Ini tentangku, tentangmu, dan tentang mereka.... Tetes-tetes hujan di setiap sisa ujung hari sengaja aku tampung pada sebuah cawan di sini. Kelak ketika aku, kau, atau kalian lupa, kita bisa menengok dan berkaca pada pantulan air di secawan tetes hujan ini.
Yang mau nyari fan fiction, bisa klik label "fan fiction" sebelah kanan.

Yang mau galau badai menye-menye puitis ria, bisa klik label favorit gue "phoetic phrase".

Any comments are welcomed.... ^_^

Monday, 23 February 2015

Being Somebody






There are many people out there. It means that you are not alone. You are a person who lives with them, right? You are a part of this universe, blending with so many colors of people. This color, that color, or this kind of color. You are a part of this universe. But sometimes, it makes you stressed because you feel that you are nobody between them, between all this kind of things which make the universe exists.
You are nobody. Of course, sometimes, I feel it, too. We are nobody. But, is it true that we can’t be somebody?
When you feel that you are nobody, why don’t you go out there to look with your own eyes, what actually the meaning of being somebody is?
See, the cat, the cart, the bottle, the wheels, the horse, the money, or the food. Maybe, they know about being somebody better than you. For them, being somebody can be done everywhere, at anytime. At least, they know how to make people useful.
Being nobody that makes you stressed is not the end of the world. If you think that you are nobody, or being somebody who can’t be useful, why don’t you make yourself useful for particular people out there? If it’s too difficult for particular people, at least, try to be useful for particular things.
Let’s take the examples.
There are many people who are stressed like you. They need help, they need motivation, they need spirit, they need money, they need food, they need smile, they need an umbrella, they need a ride, they need a hand, they need love, and they need to laugh. They are just like you who are stressed by the life, because bad day can happen in everywhere, at anytime.
Why don’t you try to be somebody for one of them? In the end, you will be somebody for somebody else, even for a hungry abandoned cat.


Yogyakarta, February 21, 2015
22.23 WIB
Room 5 of beloved Aspi Jogja






https://ptrmans.files.wordpress.com/2014/07/alone-in-a-crowd.jpg





Thursday, 11 December 2014

My 8401th day



Pukul 00.02 WIB....

Seandainya manusia bisa merasakan, hidup itu begitu cepat berlalu. Tak akan terasa ketika kita sudah melewati lima tahun, sepuluh tahun, lima belas tahun, dua puluh tahun.... Semua begitu cepat berlalu.

Memang, dunia itu sesingkat usia capung. Ibarat pepatah Jawa, mampir ngombe. Dunia ini, hanyalah persinggahan singkat kita sebelum dunia nyata yang pada akhirnya akan menentukan kita, surga atau neraka.

Dua itu, teman-teman. SURGA, atau NERAKA.

Ah, masih muda ngapain mikirin mati?

Well, mati muda, siapa tahu?
Mungkin kita adalah salah satu anggota daftar malaikat maut yang tergolong mati muda. Ampun, saya masih ada hutang puasa enam hari. Ho ho, sebaiknya segera cepat dilunasi. Insya Allah minggu ini saya cicil.



(to be continued)




01.46 WIB

Aaaaaak . . . . Pengen teriaaaaaaaak!

Tau nggak apa yang baru aja terjadi pas tak tinggal ngetik sejak jam 00.02 tadi?

Jadi gini ceritanya.
Pas aku ngetik paragraf-paragraf paling atas itu, tiba-tiba ada bisikan aneh dari jendela kamar. Kamarku yang deket jalan, otomatis gampang banget jadi target iseng orang-orang. Apalagi tengah malam begini. Siapa tahu pas aku ngecek buka jendela, Mbak Kunti atau Mas Pocong muncul mendadak.

Aku pasang telinga, menghentikan aktivitas menulis barang sejenak. Siapa itu?
Suara bisikan dan sat sut sat sut terus terdengar. Enha, teman kamar samping sempet berbisik lewat balik tembok, "Siapa itu, mbak?"

"Nggak tau, En."

Akhirnya setelah didengar lebih lanjut, ada panggilan memanggil namaku, "Mbak Fatya."

Deg.
Aku melebarkan mata. Suara itu begitu aku kenal. Itu suara kan milik....

"Mbak, ada yang manggil kamu deh kayaknya." seorang adik kos yang masih begadang ngintip masuk ke kamar.

Astaga. Jangan-jangan yang di luar itu.... Oh my God, it's raining!

Bergegas aku jenggiratan, menyambar apa saja pakaian panjang secepatnya untuk segera keluar. Akhirnya aku hanya pakai coat yang panjangnya sebetis dan jilbab langsungan. Well, sudah malam, tak ada yang bakal lihat.

Begitu pintu luar kebuka....

Seorang perempuan berambut panjang berdiri di bawah pohon beringin lampu depan pintu masuk, sambil pegang kue ulang tahun dan kado warna biru.

That's Dykaaa!

Oh my God!

Aku langsung berhambur ke sana, memeluknya.
Teriak dalam hati karena emang nggak bisa ngomong saking shock.
Teriak dalam hati terus menerus. It's midnight, it's raining, and you're coming?

Thank you so much, Dyka.
I love you.
:')

This is my first time receiving midnight surprised. I never have received one midnight surprised before.


Dan kami ngobrol selama hampir dua jam, di depan rumah disertai hujan rintik-rintik.

Makasih, Dyka.
I have no words to be said. 
But I know, you feel what I feel even though I cannot explain it.

I really love this.

And, how do you know that I need a woman bag?
It will be useful for my future. I have planned to buy one since several month ago, but still not have enough money to buy one.

Thank you.
:)





With love,

Fatyana Rach



*note: kapan-kapan gue minta foto yang tadi
XD





Yogyakarta, 11 Desember 2014
02.20 WIB






Sunday, 7 December 2014

Suara-suara




Apa yang keluar dari mulut orang-orang sekitar, adalah suara, kan? Hanya salah satu jenis suara yang bertebaran di muka bumi. Kita tak perlu menyimpannya dalam hati hingga terluka sedemikian parah, hanya karena salah satu jenis suara itu.

Sekali lagi, itu hanya salah satu jenis suara, sama seperti suara kendaraan, suara hujan, suara dangdut di warung-warung, suara terompet tahun baru, atau suara para penjaja koran di lampu merah. Orang-orang yang bercuap-cuap tentang kita, hanyalah mengeluarkan salah satu jenis suara di muka bumi ini lewat mulut mereka.

Kita tak perlu terluka karena suara-suara itu.
Mari nikmati suara mereka sebagai kekayaan suara dunia ini.


(Ditulis oleh Fatyana Rachma Saputri, dengan mata merah dan hidung meler karena pilek. Lalu segera sms bapak, sumber ketenangan saat sedang terluka. Kemudian beristighfar.)



Beberapa sms bapak kemudian membuatku tersenyum dengan tawa kecil.



Thanks mom & dad, you always make me smile.
:)
Love U



"Of course. Good and bad are everywhere."



Buat yang di sana,
*u** your messages and your calls!
I do not want to receive them anymore!
You know nothing about me.
Bye, old man!





Yogyakarta, 7 Desember 2014
22.23 WIB


Monday, 3 November 2014

Dyka's Birthday



Oke guys, balik lagi sama guweh. Setelah postingan sebelum ini melow drama total bikin galau mau gantung diri, sekarang gilirannya cerah ceria membabi buta mau jingkrak-jingkrak bahagia, biar hidup nggak ngenes mikirin takdir dan skripsi. Ha ha ha!

Kali ini ada bahan m̶a̶k̶a̶n̶a̶n̶ tulisan.
Bulan kemarin Dyka ulang tahun tanggalnya g̶u̶e̶ ̶l̶u̶p̶a̶ 24 Oktober. Makin tua. Syukur deh tambah tua. Kalo tambah muda malah gue ketakutan.

Kadonya udah tak rencanain beberapa bulan lalu. Ini pertama kalinya aku beli kado buat Dyka. Lagi punya duit soalnya. Wkwkwk....

Beli cushion deket ring road Condong Catur. Udah biasa beli di situ. Si Dai-chan belinya dulu juga di situ. Tau Dai-chan, kan? Itu lho boneka bear kuning unyu yang suka g̶a̶n̶t̶u̶n̶g̶ ̶d̶i̶r̶i̶ gantungan di tas akyu.


Dai-chan tercintaaa....


Akhirnya dapet deh Rilakuma. Sekitar dua minggu sebelum birthday Dyka. 

Rabu tanggal 22 Oktober 2014, Dyka ternyata mau mudik pulang. Langsung aku cegat kepulangannya. Enak aja, aku beli kado dua minggu lalu tapi ngasihnya telat. Setelah serah terima m̶a̶h̶a̶r̶ ̶k̶a̶w̶i̶n̶ bingkisan, Dyka pamit dan aku mewanti-wanti dia nggak boleh buka itu kado sebelum lewat tanggal ultahnya.

Selesaaai....

Eh, belum. Masih ada traktirannya Dyka. Tanggal 27 Oktober Dyka dah di Jogja. Kita ke WS dan dia yang d̶i̶p̶e̶r̶a̶s̶ nge-boss-in.

XD


Thank you.
<3




Yogyakarta, 3 November 2014
21.51 WIB




Detik dan Waktu #2




Terlalu lama. 

Apa kau tahu bagaimana waktu mempertemukan kita kelak? Atau bahkan tidak mempertemukan sama sekali. Waktu begitu egois. Berlalu dengan sangat cepat tanpa tahu kita sudah menua sedemikian parah. Terlalu cepat, sampai kita tidak sadar bahwa kita sudah berada di ujung detik penantian panjang, yang mungkin akan diakhiri dengan segera.

Tuhan....
Bisakah waktu menjadi karet? Bukan jam karet bermakna molor seperti kata kebanyakan orang. Aku hanya ingin waktu lebih panjang untuk menyiapkan, tanpa takut kehilangan.

Seperti kata-kataku di masa lalu tentang Detik dan Waktu. Kau tahu detik dan waktu? Mereka diciptakan untuk mempertemukan dan memisahkan. Seperti ilalang yang tumbuh muda dan bertemu belalang. Lalu suatu ketika salah satu dari mereka harus pergi... atau keduanya harus pergi. Kemudian detik dan waktu kembali mempertemukan yang lain. Untuk dipisahkan.



Pada akhirnya, aku ketakutan akan melupakan bagaimana senyum di wajahmu itu ada.





Yogyakarta, 3 November 2014
20.10 WIB