan speaker. Lalu kembali sibuk di kemudi mobil.
Hei, Alex. Kau luang malam ini?” Suara seorang teman menyapa di seberang telepon. David Kurniawan.
“Hm.” Alex membalas malas.
Ayo nongkrong. Malam minggu nih!” Suara lain menyahut di seberang. Tanpa diberitahu, Alex tahu siapa dia. Bryan Jefri. Dua sosok itu adalah teman baik Alex sejak beberapa tahun silam.
Laki-laki yang sibuk dengan kemudi mobil mendesah. Lagi?
Ia mulai lelah pada dua temannya itu. Meski tak pernah bilang apa-apa, Alex tahu bahwa dirinya hanya dimanfaatkan. Bryan dan David memanfaatkan isi dompet Alex. Ah, tak masalah. Mau bagaimana lagi, sulit menemukan teman bersenang-senang yang cocok di usia tiga puluhan tahun begini.
“Oke.” Alex tersenyum kecut. “Kalian ada di mana? Biar aku jemput.”
***

DUA gelas kopi terseduh air panas di bangku sekitar Malioboro. Bibir Panji Kahuripan bungkam. Ia tak bicara sejak pesanan ini terucap dari sang pembeli. Tangan Panji mengaduk dua gelas kopi instan secara canggung.
Tentu saja canggung. Ia tengah membuatkan kopi untuk dua teman sekelasnya. Ah, rasanya ia ingin sembunyi saja selamanya. Kenapa sangat malu begini?
“Sejak kapan kau menjalani rutinitas ini?” Catur Mandala membuka percakapan setelah sekian menit mereka saling diam.
“Setahun.” jawab Panji sekenanya. Ia menyerahkan dua gelas kopi. “Setelah ayahku yang tukang judi itu lari entah ke mana, dan aku harus membantu ibu. Kami masih harus memikirkan dua adikku yang masih SD.”
Joshua Yoon menerima yang pertama karena duduk lebih dekat. “Ah, menyenangkan sekali bisa mencari uang sendiri, ya. Kau hebat, Panji.”
Panji melirik Joshua. Benarkah siswa paling tampan di kelasnya itu baru saja memujinya?
Catur mengangguk setuju. Ia menerima kopi Panji. “Kenapa tidak mengajak kerjasama denganku, Panji? Kita bisa membuka kedai kopi bersama-sama. Kakakku seorang barista. Kita bisa belajar dari dia untuk membuka kafe.”
Panji tertawa kecil. “Ah, jangan mimpi terlalu tinggi. Apalah aku dibanding kalian. Tak punya modal besar untuk buka kafe.” Ia memberesi bekas sachet kopi instan untuk dimasukkan ke dalam plastik sampah. Tak boleh membuang sampah sembarangan.
Joshua menurunkan gelas kopi yang tadi menutupi bibirnya. “Aku tidak suka kau bicara membandingkan kita.” Wajahnya berubah serius.
Panji tersenyum. Kali ini lebih hangat. “Kadang, aku malu pada kalian.”
Catur mengernyit. “Selama kau tidak mencuri, jangan malu.”
“Ha ha, benar.” Panji tertawa garing. “Seharusnya yang malu cukup ayahku saja.”
Jalan Malioboro begitu ramai malam ini. Kendaraan berjejal mengantre lewat. Sesekali, kereta kuda berketipak di antara mesin-mesin kendaraan.
So, jadi mau buka bisnis bareng?” Joshua tersenyum lebar. “Aku mau jadi pengusaha muda.”
Catur meletakkan gelas kopi di bangku, tepat di sampingnya. “Karena kita belum punya tanah, kita mulai dengan membuka stand pinggir jalan.” Ia tersenyum lebar. “Biar aku tanya kakakku dari mana mendapatkan biji kopi murah berkualitas.”
Ini Yogyakarta. Banyak pengusaha muda terlahir dari kota ini, dari mahasiswa-mahasiswa yang menuntut ilmu di sini. Bagi mereka bertiga, tak perlu menunggu jadi mahasiswa untuk berwirausaha.
***

“Yuhuuu!!!” Bryan Jefri bersorak girang di kursi belakang. “Kali ini Alex akan mentraktir kita lagi!”
David Kurniawan yang duduk di samping kemudi Alex Buntala tertawa renyah. “Ah, kita harus berterima kasih pada Alex atas kemurahan hatinya.”
Kepala Bryan muncul di antara mereka berdua. “Bersyukurlah, Alex. Menjadi manager di perusahaan kopi terkenal tidaklah kesempatan yang bisa dimiliki semua orang.”
Di balik kemudi, Alex mengulum senyum tipis. “Kalian mau pergi ke mana?”
“Bar?” David menjawab antusias.
Alex berdecak. “Ah, terlalu mainstream. Tak ada yang berubah dari minggu ke minggu.”
“Lalu kau mau merekomendasikan ke mana?”
“Malioboro?” Alex memutar kemudi menuju jalan yang akan membawa mereka ke sebuah tempat. “Mari kita coba makanan murah-murah di sana.”
Wajah David dan Bryan terlihat tak puas.
Mobil memasuki Malioboro dan terparkir rapi di halaman Museum Benteng Vredeburg. Mereka bertiga keluar mobil.
Mata Alex mengamati sekeliling sejenak. Suasana malam. Lalu ia melihat seorang penjual kopi asongan yang duduk di bangku tak jauh darinya.
“Kalian mau kopi?” Alex menawarkan kepada dua temannya tanpa mengalihkan tatapan dari si penjual.
“Kopi di pinggir jalan?” Mata David dan Bryan melebar dengan kalimat yang nyaris terucap bersamaan.
Alex mengulum senyum. Kedua kakinya terayun. “Kenapa tidak?”
***

Tiga remaja laki-laki itu sedang tersenyum cerah merencanakan masa depan mereka setelah lulus dari bangku SMA, ketika tiba-tiba seorang laki-laki berkemeja rapi menghampiri.
“Kopinya masih ada?”
Panji Kahuripan, salah satu dari remaja yang tengah berbincang itu, mendongak. Ia terbata mengangguk. “Masih, Mas. Mau kopi yang mana?”
Ketika sang laki-laki berkemeja rapi itu sibuk memiih kopi, Panji melihat dua orang yang juga berpenampilan kelas atas menghampiri mereka.
“Kau masih memburu aneka jenis kopi, Alex?” Salah satu dari mereka mengernyit kepada laki-laki yang sedang memilih kopi sachet.
Yang ditanya tak menjawab. “Ini.” Melainkan menunjuk salah satu sachet kopi instan.
Panji dengan cekatan memotong rentengan sachet kopi dan segera menyiapkan gelas.
“Alex?” Salah satu teman yang berpenampilan berkelas menunjukkan layar ponsel. “Sepertinya aku dan Bryan harus pergi. Gilang baru saja mengirim pesan untuk mengajak nongkrong bareng.”
Laki-laki yang tadi memilih kopi membalikkan badan. “Kenapa tidak minta dia ke sini saja? Biar rame?”
Dua orang temannya berwajah tak setuju. “Tidak. Kami akan menemui Gilang. Dia akan menjemput kita ke sini.”
Dari sudut mata Panji, ia melihat laki-laki yang tadi memilih kopi tersenyum kecut.
Panji dan laki-laki itu seperti dua sisi kaca. Saling berkebalikan.
Seperti kopi, manusia tak pernah meminta dimasukkan ke kehidupan yang seperti apa. Karena biji-biji kopi tak pernah bisa memilih di mana mereka akan dibungkus. Apakah di kemasan terkenal yang akan digiling di mall, atau dalam sachet murahan di gerobak asongan.
Satu hal berharga yang tak boleh terlewat. Dengan siapa kita menikmati kopi, jauh lebih penting dibanding brand pada bungkus kopi.

Bandung, 21 Agustus 2016
23:49 WIB




Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com










Tuesday, 7 June 2016

Ramadhan 2016




Sahur pertama, di basecamp PK yang telah ditinggal penghuninya (kecuali saya).
Buka puasa pertama, di commuter line menuju Pasar Senen.
Sahur kedua, insya Allah di dalam kereta Senja Utama menuju Solo Balapan.

Ramadhan ini, adalah ketika saya masih usia dua puluhan. Ramadhan ini, adalah ketika saya berjuang mewujudkan mimpi. Ramadhan ini, adalah ketika saya bertemu banyak teman-teman baru dari seluruh pelosok negeri.

Ramadhan ini, akan saya rindukan pada suatu hari nanti, di hari tua. Ramadhan tahun ini akan terkenang. Terus terkenang selama saya hidup.



Stasiun Pasar Senen, 6 Juni 2016
18:32 WIB



Thursday, 2 June 2016

Kotak-kotak Donat dan Misi



Pada sebuah titik di jalanan Cimanggis, Depok, saya antri pulsa di *nd*m*r*t.

Seorang bapak enam puluhan berpakaian rapi (kemeja putih celana hitam) menawarkan donat-donat dalam kotak rapi, bertumpuk pada plastik kuning besar. Kira-kira ada sekitar belasan kotak.

"Donat, mbak?" tawarnya dari pintu.

Beberapa orang tak acuh. Sebagian menggeleng atau menunjukkan telapak tangan.

Saya menggeleng pelan dengan senyum. Tentu saya tak bisa meninggalkan antrian, karena tinggal satu orang giliran saya. Benar-benar butuh pulsa cepat.

Namun ternyata di *nd*m*r*t sedang gangguan. Maka saya keluar dan tak tahu harus beli pulsa di mana.
Saat keluar, saya melihat si bapak penjual donat berjalan ke sebuah arah. Saya ikuti sambil mengamati dari belakang.

Akhirnya setelah berjalan beberapa meter, saya percepat langkah dan menyusul si bapak. "Pak, donatnya bisa saya beli?"

Si bapak berhenti, menoleh. Matanya berkata 'oh?'.
"Oh, bisa mbak." Lalu beliau menepi ke pinggir jalan dan saya ikuti.
Plastik beliau buka. "Mau berapa kotak?"

Mata saya meneliti isi kotak. Untuk ukuran donat jalan, donat ini terbilang high quality. Bersih, rapi, kemasan menarik, dan terlihat enak.

"Satu kotak berapa?"

"Dua belas ribu."

Murah. Untuk ukuran sepuluh donat aneka rasa yang kelihatan nikmat, selembar uang ungu dan abu-abu sudah cukup.
"Beli satu saja, Pak. Nanti tak habis saya makan." Bibir saya tersenyum ramah.

"Kemarin ada yang borong dua puluh. Tapi dia hanya ambil satu kotak." Si bapak bercerita semangat sambil masukkan kotak ke plastik.

Dahi mengernyit. "Sisanya?"

"Dia minta saya membagikannya ke anak-anak jalanan."

Saya langsung 'waow' dalam hati.

Si bapak melanjutkan, "Kalau kemarin, ada tiga kotak dibayar orang, untuk saya sebar ke anak-anak jalanan."

Saya tak punya duit banyak. Tapi saya mau ikut misi ini. Maka saya bayar dua kotak. "Yang satu kotak tolong bagikan juga ya, Pak."

"Ke siapa, Mbak?"

Saya menangkap aura wajah beliau yang ingin memastikan secara jelas amanah pembagian kotak donat.
"Siapa saja yang membutuhkan. Jadinya berapa? Dua empat ya?"

Kami berpisah. Si bapak melanjutkan jalan. Saya kembali cari pulsa.

Oh, tentu ada dari kita yang berpikir apakah si bapak menipu atau tidak. Bagi saya, itu bukan urusan. Toh, saya sudah menyerahkan amanah. Perkara mau dilaksanakan sama si bapak atau tidak, itu bukan urusan saya.

Yang jelas, saya yakin, bahwa bapak ini orang baik. Benar-benar baik. Aura kebaikan tak akan salah, meski pada akhirnya siapa tahu disalahgunakan.

Oh, saya bukan orang yang gampang merasa kasihan. Saya bukan pengasih.
Saya hanya ingin ikut misi bayar donat tapi donatnya dibagikan ke orang lain yang membutuhkan.

Seperti sebuah kedai kopi di suatu negara Eropa (saya pernah baca tapi lupa di mana), bahwa banyak orang-orang membayar gelas-gelas kopi untuk tuna wisma yang berkunjung.





Warung Es
Mekar Sari, Cimanggis, Depok, 1 Juni 2016
10:17 WIB





Saturday, 2 April 2016

Hampir 365 Hari Berlari



Tulisan ini tergabung dalam Antologi Batch 1 2016 LPDP yang sedang dalam proses pembuatan. Saya ikut tergabung di tim ilustrator dan layouter. Tulisan ini saya post di blog, selain untuk memotivasi juga untuk promosi Antologi Batch 1 2016 LPDP. Selamat membaca, semoga memberi semangat dan inspirasi.





Hampir 365 Hari Berlari
Oleh Fatyana Rachma Saputri



Sepuluh tahun lalu di bangku putih biru
Jenjang itu adalah sebuah bayangan
Yang bahkan menghilang karena cahaya terlalu menyilaukan
Terlalu terang hingga mata terpejam
Dan tak berniat mendongak melihatnya


Di bangku SMP, cita-cita saya adalah menjadi guru bahasa Inggris. Berpikir tentang menyelesaikan gelar S.Pd saja sudah alhamdulillah. Mimpi menjadi guru Bahasa Inggris mengantar saya masuk ke jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Yogyakarta lewat jalur tanpa tes. Di tempat itulah saya bertemu banyak teman dan dosen-dosen yang menginspirasi.
Beberapa teman dan dosen pergi ke luar negeri untuk pertukaran mahasiswa atau presentasi karya. Di kelas, tak jarang dosen-dosen bercerita tentang study abroad. Melihat foto tempat-tempat luar nusantara, mimpi itu begitu nyata di depan mata. Ditambah lagi, saya belajar banyak lewat cerita-cerita inspiratif dunia pendidikan Indonesia lewat diskusi di kelas-kelas. Semua itu membuat saya ingin melakukan sesuatu. Sesuatu yang lebih luas cakupannya. Perlahan-lahan, cita-cita saya berubah dari guru menjadi dosen.
Di bangku kuliah, berbagai beasiswa mulai dikenal. Belum pernah sekalipun saya mendapat beasiswa meski sudah apply setiap tahun beasiswa PPA-BBM. Menjelang lulus kuliah, BPI yang dikelola LPDP terdengar di telinga. Beberapa teman lolos beasiswa tersebut, mengambil studi luar negeri. Teman-teman lain ikut termotivasi. Maka, kami sering berkumpul membicarakan persiapan-persiapan beasiswa meskipun belum lulus kuliah.
Waktu tak mau berkompromi. Kami juga harus cepat. Sedikit demi sedikit, skripsi selesai. Di saat yang bersamaan, kami juga mulai belajar bahasa Inggris untuk memperbaiki TOEFL maupun IELTS. Semua butuh persiapan matang. Saya pun rajin membaca maupun mendengarkan berita online bahasa Inggris. Tak jarang, saya bertukar software pelatihan bahasa dengan teman-teman. Saya bahkan ikut simulasi TOELF sebanyak kurang lebih tiga kali, sebelum benar-benar mengambil TOEFL yang diakui.
Skripsi selesai dan bersiap yudisium. Beberapa dari kami mulai membidik universitas tujuan. Mendatangi setiap Education Fair adalah wajib hukumnya. Sebelum lulus pun kami rajin mendatangi Education Fair, tak peduli antrean sepanjang rel kereta. Di sana, kami memanfaatkan stand-stand universitas untuk mendapat informasi semaksimal mungkin.
Sembari mencari universitas tujuan, saya persiapkan segala persyaratan seperti surat rekomendasi, tes kesehatan, SKCK, dan lain sebagainya. Saya tulis semua sertifikat organisasi, seminar, workshop, kepanitiaan, dan segala macam data pendukung. Bahkan untuk benar-benar matang supaya tak terlewat, saya membutuhkan waktu kurang lebih dua bulan merangkum semua. Tujuan saya satu, supaya semua terangkum dan tidak tercecer. Saya rajin memilah-milah kembali mana yang menjadi kekuatan saya. Apa yang bisa saya lakukan untuk masa depan Indonesia.
Lalu saya merancang essay sambil terus memantau peraturan LPDP yang selalu diperbaiki. Bahkan essay ditulis ulang lebih dari tiga kali. Saya berdiskusi pada teman atau dosen tentang bagaimana cara menulis essay yang benar. Laptop menjadi saksi bisu tentang banyaknya draft essay yang telah saya tulis.
Apa kekuatan saya? Mimpi saya? Kontribusi saya? Tujuan saya? Rencana saya?
Saya dapatkan jawaban tentang masa depan Indonesia seperti apa yang ingin saya kontribusikan, setelah merenung selama kurang lebih tiga bulan.
Hal pertama yang saya lakukan adalah berkaca pada diri sendiri. Apa yang saya punya? Kekuatan macam apa yang bermanfaat bagi Indonesia? Kenapa harus mengambil uang rakyat untuk membiayai pendidikan lanjut saya? Dalam bentuk apa semua uang pendidikan ini saya balas nanti?
Saya benar-benar berkaca pada diri sendiri.
Akhirnya saya paham, saya tidak perlu ambil universitas luar negeri. Keputusan mengambil universitas dalam negeri benar-benar matang dan sesuai kebutuhan saya. Awalnya saya ingin apply di Batch 4 2015. Namun saya masih merasa ada yang harus diperbaiki pada mental saya. Maka saya undur dan memutuskan ikut Batch 1 2016.
Saya lengkapi semua persyaratan, mendaftar, dan berdoa sambil cemas-cemas menunggu. Tuhan memberi jawaban lewat sebuah e-mail hari itu. Saya lolos administrasi.
Menuju proses wawancara, saya banyak persiapan. Rajin membaca berita, rajin bercermin untuk latihan wawancara, sampai-sampai memberitahu bapak ibu supaya tidak menganggap saya gila karena berbicara sendiri. He he....
Pada 10 Maret 2016, semua kerja keras selama hampir satu tahun persiapan terjawab sudah. Saya lolos. Dan saya menangis malam itu di pelukan ibu. Di hadapan ayah.
Untuk perjuangan hampir 365 hari menabur mimpi, menapak terjalnya jalan, saya diberi amanah oleh Indonesia. Di atas kaki-kaki kita nantilah Indonesia dipanggul pundak.



Gemolong, Sragen, 21 Maret 2016
15.54 WIB
Di antara gerimis yang bertempias lewat jendela.