Ini tentangku, tentangmu, dan tentang mereka.... Tetes-tetes hujan di setiap sisa ujung hari sengaja aku tampung pada sebuah cawan di sini. Kelak ketika aku, kau, atau kalian lupa, kita bisa menengok dan berkaca pada pantulan air di secawan tetes hujan ini.
Yang mau nyari fan fiction, bisa klik label "fan fiction" sebelah kanan.

Yang mau galau badai menye-menye puitis ria, bisa klik label favorit gue "phoetic phrase".

Any comments are welcomed.... ^_^

Sunday, 21 May 2017

Embun, Kaca, dan Lampu



Biasanya, setelah hujan turun, ada beberapa embun mengendap di kaca. Seperti bulir dingin menempel di gelasmu. Petang kemarin. Lalu ada perbincangan. Orang-orang riuh, bercampur dengan suara tatakan piring, mangkuk, dan gelas. Dan kita lupa, sudah berapa lama lampu di atas menatap kita.

Sebentar saja.
Mungkin beberapa detik bisa mengubah sesuatu. Atau seseorang.

Ini tentang embun yang menempel di gelas kaca, yang disirami lampu pada suatu petang. Mari kita lihat, apakah embun itu akan berpindah ke kaca jendela sebuah rumah di satu pagi nanti, yang lampu depannya masih menyala, lalu kau matikan dengan ujung jari sambil menguap dan tersenyum lebar menyambut matahari, sambil mengucapkan selamat pagi.



Bandung, 21 Mei 2017
09:51 WIB




Thursday, 6 April 2017

Rocketship (OST Little Mermaid 2017)




You always hear people say nothing new from the start
See everybody gots a reason at the fallen apart
And after all no one showed me that it wouldn't be hard to fly
And I remember when I chat tell me who's to far
But I...

Build a rocketship so I could get away
Take me everywhere I want to go
Maybe one day I'll look back and wish I stay
But even rocketship can take me home

And now, I feel gonna strange be all on my own
Cause many stuck upon/on a rocketship and all I'm trying do is get on
And I'm just sitting and looking back thinking if I had know, would I?
Would I be wishing and may this decision is staying be allowed
Cause I...

Build a rocketship so I could get away
Take me everywhere I want to go
Maybe one day I'll look back and wish I stay
But even rocketship can take me home

You always hear people say nothing new from the start
But I...

Build a rocketship so I could get away
Take me everywhere I want to go
Maybe one day I'll look back and wish I stay
But even rocketship can take me home

Build a rocketship so I could get away
Take me everywhere I want to go
Maybe one day I'll look back and wish I stay
But even rocketship can take me home





Monday, 3 April 2017

Hanya Terpaut 1446 Tahun



Udara yang aku hirup ini, mungkin pernah kau hirup juga.

Air yang aku minum ini, mungkin bekas air matamu di sujud malam yang panjang.

Tanah yang menjadi debu, melintasi laut, dan mengendap di bingkai jendela kamarku, mungkin pernah mengendap di pakaianmu.

Kita memang terpaut jarak 1446 tahun. Jarak yang sangat sebentar sekali. Hanya terpaut 23 generasi yang lahir lalu mati. Jika Tuhan mengizinkan aku lahir lebih cepat, barangkali aku bisa bertemu denganmu.

Namun, jika memang aku terlahir pada masamu, aku khawatir bahwa aku menjadi salah satu dari orang-orang yang meludahimu atau melemparimu dengan batu.

Maka, begini lebih baik. Apa adanya lebih baik. Terlahir di masa ini lebih baik. Karena aku bisa merasakan bagaimana rindu padamu itu ada.





Bandung, 3 April 2017
15:05 WIB


Friday, 31 March 2017

Mangrove Jogja: Kisah Pesanan Satu Tahun Lalu




Saya senang menggambar. Saya senang membuat poster. Jaman kuliah S1, saya juga memegang posisi Kepala Divisi III EDSA bidang English Library, Information, and Technology. Masih ada lagi plakat-plakat atau kenang-kenangan untuk pembicara pada event tertentu semacam seminar atau workshop. Tentu jasa percetakan sangat penting pada masa-masa itu. Apalagi skripsi saya adalah pembuatan media belajar berupa buku yang full-colour. Maka, salah satu (mungkin satu-satunya) tempat jasa percetakan yang saya percaya adalah Mangrove Jogja, letaknya di dekat FT UNY.


Ada sebuah kisah, berawal dari bulan Maret tahun lalu, pada 2016. Sebelum sampai bulan Maret, kita melompat lebih jauh ke belakang dahulu. Sekitar akhir tahun 2015. Seperti biasa setelah lebaran, teman-teman sekelas saya di SMA (IA2 a.k.a Choro2), mengusulkan untuk membuat plakat pernikahan. Maka kami pun sepakat. Saya menjadi penanggung jawab untuk memesan plakat. Akhirnya saya pilih Mangrove Jogja karena saya percaya di sana paling baik. 


Sekitar bulan Januari/Februari, kami memesan lima (5) plakat dahulu. Karena saya sudah lulus dari UNY, maka harus beberapa kali bolak-balik Solo-Jogja demi mengurus plakat. Beruntung, ada anak-anak di rumah kontrakan lama yang masih menyambut saya untuk menginap. Lagipula saya juga ada proyek bersama dosen kala itu. Jadi, sekalian saja bolak-balik Jogja sambil mengurus plakat beserta pekerjaan.


Tak butuh waktu berminggu-minggu, plakat yang dipesan telah jadi. Hasilnya memuaskan. Saya memutuskan untuk orderan berikutnya tetap di Mangrove Jogja. 


Pada tanggal 6 Maret 2016, saya sudah menghubungi salah seorang karyawan Mangrove Jogja (nama disamarkan, sebut saja Pak Fira) untuk pesan ulang. Beliau adalah orang yang sama dengan yang melayani saya saat memesan lima (5) plakat sebelumnya. Nah, pesanan kali ini sebanyak lima belas (15) buah plakat. Waktu itu, saya tidak bisa datang ke Jogja. Kami berhubungan via pesan di ponsel. Karena saya sudah percaya dengan pihak Mangrove Jogja, saya minta nomor rekening untuk dilunasi hari itu juga via transfer ATM. Pak Fira pun memberikan nomor rekening. Saya percaya-percaya saja. Uang sebesar Rp1.350.000,- pun tertransfer dengan sukses. Sebagai bukti transfer, saya foto beberapa detik setelah struk keluar dari mesin ATM. Bahkan posisi masih di dalam kotak kaca ATM (sekalian numpang AC, ha ha!).


Selama satu minggu, Pak Fira selalu lapor jika saya tanya. Beliau tidak berani cetak langsung banyak. Maka, beliau menawarkan untuk mencetak dua buah plakat dahulu. Kalau sudah oke, sisanya yang tiga belas (13) plakat langsung dilanjut. Karena saya percaya, ya oke-oke aja. 


Plakat sudah jadi. Saya baru bisa mengambilnya beberapa minggu kemudian. Itupun karena ada teman Choro2 yang akan menikah. Jadi, plakat pernikahan harus diambil hari itu juga.


Dalam satu hari, saya bolak-balik Solo-Jogja. Berangkat dari Solo sekitar jam 10-11an pagi. Selama dalam kereta, saya hubungi Fuji (adik kos yang masih di Jogja) untuk mengambilkan plakat di Mangrove Jogja dan mengantarnya ke Stasiun Lempuyangan di Jogja. Kenapa? Karena saya harus mengejar kereta pulang sesampainya di Lempuyangan. Alhasil, begitu sampai di Lempuyangan, saya langsung beli tiket kereta pulang. Fuji datang mengantar dua (2) plakat. Saya langsung masuk kembali ke kereta. Di Jogja bahkan tak sampai dua jam, langsung balik ke Solo.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, sesekali plakat saya tanyakan kepada Pak Fira. Beliau selalu bilang sedang dalam proses. Saya menunggu... menunggu.... Bahkan saya sampai bilang, beliau harus menghubungi saya begitu plakat selesai. Tapi sampai bulan Juni, Pak Fira tak pernah menghubungi duluan. Bahkan saya adalah pihak pertama yang aktif menghubungi. 


Menginjak bulan Juni, saya mulai kesal dengan pihak Mangrove Jogja. Pesan saya mulai jarang direspon Pak Fira. Saya sempat mengirim pesan agak kesal ke beliau. Lalu beliau minta maaf jarang respon karena istrinya sedang melahirkan. Saya menjadi legowo. 

Legowo.... Ya sudah. Tidak apa-apa.

Pada bulan Juni-Juli itulah saya ada kesempatan pergi ke Jogja untuk memesan plakat pembicara di PK saya, kebetulan saya diterima beasiswa LPDP RI dari Kementerian Keuangan, batch 1 2016 dan mendapat PK-70 yang dilaksanakan 18 Juli 2016. Maka, sebanyak lima belas (15) papan kayu berukuran kecil sekitar 3 x 5 cm saya pesan atas nama angkatan PK. Papan itu sebagai tempelan pada souvenir untuk pembicara (yang kala itu ada kemungkinan para menteri dan orang-orang hebat yang menerima, bahkan mungkin Pak Habibie dan Pak Chairul Tanjung). 


Karena mumpung ada di sana, pertanyaan tentang nasib plakat pun tak terhindarkan. Masa iya, pesan bulan Maret, tapi pada Juni belum jadi? Selama itukah bikin plakat? Sudah tiga bulan sejak pemesanan, loh! Saat itu, Pak Fira tidak ada di tempat. Ada karyawan lain, tapi jawabannya nggak yakin tentang nasib plakat saya. Karyawan itu meminta saya untuk langsung menghubungi Pak Fira saja. Lah, gimana mau menghubungi? Pesan aja cuma dibaca, nggak dibales!

Saat itu, saya masih beranggapan baik pada Mangrove Jogja. Mungkin mencetak tiga belas (13) plakat butuh waktu berbulan-bulan.

Papan kayu angkatan PK tidak bisa diambil cepat. Saya pun meninggalkan Jogja karena harus pergi ke Depok-Jakarta. Harus bolak-balik juga ke Kementerian Keuangan. Papan kayu pesanan di Mangrove Jogja akhirnya diambil Pak Mahendra, rekan satu angkatan di PK-70 LPDP, yang menjadi Kaprodi Akuntansi FE UNY. Baru kali ini saya menyuruh seorang kaprodi. Seru juga rupanya, karena hanya di PK LPDP seorang dosen bisa jadi anggota kelompok yang diketuai mahasiswanya sendiri. Ha ha ha.... Saya dan beliau jadi dekat karena saat itu saya jadi Wakil Ketua angkatan sedangkan Pak Mahendra adalah ketua kelompok. Terima kasih, LPDP.


Hari kembali berlalu. Bulan berganti. Saya mengurus status saya sebagai mahasiswa baru pascasarjana UPI. Bolak-balik Depok-Solo-Bandung. Tak sempat lagi menyambangi Jogja. Tapi sesekali sempat saya hubungi Pak Fira. Kalau tidak salah pada bulan Agustus, kemudian Oktober. Pada bulan Agustus, katanya plakat sudah ada. Mau dikirim. Tapi, anehnya, beliau tidak pernah meminta alamat tujuan pengiriman. Seharusnya kalau yakin sudah jadi, langkah yang harus dilakukan adalah tanya alamat tujuan pengiriman, bukan? Saya coba telepon. Kok tidak aktif?

Besoknya saya telepon lagi. Kok masih nggak aktif?
Hilang? Lari?

Dari sana, saya mulai merasa curiga. CURIGA.

Jangan-jangan....

Ah, jangan berprasangka dulu. Kita tunggu saja.

Saya kembali menunggu, menunggu... MENUNGGU! Sampai akhirnya muak! 
Sudah banyak janji-janji yang diberikan Pak Fira, tapi mana buktinya?


Maret 2017 pun datang.
Teman ada yang mau menikah lagi. Otomatis plakat itu akan dibutuhkan. Mau tidak mau saya hubungi nomor Pak Fira. Ternyata nomor benar-benar tidak aktif. Mati.

Saya bingung harus menghubungi siapa. Akhirnya saya cari contact person Mangrove Jogja yang terbaru. Bertemulah saya dengan Pak Ari (kali ini nama sebenarnya) via telepon pada 5 Maret 2017. Setelah via telepon, saya kembali hubungi via pesan ponsel. Saya jelaskan secara panjang lebar lewat pesan di ponsel. Lalu, apa yang saya dapat dari beliau?

Tulisan-tulisan ini....

"Oh, Pak Fira sudah nggak bekerja di Mangrove, Mbak."

JDUAAAR!

Saya melongo. HAH? APA-APAAN INI?

"Sejak kapan ya, Pak?" Tangan ini mulai panik mengetik.

"Sekitar Agustus."

Detik itu juga, saya sadar bahwa ada kemungkinan uang Rp1.350.000,- itu sudah hilang dan tak bisa kembali.

Saya jelaskan lagi bahwa saya telah transfer uang ke rekening pribadi Pak Fira. Saya kirim juga foto bukti transfer ATM yang dijepret setahun lalu.

Pak Ari membalas pesan, "Oh, ini rekening pribadi Pak Fira? Tidak transfer ke rekening Mangrove?"

"Saya malah baru tahu kalau Mangrove ada rekening sendiri. Saat itu, saya dikasih rekening Pak Fira, ya saya ikut dan percaya saja, Pak."



Beliau minta waktu beberapa hari untuk cek. Beberapa hari kemudian, ada kabar bahwa tak ada nominal sebesar Rp1.350.000,- masuk ke catatan pembayaran Mangrove.


Ah, saya tertipu!
TERTIPU OLEH KARYAWAN MANGROVE JOGJA.


Tapi rasa marah itu tak berlangsung lama. Pak Ari meminta maaf, lalu akan membuatkan plakat secepatnya. Detik itu juga, saya sadar bahwa ini bukan kesalahan Mangrove Jogja. Tapi kesalahan karyawan yang tidak bertanggung jawab. Pak Ari merekomendasikan saya untuk menghubungi Pak Rosyd di bagian akrilik. Saya pun ngikut saja. Pak Rosyd menyambut baik. Membuatkan plakat dengan cepat.


Kini, sudah sekitar seminggu komunikasi dengan Pak Rosyid berlalu. Dan malam ini, beliau mengabarkan bahwa tiga belas (13) plakat sudah jadi, siap diambil.


BAYANGKAN!
Tiga belas (13) plakat sudah jadi dalam waktu kurang lebih satu minggu. Sedangkan Pak Fira butuh setengah tahun untuk konfirmasi plakat selesai (meski nggak pernah dikirim ke alamat saya). Ha ha, lucu ya? Apa yang dilakukan Pak Fira sebenarnya?


Saat ini, saya tak tahu nasib Pak Fira dengan pihak Mangrove Jogja. Yang penting, pesanan saya sudah siap ambil dan masalah selesai.


Saya bersyukur dan berterima kasih atas profesionalisme pihak Mangrove Jogja yang mengurus kasus ini dengan sangat baik. Namun, di sisi lain, saya kecewa dengan Pak Fira.


Sekali lagi, saya tegaskan bahwa Mangrove Jogja merupakan penyedia jasa cetak yang sangat profesional. Tak ada keraguan di sana. Kasus seperti milik saya ini bisa terselesaikan dengan mempertimbangkan kenyamanan dan kepercayaan customer.


Terima kasih banyak, Pak Ari dan Pak Rosyd. Terima kasih Mangrove Jogja. 
Semoga tak ada lagi karyawan-karyawan tak berkompeten yang bergabung di tempatmu.





Bandung, 31 Maret 2017
22:26 WIB












EDITED:

Baru saja pagi ini, 1 April 2017, ada penjelasan tambahan dari Pak Rosyd. Ternyata, pesanan plakat saya, yang tiga belas (13) biji itu, sebenarnya sudah masuk orderan. Tapi terlupakan. Entah, saya nggak tahu kenapa orderan saya bisa terlupakan. Tapi saya berasumsi baik, bahwa memang orderan via transfer mungkin masih jarang dan belum terbiasa dihadapi Mangrove Jogja, sehingga beberapa administrasi mungkin terlewat. Ditambah lagi, Pak Fira juga tidak bekerja di sana lagi, jadi mungkin tidak ada orang yang mengingatkan pesanan saya kepada bagian percetakan. Jadi, mungkin Pak Fira tidak bersalah. Hanya miss-communication saja.




Thursday, 23 March 2017

So Close





So close, together.
So close, to reach you.

But, "close" is just "close".
It may touch the happy end, and may not.
So close, and it's still so far.


Pernahkan kita menoleh ke belakang sejenak? Pada sejarah, pada kisah, pada apa-apa yang telah kita rencanakan. Apakah hanya aku saja yang menciptakan apa-apa itu di kepala? Padahal semua tak ada di realita. Am I the one who has the day dreaming?


Lebih baik tidak sama sekali, dibanding nyaris tapi tak terjadi.
Bukankah "nyaris" itu lebih menorehkan luka dibanding "tidak sama sekali"?


Jika kau adalah danau, maka aku ingin menyelami dalamnya. Ingin tahu apa yang kau simpan di dasarnya. Ingin tahu lebih jauh apa yang tersembunyi di balik tenangnya permukaan. Apakah kau bergejolak di dalam sana? Penuh ragu, penuh pertimbangan, penuh kewaspadaan.... Atau apakah memang pada dasarnya kau setenang permukaan karena telah yakin apa yang akan kau lakukan?

So close, and it's still so far.



Bandung, 23 Maret 2018
22:50 WIB

Pottermore 2





Bulan ini kayaknya aku keranjingan Pottermore deh.... Ha ha ha....
Setelah kemarin melakukan lima percobaan secara komplit, maka aku melakukan percobaan lagi yang keenam.


Percobaan keenam
Patronus: Snowy Owl (Unusual)
Hogwarts House: Slytherin
Ilvermorny House: Tunderbird
Wands: *** (lupa)


Percobaan ketujuh
Patronus: Wildcat
Hogwarts House: Gryffindor
Ilvermorny House: Pukwudgie
Wands: Pine wood with a Dragon heartstring core 11 ¾" and Supple flexibility





Patronus lain yang pernah dicoba:
Buzzard
Beagle
Otter (kayak Hermione)
Deerhound
Snowy Owl (Unnusual)
Wildcat



Well, penasaran ingin mendapatkan magical creatures sebagai patronus. Karena itu sangat rare.






Bandung, 23 Maret 2017
19:11 WIB


Sunday, 19 March 2017

Pottermore 1



Siapa yang suka Harry Potter?

Meski website resmi Pottermore sudah ada bertahun-tahun lalu, aku mulai bulan Januari tahun ini mencoba-coba.

Jadi ceritanya, bulan Januari lalu adalah liburan panjang setelah semester 1 berlalu. Di rumah, kerjaan cuma main Internet aja, mumpung ada wi-fi rumah yang bisa dipakai pol sampe jebol. Nah, aku nonton Harry Potter berbagai seri. Setelah itu jadi kepikiran coba Pottermore, pengen tahu patronusku apa. Jadi, aku dapat ini nih!


Percobaan pertama
Patronus: Mink
Hogwarts House: Hufflepuff
Ilvermorny House: Pukwudgie
Wands: *** (lupa)


Terus, hari ini aku coba tiga kali lagi. Coba apa yang aku dapat?


Percobaan kedua
Patronus: Mink
Hogwarts House: Slytherin
Ilvermorny House: Pukwudgie
Wands: *** (lupa)

Percobaan ketiga
Patronus: Fox Terrier
Hogwarts House: Slytherin
Ilvermorny House: Pukwudgie
Wands: *** (lupa)

Percobaan keempat
Patronus: SHARK (unusual patronus)
Hogwarts House: Gryffindor
Ilvermorny House: Tunderbird
Wands: Sycamore wood with a Unicorn hair core 10 ¾" and Slightly Springy flexibility



Nah, kalau dirata-rata dari hasil kuis di atas, aku ini adalah seorang Mink yang ada di Slytherin dan Pukwudgie.

Mink - Slytherin - Pukwudgie

Bagaimana?

Aku jadi penasaran ingin mencoba lagi. Kita lihat hasil rata-rata seperti apa.



Geger Kalong Girang, 19 Maret 2017
22:40 WIB
Di sela-sela ngerjain Functional Grammar














EDITED:

Percobaan kelima secara KOMPLIT, alias mencakup patronus, Hogwarts House, Ilvermorny House, dan Wand.


Percobaan kelima
Patronus: ORYX (unusual patronus)
Hogwarts House: Slytherin
Ilvermorny House: Tunderbird
Wands: Sycamore wood with a Dragon heartstring core 11 ¾" and Slightly Springy flexibility






Selain itu, hari ini (20 Maret) aku mencoba beberapa kuis patronus. Ini yang aku dapat.


Fox
Grey Squirrel
Swift
Orangutan
Tonkinese Cat
Deerhound
Black Bear (Uncommon)
Hedgehog
Russian Blue Cat
Oryx (Uncommon)





Monday, 31 October 2016

Perempuan Kecil yang Menyukai Dongeng


http://www.enchantedfairies.com.au/




Perempuan kecil sepulang sekolah
Girang mengangkat majalah
Rebah di kasur, tengkurap
Hilang di rimba dongeng

Perempuan kecil, sepulang sekolah
Berwajah kusut muka lelah
Bercerita pada diary
Tentang hutan yang berkhianat

Perempuan kecil, sepulang sekolah
Terus saja berlari, pindah rimba
Karena beda belantara, beda buasnya
Untung saja rimba yang ini ada sungai sejuknya

Kini perempuan kecil, tidak lagi pulang sekolah
Mengembara, melebihi perbatasan kota
Mengejar apa yang dulu dibacanya dalam dongeng
Karena akhir cerita, selalu ada "mereka hidup bahagia selamanya"

Perempuan kecil, tidak lagi pulang sekolah
Sadar bahwa semua dongeng tak menjamin nyata
Tapi apa salahnya berlari?
Selama masih punya kaki

Perempuan kecil, tidak lagi pulang sekolah
Menulis dongengnya sendiri
Membuatnya jadi nyata
Satu demi satu, memang dongeng bisa nyata

Perempuan kecil
Yang dulu gemar membaca dongeng
Lalu mulai menulis dongengnya sendiri
Adalah perempuan yang sekarang menulis dongeng ini




Bandung, 31 Oktober 2016
UPInet Kelas B
14:53 WIB (Jam UPInet)












Wednesday, 26 October 2016

Suatu Senja dan Empat Voucher Nakamura








Awalnya, aku tidak mengenal apa itu Nakamura. Pertama mengenal adalah pada suatu senja menjelang Maghrib di bulan Oktober, di depan Bandung Indah Plaza (BIP). Seorang laki-laki muda menghampiriku dan menjelaskan sebuah program untuk membantu wanita pengidap kanker. Aku tertarik ikut menyumbang. Sebagai gantinya, laki-laki itu –yang ternyata masih mahasiswa semester tiga– memberiku buku berisi banyak voucher. Salah satunya adalah voucher dari Nakamura. Aku tak tertarik karena aku tidak tahu apa itu, tapi tetap saja aku buka-buka buku voucher itu sambil menunggu angkot. Kebanyakan adalah voucher makan di beberapa kafe dan restoran.
Sampai kos, sembari istirahat, aku buka-buka lagi voucher tadi dan mulai tertarik dengan Nakamura. Kebetulan beberapa hari terakhir, badanku capek serta lelah setelah tumpukan tugas kuliah. Apalagi program pascasarjana dituntut lebih aktif dan produktif. Akhirnya, aku merencanakan sebuah hari di mana aku akan ke Paskal Hypersquare, tempat di mana Nakamura cabang Bandung berada.
Tepat pada hari Senin tanggal 24 Oktober, sepulang kuliah, aku menuju daerah Pasir Kaliki. Naik angkot jurusan St. Hall - Lembang, berangkat dari UPI, bayar Rp7.000,-. Agak buta arah karena belum pernah ke Paskal Hypersquare, untung ada teteh cantik satu angkot yang memberi arahan dan cara bagaimana kembail ke UPI.
Setelah perjuangan (haelah), akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Sempat bertanya pada petugas satpam sebelum menemukan papan penanda milik Nakamura. Aku segera masuk dan disambut ramah oleh teteh cantik berpakaian yukata, alias pakaian tradisional Jepang. Sejenak mengobrol, tak lupa aku serahkan salah satu voucher tambahan tiga puluh menit. Lalu aku dipersilakan menunggu beberapa menit. Sembari menunggu, aku sempatkan melihat papan pengumuman di ruang tunggu dan menemukan pamflet Writing Competition ini, he he....
Tak terasa beberapa menit berlalu, aku dipersilakan masuk ke ruangan. Pertama kali masuk, waaah.... Suasananya benar-benar tenang, syahdu, damai, pokoknya bikin rileks seketika. Apalagi alunan lagu klasik yang enak banget buat tidur. Lampu temaramnya membuat mata ikut rileks.
Si teteh menanyakan di mana aku ingin memilih ruang. Aku pilih saja yang reguler. Lalu aku dipersilakan duduk di kursi (sofa?) panjang sedangkan teteh beryukata itu pergi ke belakang. Ia datang lagi membawa baskom air hangat untuk kaki. Direndam sejenak, dilap pakai handuk, dan mulai pemijatan, dari jari-jari kaki sampai ujung rambut. Benar-benar nyaman sekali. Saking nyamannya, aku nyaris tertidur, ho ho.... Tak terasa, dua jam sudah lewat. Cepat sekali.
Setelah selesai, aku ditawari mau minum apa. Aku memilih jahe hangat. Hm, badan langsung seger kembali. Begitu habis air jahe dan duduk santai beberapa menit untuk meringankan badan, tiba saat pembayaran. Naaah.... Biasanya ini yang bikin jantung dag dig dug. Habis berapa? Mahal nggak? Kalo mahal gimana?
Aku ke kasir dan menunggu si teteh cantik menghitung total. 
"Seratus dua puluh ya, teh." Kata si teteh ramah.
Aku mengernyit, "Loh, bukan seratus tiga puluh? Di daftar harga seratus tiga puluh."
Si teteh menjelaskan dengan hangat bahwa ada diskon tambahan 10%. 
Oh, begitu rupanya. Lumayan terjangkau kocek, ya. Apalagi aku dapat tambahan voucher tiga puluh menit. Total dua jam.
Akhirnya balik kos ke UPI naik angkot lagi. Tapi jurusan St. Hall - Lembang nggak muncul-muncul, padahal udah hampir Maghrib. Akhirnya aku naik angkot jurusan Bandung Electronic Center (BEC), lalu oper angkot ke UPI naik jurusan Kalapa - Ledeng. Selamat sampai kos deh.
Malam harinya, aku bisa tidur nyenyak banget tanpa terbangun tengah malam. Bangun-bangun sudah jam enam pagi. Untung lagi nggak sholat. Langsung saja mandi dan berangkat kuliah karena ada kelas jam tujuh.
Kayaknya aku bakal ketagihan datang ke sana, deh! Suasananya nyaman, begitu tradisional. Apalagi karyawannya memakai yukata atau kimono. Jadi merasa di negeri sakura beneran. Pelayanannya oke dan sesuai dengan rogohan saku kita. Cocok buat relaksasi habis ujian semester nanti. Toh, masih punya tiga voucher lagi. Wkwkwk....

Geger Kalong Girang, Bandung
25 Oktober 2016
20:54 WIB

 

Oh iya, sempat selfie juga dan rekam tempatnya loh.

 Ini suara gemericik air mancurnya bikin kuping seger.



 Papan penanda, jadi gampang banget ketemu sama jodoh (eh?)



 Bagian resepsionis, teteh cantik yang jaga lagi sembunyi, wkwkwk.... (bercanda)



Ini suasana dalamnya. Beneran serasa di Jepang. Ho ho....



Ada videonya juga loooh.... Ini suasananya. Taraaa! Jeng, jeeeng....

video
Ini pintu masuknya. Maafkan hape saya yang agak modot-modot. Mwuahahaha....



video
Nah, kalau yang ini situasi halaman luas Paskal Hypersquare. Yuk mari ke sini, gampang banget jalurnya. 
^_^
















Sunday, 21 August 2016

Bungkus Kopi





BUNGKUS KOPI
Fatyana Rach


ALEX Buntala menjentikkan jemarinya yang terselip rokok. Putung berserak dalam asbak di tengah meja, tepat di samping kopi yang tampaknya mendingin.
“Pesanannya, Pak.” Seorang pelayan kafe menghampiri ramah. Sigap meletakkan satu cangkir kopi lagi menemani cangkir kopi yang tadinya sendiri di meja.
Kebersamaan itu tak berlangsung lama. Alex memberi kode untuk menyingkirkan kopi dingin. Sang pelayan mengambil cangkir kopi yang mendingin dan undur diri sopan,
Alex meletakkan rokok di ujung asbak. Tangannya berganti meraih cangkir yang mengepulkan uap panas. Ia menghirup aroma kopi berharga puluhan ribu itu dengan ekspresi tenang. Lalu bibirnya menempel di cangkir dan menyeruput perlahan.
Ah, kopi panas memang lebih nikmat dibanding kopi dingin. Itulah sebabnya ia rela memesan satu cangkir kopi baru untuk membuang yang lama. Tak masalah.
***

“PAK, kopinya. Empat ribu.” Seorang remaja laki-laki menawarkan dagangan kepada orang-orang yang lalu-lalang di sekitar Malioboro. Panji Kahuripan, remaja itu, berusia sekitar tujuh belas tahun. Setiap sore sepulang sekolah, ia menggendong kotak plastik besar di depan perut berisi aneka minuman sachet. Juga termos air panas dalam jinjingan. Tak lupa rokok yang bisa dibeli eceran.
“Panji!” sebuah sapaan memanggil.
Kepala remaja laki-laki itu menoleh cepat. Namun rasanya ia ingin segera membuang muka setelah tahu siapa yang memanggil. Dua teman sekelasnya.
“Kau di sini rupanya.” Catur Mandala, laki-laki berkaca mata yang hobinya main play station, melangkah mendekat.
Di belakangnya, seorang remaja laki-laki lain mengekor. Ia Joshua Yoon, satu-satunya murid blesteran di kelas mereka. Tentu wajahnya ganteng dan rambutnya agak kecoklatan alami.
“Aku pikir hanya rumor.” Catur berhenti satu meter di hadapan Panji.
Sedangkan yang diajak bicara hanya mematung. Kedua tangannya tanpa sadar menggenggam pinggiran box jualan dengan erat.
Joshua mencondongkan tubuh ke depan, seolah memastikan bahwa sosok yang berjualan keliling di hadapannya adalan teman sekelas mereka. “Ah, ternyata bukan rumor ya? Tapi beneran.”
Panji melirik dagangannya. Lalu mengangkat wajah dengan muka datar. “He he....” tawanya hambar. “Kalian mau beli?”
***

SIARAN musik terdengar dari radio mobil. Alex Buntala memacu mobilnya keluar dari mall terbesar di Yogyakarta itu ketika langit bersemu jingga di ufuk barat. Ia menuju apartemen ketika ponselnya berdering.
Matanya melirik layar. Tangan kanan Alex segera menggeser layar untuk menerima telepon dan mengaktifkan speaker. Lalu kembali sibuk di kemudi mobil.
Hei, Alex. Kau luang malam ini?” Suara seorang teman menyapa di seberang telepon. David Kurniawan.
“Hm.” Alex membalas malas.
Ayo nongkrong. Malam minggu nih!” Suara lain menyahut di seberang. Tanpa diberitahu, Alex tahu siapa dia. Bryan Jefri. Dua sosok itu adalah teman baik Alex sejak beberapa tahun silam.
Laki-laki yang sibuk dengan kemudi mobil mendesah. Lagi?
Ia mulai lelah pada dua temannya itu. Meski tak pernah bilang apa-apa, Alex tahu bahwa dirinya hanya dimanfaatkan. Bryan dan David memanfaatkan isi dompet Alex. Ah, tak masalah. Mau bagaimana lagi, sulit menemukan teman bersenang-senang yang cocok di usia tiga puluhan tahun begini.
“Oke.” Alex tersenyum kecut. “Kalian ada di mana? Biar aku jemput.”
***

DUA gelas kopi terseduh air panas di bangku sekitar Malioboro. Bibir Panji Kahuripan bungkam. Ia tak bicara sejak pesanan ini terucap dari sang pembeli. Tangan Panji mengaduk dua gelas kopi instan secara canggung.
Tentu saja canggung. Ia tengah membuatkan kopi untuk dua teman sekelasnya. Ah, rasanya ia ingin sembunyi saja selamanya. Kenapa sangat malu begini?
“Sejak kapan kau menjalani rutinitas ini?” Catur Mandala membuka percakapan setelah sekian menit mereka saling diam.
“Setahun.” jawab Panji sekenanya. Ia menyerahkan dua gelas kopi. “Setelah ayahku yang tukang judi itu lari entah ke mana, dan aku harus membantu ibu. Kami masih harus memikirkan dua adikku yang masih SD.”
Joshua Yoon menerima yang pertama karena duduk lebih dekat. “Ah, menyenangkan sekali bisa mencari uang sendiri, ya. Kau hebat, Panji.”
Panji melirik Joshua. Benarkah siswa paling tampan di kelasnya itu baru saja memujinya?
Catur mengangguk setuju. Ia menerima kopi Panji. “Kenapa tidak mengajak kerjasama denganku, Panji? Kita bisa membuka kedai kopi bersama-sama. Kakakku seorang barista. Kita bisa belajar dari dia untuk membuka kafe.”
Panji tertawa kecil. “Ah, jangan mimpi terlalu tinggi. Apalah aku dibanding kalian. Tak punya modal besar untuk buka kafe.” Ia memberesi bekas sachet kopi instan untuk dimasukkan ke dalam plastik sampah. Tak boleh membuang sampah sembarangan.
Joshua menurunkan gelas kopi yang tadi menutupi bibirnya. “Aku tidak suka kau bicara membandingkan kita.” Wajahnya berubah serius.
Panji tersenyum. Kali ini lebih hangat. “Kadang, aku malu pada kalian.”
Catur mengernyit. “Selama kau tidak mencuri, jangan malu.”
“Ha ha, benar.” Panji tertawa garing. “Seharusnya yang malu cukup ayahku saja.”
Jalan Malioboro begitu ramai malam ini. Kendaraan berjejal mengantre lewat. Sesekali, kereta kuda berketipak di antara mesin-mesin kendaraan.
So, jadi mau buka bisnis bareng?” Joshua tersenyum lebar. “Aku mau jadi pengusaha muda.”
Catur meletakkan gelas kopi di bangku, tepat di sampingnya. “Karena kita belum punya tanah, kita mulai dengan membuka stand pinggir jalan.” Ia tersenyum lebar. “Biar aku tanya kakakku dari mana mendapatkan biji kopi murah berkualitas.”
Ini Yogyakarta. Banyak pengusaha muda terlahir dari kota ini, dari mahasiswa-mahasiswa yang menuntut ilmu di sini. Bagi mereka bertiga, tak perlu menunggu jadi mahasiswa untuk berwirausaha.
***

“Yuhuuu!!!” Bryan Jefri bersorak girang di kursi belakang. “Kali ini Alex akan mentraktir kita lagi!”
David Kurniawan yang duduk di samping kemudi Alex Buntala tertawa renyah. “Ah, kita harus berterima kasih pada Alex atas kemurahan hatinya.”
Kepala Bryan muncul di antara mereka berdua. “Bersyukurlah, Alex. Menjadi manager di perusahaan kopi terkenal tidaklah kesempatan yang bisa dimiliki semua orang.”
Di balik kemudi, Alex mengulum senyum tipis. “Kalian mau pergi ke mana?”
“Bar?” David menjawab antusias.
Alex berdecak. “Ah, terlalu mainstream. Tak ada yang berubah dari minggu ke minggu.”
“Lalu kau mau merekomendasikan ke mana?”
“Malioboro?” Alex memutar kemudi menuju jalan yang akan membawa mereka ke sebuah tempat. “Mari kita coba makanan murah-murah di sana.”
Wajah David dan Bryan terlihat tak puas.
Mobil memasuki Malioboro dan terparkir rapi di halaman Museum Benteng Vredeburg. Mereka bertiga keluar mobil.
Mata Alex mengamati sekeliling sejenak. Suasana malam. Lalu ia melihat seorang penjual kopi asongan yang duduk di bangku tak jauh darinya.
“Kalian mau kopi?” Alex menawarkan kepada dua temannya tanpa mengalihkan tatapan dari si penjual.
“Kopi di pinggir jalan?” Mata David dan Bryan melebar dengan kalimat yang nyaris terucap bersamaan.
Alex mengulum senyum. Kedua kakinya terayun. “Kenapa tidak?”
***

Tiga remaja laki-laki itu sedang tersenyum cerah merencanakan masa depan mereka setelah lulus dari bangku SMA, ketika tiba-tiba seorang laki-laki berkemeja rapi menghampiri.
“Kopinya masih ada?”
Panji Kahuripan, salah satu dari remaja yang tengah berbincang itu, mendongak. Ia terbata mengangguk. “Masih, Mas. Mau kopi yang mana?”
Ketika sang laki-laki berkemeja rapi itu sibuk memiih kopi, Panji melihat dua orang yang juga berpenampilan kelas atas menghampiri mereka.
“Kau masih memburu aneka jenis kopi, Alex?” Salah satu dari mereka mengernyit kepada laki-laki yang sedang memilih kopi sachet.
Yang ditanya tak menjawab. “Ini.” Melainkan menunjuk salah satu sachet kopi instan.
Panji dengan cekatan memotong rentengan sachet kopi dan segera menyiapkan gelas.
“Alex?” Salah satu teman yang berpenampilan berkelas menunjukkan layar ponsel. “Sepertinya aku dan Bryan harus pergi. Gilang baru saja mengirim pesan untuk mengajak nongkrong bareng.”
Laki-laki yang tadi memilih kopi membalikkan badan. “Kenapa tidak minta dia ke sini saja? Biar rame?”
Dua orang temannya berwajah tak setuju. “Tidak. Kami akan menemui Gilang. Dia akan menjemput kita ke sini.”
Dari sudut mata Panji, ia melihat laki-laki yang tadi memilih kopi tersenyum kecut.
Panji dan laki-laki itu seperti dua sisi kaca. Saling berkebalikan.
Seperti kopi, manusia tak pernah meminta dimasukkan ke kehidupan yang seperti apa. Karena biji-biji kopi tak pernah bisa memilih di mana mereka akan dibungkus. Apakah di kemasan terkenal yang akan digiling di mall, atau dalam sachet murahan di gerobak asongan.
Satu hal berharga yang tak boleh terlewat. Dengan siapa kita menikmati kopi, jauh lebih penting dibanding brand pada bungkus kopi.

Bandung, 21 Agustus 2016
23:49 WIB




Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com