Ini tentangku, tentangmu, dan tentang mereka.... Tetes-tetes hujan di setiap sisa ujung hari sengaja aku tampung pada sebuah cawan di sini. Kelak ketika aku, kau, atau kalian lupa, kita bisa menengok dan berkaca pada pantulan air di secawan tetes hujan ini.
Yang mau nyari fan fiction, bisa klik label "fan fiction" sebelah kanan, yak.... ^_^
Any comments are welcomed.

Kamis, 28 Agustus 2014

Fan Fiction of Hey! Say! JUMP - A Couple of Liars





Title                 : A Couple of Liars
Author             : Fatyana Rach
Song                : Come Back...?
Genre              : Romance, gender switch
Rating              : 13+
Length             : One shot (A really really really short story)


Takaki Yuya mematung di tempat.
Tepat di seberang jalan sana, dia melihat sosok gadis yang sangat dikenalnya keluar dari kedai kopi. Laki-laki itu semakin mengernyit ketika melihat sosok laki-laki lain ikut berjalan bersama gadis itu. Mereka berdua terlihat dekat di sana.
Senyum itu....
Bahkan siapapun tahu arti senyum yang ditunjukkan gadis itu kepada laki-laki di sampingnya. Itu bukanlah senyum biasa. Senyum itu penuh getaran dan sedikit rona malu-malu di pipi.
Yuya masih mematung tak bergerak. Tangannya yang menggenggam gelas plastik kosong mulai meremas, membuat gelas plastik bekas kopi itu rusak.
“Ada apa?” seorang gadis tiba-tiba melingkarkan tangan di lengannya, “Kau lihat apa?”
Yuya menoleh cepat, tersenyum lebar, “Bukan apa-apa.” dia mendaratkan sebuah kecupan kecil di kening gadis itu, “Aku telepon seseorang dulu. Kau tunggu di sini.”
Un.” kepala gadis itu mengangguk disertai senyum kecil.
Tanpa buang-buang waktu, Yuya berbalik menjauh beberapa meter sambil mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jaket. Tangannya memencet beberapa tombol sembari terus berjalan. Ketika dia menempelkan ponsel ke telinga, langkah kakinya berhenti, menciptakan jarak sekitar lima meter dari gadis di belakangnya.
Nada dering terdengar. Sedetik kemudian, seseorang berada di seberang sambungan. Suara seorang gadis, “Moshi moshi?”
“Kau terlihat menikmati kebersamaan dengan laki-laki itu.” Yuya tertawa kecil. Sudut matanya menatap sebuah arah di seberang jalan sana, di mana ada seorang gadis sedang berhenti di pinggir trotoar menerima telepon.
“Apa maksudmu, Takaki?” suara di seberang terdengar gugup. Bersamaan itu pula, Yuya bisa melihat gadis di seberang jalan tampak memeriksa sekeliling. Kepalanya berputar-putar ke segala arah.
“Tak apa-apa, Inoo.” bibir Yuya tersenyum, “Aku juga sedang selingkuh. Kita sama-sama sedang selingkuh.”
“Ah, apa? Apa maksudmu?”
“Jangan pura-pura bodoh.” sekali lagi bibir Yuya terangkat, menyeringai kecil disertai tawa pelan, “Arahkan kepalamu ke seberang jalan.”
Gadis di seberang jalan tampak memeriksa sekeliling sekali lagi. Lalu, tatapan mata mereka saling bertemu. Yuya menatap gadis itu dari seberang jalan. Tangan Yuya terangkat, memperlihatkan jari tengah kepada gadis itu disertai senyum pongah khas Takaki Yuya.
Yuya segera menutup telepon. Dia memasukkan ponsel ke saku sembari berbalik kembali ke arah gadis yang setia menunggu beberapa meter di dekatnya. Yuya tersenyum lebar kepadanya dan segera melingkarkan lengan di punggung gadis itu.
“Kau satu-satunya gadis dalam hidupku, Yuri.”
Berdua, mereka berjalan semakin menjauh sampai hilang di tengah keramaian.
***

“Siapa?”
Inoo Kei menoleh cepat mendengar pertanyaan laki-laki yang sedari tadi bersamanya. Mereka sedang berada di trotoar. Perjalanan sempat terhenti karena Kei harus menerima telepon.
“Kau kenapa?” laki-laki itu berjalan mendekat dengan wajah ingin tahu, “Ada sesuatu di seberang jalan?”
Kei melebarkan senyum. Kepalanya menggeleng, “Iie. Bukan apa-apa.”
Laki-laki itu berdiri di samping Kei.
Kei mendongak menatapnya, “Kouta, aku mencintaimu. Tak ada laki-laki lain dalam hidupku selain dirimu.”
Laki-laki itu tersenyum. Matanya yang sipit semakin menyipit nyaris hilang, “Aku tahu. Kau sudah mengatakannya berkali-kali.”
***



Gemolong, 22 Agustus 2014 (17.42 WIB)





Night Roasted-Fish Party 2014




It was happened at August 26, 2014.

Awalnya, pagi hari, Mbak Ais dapat sms dari anak-anak asrama putra, nawari ikan gurame. Kita langsung bersorak mengiyakan. 

Beberapa jam kemudian, agak sorean, datanglah kiriman ikan gurame, satu plastik gede.

Langsung saja kita bingung mau diapain. Saat itu, yang ada di dapur adalah aku, Mbak Dinda, dan Enha. Sebagian teman ada yang lagi sholat atau apalah di sudut-sudut rumah.

Ada yang usul, gimana kalau dibakar aja.

Okelah, aku, Mbak Dinda, dan Enha mulai membuang sisik ikan dan 'membethethi' gurame-gurame tersebut. Ikannya gede-gede. Kata Fuji, paling ikannya hasil pancingan. Soalnya kalau beli nggak mungkin segede itu. 

Mungkin itu ikannya dari kolam majelis. Di samping majelis memang ada kolam gede banget buat ikan-ikan.

Satu persatu, penghuni asrama mulai berdatangan pulang dari kampus. Serentak kita heboh mau masak apa. Sepakat, akhirnya ikannya dibakar aja.

Fuji dan Lintang beli arang, minyak, dan segala bahan-bahan buat masak. Aku, Mbak Dinda, dan Enha masih setia bergulat mengeluarkan isi perut ikan. Tangan kami sampai ada yang tergores sirip. Jari tengah kiriku juga berdarah karena siripnya tajam-tajam.

Maghrib. Sebagian pada sholat. Yang lain melanjutkan menata arang dan lain sebagainya. Sehabis maghrib, Enha tidak di bagian bersih-bersih ikan lagi. Dia nyusul yang lain ke bagian bumbu. Tinggal aku dan Mbak Dinda, diganti Sofiy. Bertiga masih main-main pisau.

Beberapa saat kemudian, Mbak Dinda masak nasi karena ternyata belum ada yang masak nasi. Tutut datang menggantikan Mbak Dinda. Karena Tutut dan Sofiy nggak kuat mbedah ikan, akhirnya aku yang mbedah-mbedah. Mereka bersihin sisik dan mencuci ikan.

Ba'da isya, Ida dan yang lain mulai membuat arang. Bau bumbu mulai tercium. Terdengar suara desis ketika ikan tercelup minyak goreng. Karena aku sudah selesai, aku ikut buat arang bareng anak-anak yang bergulat dengan arang. 

Semakin malam, banyak yang mulai pulang ke rumah kami ini. Suasana begitu hidup. Canda tawa, teriakan, atau sedikit lengkingan histeris karena salah memasukkan sesuatu ke bumbu. Bahkan kami sempat berteriak hampir bersamaan ketika Ida nyaris menuang bensin ke arang.

Semua sibuk, sibuk bersama-sama. Bahkan kami masak dua sesi untuk nasi.

Entah kenapa, sudah ada daun pisang di dapur. Oh, ternyata ada yang cari daun pisang di kebon samping rumah. Ide Fuji, makan pakai daun pisang.

Bakar-bakar mulai dilaksanakan. Jam delapan, kami berkumpul. Perlu diketahui, dapur kami luas, ada bagian tanpa atap meskipun masih di dalam rumah. Jadi, sembari bernaung di bawah langit malam, kita rempong bareng-bareng. Saling banyol dan narsis bersama lewat foto.

What a beautiful moment.... :')

Bau sedap tercium. Satu persatu, tangan-tangan iseng menyumpil-nyumpil ikan buat dirasain. Ha ha, kalau ini dibiarkan terus, ikannya habis tanpa kita makan pakai nasi. Jangan begitu lah. Ikannya dirampungkan dulu, dibakar semua.

Setelah selesai membakar ikan, ada yang menyiapkan nasi, es teh, dan lain sebagainya.

Jam sembilan, kami berkumpul di aula tengah. Ada sepuluh orang lebih.

Beralaskan tikar, dan dua pelepah daun pisang memanjang, kami makan bersama. Tanpa piring, tanpa pincuk. Hanya daun pisang utuh yang digelar memanjang. Tangan-tangan kami mulai menjamah makan malam kala itu. 

Rasanya hangat.
Indahnya ukhuwah.
Bersama-sama mengingatkan dalam kebaikan.
Semoga kelak kami dikumpulkan kembali di dalam surgaNya.
Amin.


Note* 
Tahu alasan kenapa kita pakai daun pisang?
Karena kita malas cuci piring.
Ha ha ha!
XD




Yogyakarta, 28 Agustus 2014
12.29 WIB
Perpustakaan Pusat UNY










Fan Fiction List



Beberapa teman kirim inbox ke facebook, tanya link fan fiction buatanku. Karena teman-teman kesusahan cari fan fiction yang sudah terkubur dan ditimpuk posting-posting baru, maka, aku bikin posting ini yang isinya list fan fiction. Semoga nggak bingung cari-cari lagi yak.... Tinggal klik label "fan fiction" di sebelah kanan, nanti nemu list ini kok.

Kalo ada yang baru, insya Allah aku update list ini.

Sekali lagi, maaf nggak update fan fiction. Ada yang nggak dilanjut pula. Maaf, penulisnya lagi sibuk nulis skripsi. Keburu tua ntar. Ha ha.... :v

Douzo!



One Shot
1. Perang Besar
2. One Night in London
3. A Series of Playgroup Stories
4. Ticking Time
5. Rain Dance
6. A Couple of Liars



Novelet
1. A Word You Can't Hear
2. Three Hundreds Years for Being a Kitsune



Novel
Tears and Smile (Season 1)
Tears and Smile (Season 2)




Last modified: 28 Agustus 2014




Rabu, 13 Agustus 2014

Lebaran 2014




Lebaran ini sedikit berbeda dari biasanya. Mari dimulai dengan cerita seperti apa lebaran biasanya. 

Biasanya, ketika lebaran, kami sekeluarga pergi sholat ied ke Manahan Solo. Sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, bahkan sebelum aku lahir, keluarga besar dari kakek biasanya sholat ied ke Manahan, Solo. Mungkin hanya beberapa lebaran yang bisa dihitung jari saja kami sholat ied di kampung.

Biasanya, bapak akan menyetir mobil untuk keluarga, pagi-pagi berangkat ke Manahan, jam 6 pagi. Paling tidak, subuh kami harus sudah siap-siap.

Atau, biasanya, ketika mobil dijual alias kami sedang tidak punya mobil, kami ikut pakdhe yang punya mobil untuk berangkat bersama-sama sekeluarga besar. Kalau tidak Pakdhe Joko, ya Pakdhe Agus, Om Muh, atau Om Edi.

Biasanya, ketika kami kembali punya mobil dan sedang ada kendala untuk menggunakan mobil, misalnya, mobil sedang macet, kembali cara nebeng diandalkan. Ya nebeng berangkat sama pakdhe atau om.

Nah, sekarang ke lebaran kali ini, yang tidak dari biasanya. 

Lebaran kali ini, sebenarnya ada mobil. Tapi, mobil sudah direnovasi bapak buat angkut-angkut besi. Jadi, bisa dibayangkan, seperti apa mobil van yang berubah fungsi menjadi mobil pengangkut besi. Bagian belakang sudah tidak ada penutupnya lagi.

Nah, maka, atas usul ibu, kami berangkat ke Manahan Solo dengan motor. Yay! Kami berangkat berempat pakai motor. Bapak memboncengkan Ilham. Aku memboncengkan ibu. Kami malah seperti jalan-jalan motoran.

Setelah itu, seperti biasa, kami langsung ke Potronayan Boyolali ke rumah keluarga besar dari ibu. Agendanya pun seperti tahun-tahun sebelumnya. Di rumah Budhe Anwar, aku dan sepupu-sepupu buat es buah. Lalu ke Budhe Rukinah, ada soto yang setiap tahun selalu kami rindukan.

Sowan ke Pakdhe Ikhsan juga. Ada lontong opor ayamnya budhe. Ketemu Mas Yudin, yang dulu jadi guru olahraga SMA aku. Dia kan sepupuku.

Semua seperti biasa, hanya saja, perjalanan kali ini yang bebeda. Motoran berempat, menikmati sawah-sawah dengan speed pelan. Kadang bercanda, saling salip-menyalip ketika jalan sepi....

Semua begitu indah dengan kebersamaan ini.

Oh iya, ada satu lagi yang beda selain perjalanan. Yaitu, nganter-nganter parcel ke keluarga besar ibu. Kalau biasanya ibu buat kue lalu aku yang menghiasnya dengan krim putih serta cokelat, kali ini ibu tidak mau repot-repot. Cukup beli aneka biskuit, gula, teh, sirup, dan susu. 

Kalau biasanya dianter pas hari lebaran sepulang sholat ied, kali ini aku dan Ilham yang nganter beberapa hari sebelum lebaran.

Ah iya, satu lagi. Kali ini kami telat datang sholat ied. Sholat sudah dimulai, kami baru masuk parkiran Manahan. Baru kali ini kami terlambat setelah sekian belas tahun. Akhirnya, kami ikut sholat ied putaran kedua bersama satgas dan penjaga keamanan. Beberapa yang telat juga ikut sholat putaran kedua.



 Sholat bersama satgas. Aku dan ibu ada di shaf kedua putri.


 Ninggalin anak, asyik jalan berdua.


 Lihat saja Ilham, sebelah kiri itu. Kayak anak nggak dianggep. Ha ha ha....


 Tapi romantis.... :3


 Aduh, dhek.... Senyum kamu yang tersipu-sipu ini bikin gemes pengen tak tendang.


 Es buah, seperti tahun-tahun kemarin.


 Aku dan sepupu-sepupu yang masih single. Yang lain banyak, udah nikah tapi. Yang perempuan tinggal kami berempat dan beberapa diluar foto. Yang laki-laki, ada juga sih....
Mbak Farida (yang pakai baju biru itu), nggunain kulit melon jadi mangkuk.
-___-"





Yogyakarta, 13 Agustus 2014
08.01 WIB 
(Kamar nomor 5, aspi JogjaJe)





Senin, 11 Agustus 2014

Skripsi?



Heloh....

Mikir skripsi.

Dari kemarin skripsi terus yang di pikiran.

Apalagi bayangan Mr. Agus selalu datang tiada henti, sambil melambai-lambai dan tersenyum penuh pesona.

Aaak.... Mr. Agus, maaf lama tak berjumpa.
Saya akan segera menemui anda untuk menyerahkan BAB I, II, dan III.




Yogyakarta, 11 Agustus 2014
10.21 WIB
(Meja perpustakaan pusat, UNY. Malah online. Wkwkwk....)