Ini tentangku, tentangmu, dan tentang mereka.... Tetes-tetes hujan di setiap sisa ujung hari sengaja aku tampung pada sebuah cawan di sini. Kelak ketika aku, kau, atau kalian lupa, kita bisa menengok dan berkaca pada pantulan air di secawan tetes hujan ini.
Yang mau nyari fan fiction, bisa klik label "fan fiction" sebelah kanan, yak.... ^_^
Any comments are welcomed.

Selasa, 28 Oktober 2014

Gaya Bahasa: Formal dan Informal




*note
Tulisan ini tidak mengarah ke suatu pihak. Ini murni saya tulis untuk semua. Jadi tidak untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu. Kalaupun gaya bahasa saya kesannya seperti mengarah ke pihak tertentu, maka itu hanyalah sebatas gaya menulis saya biar lebih komunikatif sama pembaca. Ho ho.... XD

Mari saling belajar.





Mana yang kamu pilih?
Permintaan formal atau tak formal?


Saya harap malam ini anda jangan tidur dulu. Ada yang harus diselesaikan malam ini juga. Kemungkinan saya bisa ke sana sekitar jam 10an.


Atau yang ini....


Nanti jangan tidur dulu, ya. Ada hal kecil yang mau diselesaikan sebentar. Cuma hal kecil aja, kok. Ndak papa kan kalo nunda tidur sebentar sampai jam 10an nanti?


Pilih yang mana?
Lebih enak bahasanya yang kedua, kan?

Entah ini bahasa cowok kurang gaul atau emang sengaja biar terdengar serius, tetep aja yang pertama bikin males pol. Begitu baca isi pesan saja langsung hati tak tenang karena merasa was-was. Apalagi kalau kesannya membuat sesuatu itu begitu "waow" dan "sangat penting" dan "sangat urgent" dan begitu "bahaya". Paling tidak, untuk menenangkan si penerima, tambahin kata "ada hal kecil" atau "hal sederhana" yang mau diselesaikan "sebentar". Biar si penerima pesan tenang. Coba kalau si penerima punya penyakit jantung atau darah tinggi. Mau jadi penyiksa batin orang?
-___-"



Hampir semua orang memilih tempat nyaman, kan? Kalau kau saja tak bisa membuat orang nyaman dengan dirimu, bagaimana mungkin orang-orang akan terbuka dan menyambut hangat sosokmu?

Mas, pak, om, atau apalah. Ganti susunan kata-kata anda selama ini ketika sedang berkomunikasi dengan orang lain. Buat orang lain nyaman dengan sosokmu kalau tak ingin orang-orang menutup diri darimu.

You do not want to make other people feel irritated by you, right?

Bukan kau saja.
Tapi kita.
Kita semua.

Karena pesan yang akan disampaikan, bisa bermakna berbeda jika tak tepat dalam menggunakan bahasa.

At least, pelajari bahasa-bahasa hangat yang membuat orang merasa nyaman dan tenang. Apapun itu. Kita bukan sosok penyebar ancaman, kan? Meskipun aku tahu kau tak berminat mengancam.





Yogyakarta, 28 Oktober 2014
21.06 WIB
Di kamar nomor 5 aspi, setelah menerima sms "teror" yang membuat ide cerita ini muncul
:)




Minggu, 19 Oktober 2014

Kau Ini Sebenarnya Apa?




Kita hanya bertatap muka beberapa kali, tak lebih dari lima kali. Bahkan mungkin hanya tiga kali. Tapi kau sudah mampu meneteskan air mataku sedemikian deras, ketika kau pergi untuk selamanya.

Bukan hanya satu dua kali air mata ini menetes. Hampir setiap sosokmu berkelebat di kepala, dada terasa sesak dan mata ini tak bisa berfungsi normal karena tergenang air.

Kita hanya bertemu beberapa kali. Ketemuan pun hampir tak pernah. Tapi seperti katamu di sebuah inbox facebook kita. Kau seperti sudah sekian lama mengenalku. Mungkin kita pernah bertemu di masa lalu. Begitu katamu.

Kita hanya mengenal tak begitu lama. Bahkan hanya saling mengenal selama beberapa semester. Tapi kau sudah mampu membuatku terbawa emosi dan meredamnya hanya dalam tempo jam. Seperti sosok sahabat yang sudah aku kenal bertahun-tahun.

Kertas hasil fotokopian di saat terakhir kali aku bertemu denganmu secara tak sengaja di Excellent pun, sampai saat ini masih aku simpan, formulir lomba novel yang deadline jatuh bulan Maret 2013. Sampai sekarang masih ada di tumpukan meja-meja paling bawah. Dan baru saja aku temukan kemarin ketika bersih-bersih, mengingatkanku padamu lagi.

Pada pertengkaran kecil kita....
Pada kesalahpahaman di mana kau selalu mengalah....
Pada rasa sebalku padamu yang akhirnya membuatku begitu mengenalmu....


aku hanya tak ingin menyakiti siapapun.....demi apapun aku tidak ingin.....


Di lain pesan....


wlw sampai detik ni belum pernah bertemu langsung,rasanya aq sudah lama sekali mengenalmu,trimakasih


Atau ini....



Aku:
kamu itu yg mana e, nis? 
he he, peace

Kamu:
walah........ya liat d foto ne to ma,piye to???nakal tenan ki jan.... 
pake kacamata say....tau ga??

Aku:
pernah papasan belum? 
kadang2 aq ndak bisa bedain antara yg di foto sama yg di asli e . . . he he

Kamu:
pernah..tapi tak diemin,ngetes aja,kamu inget ga sma mukaku,heheh peace....:Dv

Aku:
he he, aku gak tau yu
mukamu beda mungkin
kan aku kadang kesusahan nyamain antara foto dan asli

Kamu:  
heheh...ya sudah lain kali tak panggil klw ketemu,hehehh,


iya,pengen ketawa sendiri,padahal aq d sampingmu,dalam hati cuma bisa ngomong (eh...nianak ga nyadar2 juga ya ni aq)
XDv

Aku: 
oh . . . ternyata di sampingku




Aku baca sekali lagi inbox kita. Kau memang tidak menyakitiku. Tapi aku malah terasa sakit ketika kau balas kata-kata negatifku dengan permintaan maafmu.

Kau tak punya hak untuk meminta maaf. Akulah yang punya kewajiban untuk meminta maaf.

Bagaimana kabarmu?
Apa menurutmu kita cukup baik untuk diterima di negeri akhirat bersama-sama?
Aku menyayangimu.
Apa kalimat itu sudah cukup?

Aku ingin memelukmu, lebih erat daripada saat itu.

Kita hanya bertemu beberapa kali. 
Tapi kau sudah mampu membuatku menangis seperti ini.
Kau ini sebenarnya apa?



Yogyakarta, 19 Oktober 2014
08.15 WIB




Selasa, 14 Oktober 2014

Anindyka Sekar Trinasih



Tak tulis namamu niiih....

Ini bukan namanya Raditya Dika.
Bukan pula Andika Kangen Band.

Ini kamuuu....

Noh, namamu udah ada di blog akuuu....

XD


Anindyka Sekar Trinasih
Anindyka Sekar Trinasih
Anindyka Sekar Trinasih
Anindyka Sekar Trinasih
Anindyka Sekar Trinasih
Anindyka Sekar Trinasih
Anindyka Sekar Trinasih
Anindyka Sekar Trinasih

Dyka cantik
Dyka nggak 4l4y
Dyka nggak gampang galau
Dyka gaul abiezzz
Dyka nggak suka nagih utang
Dyka imut unyu beud

Dyka
Dyka
Dyka

Kupanggil namamu 3x, jangan muncul di mimpi gue malem ini.
Ha ha ha!



Yogyakarta, 14 Oktober 2014
06.25 WIB (jam hape)
Tempat Pak Bambang, ngerjain buku






Senin, 06 Oktober 2014

Seorang Penulis Itu....



Seorang penulis ketika menulis tentang kejahatan, bukan berarti dia kriminal.

Seorang penulis ketika menulis tentang pembunuhan, bukan berarti dia psikopat.

Seorang penulis ketika menulis tentang cinta, bukan berarti dia sedang jatuh cinta.

Penulis punya banyak topeng. Seperti apa dia ingin terlihat, dia tinggal mengganti topengnya. Ingin terlihat seperti politikus, orang terpelajar, atau orang polos, dia tinggal membuat karakter lewat tulisan, tanpa perlu memperlihatkan wajah aslinya.

Sebenarnya, penulis itu mengerikan.

Bisa menusuk, tanpa menggunakan wajah.




Yogyakarta, 6 Oktober 2014
10.09 WIB



Rabu, 01 Oktober 2014

Catatan Seorang Mahasiswa Tingkat Akhir




Menjelang berakhirnya bulan September, tiba-tiba aku seperti terbangun dari tidur panjang tiada henti. Mataku terbelalak lebar mengingat skripsi yang belum aku sentuh.

Astaga....
Aku seperti beruang yang baru bangun dari hibernasi panjang di musim dingin. Ketika hawa mulai memanas, aku sadar bahwa aku belum melangkah sampai manapun.

Tanpa terasa, aku mulai sering melihat foto wisuda teman-teman di timeline facebook. Rasanya, aku tertinggal sangat jauh. Skripsiku baru 25%. Duh, gusti.... Ngapain aku selama tiga bulan kemarin?

Hari Senin lalu, aku menemui Pak Agus untuk kedua kalinya setelah terakhir kali bertemu bulan Maret lalu. Gilak ya aku.... Maret.... September....

Hari ini aku menemui beliau lagi. Karena molor kemarin, setidaknya sekarang targetku menjadi bimbingan minimal 2x seminggu.

Ah, kemarin....
Kemarin kenapa ya? Rasanya malas mengerjakan?

Karena laporan program TEFL?

Dengan dalih mengurusi laporan program konsentrasi TEFL, seharusnya aku bisa memulai bulan Juni kemarin. Tapi apa yang telah aku lakukan? Juni, aku pikir aku perlu bersantai sejenak setelah jatuh bangun dan berdarah-darah sehabis mengurus laporan program konsentrasi. Tapi kenyataannya, aku bersantai terlalu lama sampai-sampai aku tidak sadar waktu bergulir sangat cepat. Aku tidak sadar berapa lama waktuku habis terbuang sia-sia. Seperti memakan kue lotus di mitologi Yunani, melupakan tujuan awal dan berkutat pada dunia kesenangan.

Target yang awalnya Desember, mundur jadi Januari. Mungkin, aku akan wisuda bulan Februari atau Maret. Harus ekstra ngebut dan lembur terus.

Semoga dilancarkan sama Allah....
Aamiin.




Note:

Ternyata, nulis skripsi itu tantangannya pada hawa nafsu. Nafsu yang ingin selalu menunda dan bermalas-malasan.





Yogyakarta, 1 Oktober 2014
12.05 WIB
Perpustakaan Pusat, UNY