Ini tentangku, tentangmu, dan tentang mereka.... Tetes-tetes hujan di setiap sisa ujung hari sengaja aku tampung pada sebuah cawan di sini. Kelak ketika aku, kau, atau kalian lupa, kita bisa menengok dan berkaca pada pantulan air di secawan tetes hujan ini.
Yang mau nyari fan fiction, bisa klik label "fan fiction" sebelah kanan.

Yang mau galau badai menye-menye puitis ria, bisa klik label favorit gue "phoetic phrase".

Any comments are welcomed.... ^_^

Wednesday, 3 February 2016

Gagap Bantuan



Ada suatu fenomena, ketika Indonesia dilanda bencana nasional, orang-orang akan serempak mengirim bantuan. Dikirim ke luar pulau. Meringankan beban korban bencana.

Tak salah memang. Itu bagus. Pertanyaannya adalah, seberapa sering kita mengirim bantuan? Apakah hanya karena orang-orang serempak mengirim bantuan, kita ikut-ikutan kirim?

Indonesia terlalu luas.
Terlalu luas, sampai kita mengirim bantuan ke luar pulau, merasa ikut menggalakkan Bhineka Tunggal Ika, sedangkan masih ada penduduk sekota yang butuh bantuan itu. Yang kadang mata kita terlalu silau hanya untuk sekadar melihat dan menyadari.

Indonesia terlalu luas, kawan. Terlalu luas jika mengirim bantuan hanya pada musim bencana nasional.



Gemolong, 3 Februari 2016
16.14 WIB


Tuesday, 26 January 2016

Wanita Tua Berkaos Kuning dan Bangku Kosong di Gerbong Kereta



Aku menyela waktu di antara perjalanan pulang menuju kampung halaman, untuk sekadar membuka laptop, menyalakan wi-fi gratisan di stasiun Solo Balapan, dan mengetik kisah perjalanan ini.

Seharusnya aku bisa langsung pulang sekarang. Aku sudah sampai di stasiun dan tinggal naik bus Raka Makmur jurusan Gemolong. Hanya saja, ada kisah menarik yang ingin aku sampaikan. Menarik. Karena memang benar-benar unik.

Pagi ini, tiket kereta Prameks di tanganku mengatakan bahwa kereta akan berangkat pukul 09.16. Aku bersiap ketika dari kejauhan Prameks datang. Bersama orang-orang, kakiku melangkah masuk ke gerbong. Tak ada bangku kosong. Semua penuh. Maka aku memutuskan berdiri. Biasa. Aku sudah terbiasa berdiri.

Lalu, seorang ibu berjilbab memanggilku, mengatakan bahwa ada satu bangku kosong di hadapannya agak serong ke samping. Perlu diingat bahwa letak bangku kereta adalah berhadapan. Masing-masing bangku bisa diduduki dua orang.

Aku dengan senyum terima kasih langsung menuju ke sana. Ada tiga orang. Si ibu yang memanggilku, seorang laki-laki tak jauh dari usiaku, serta seorang ibu berambut putih sebahu dengan kaos kuning.

Tak ada rasa curiga apa-apa. Seperti perjalananku yang lain, perjalanan ini pun sama. Ke kereta, bertemu banyak orang, sebagian menjadi kenalan singkat satu jam perjalanan.

Kereta mulai jalan. Aku menyamankan diri di bangku. Kami berempat duduk berhadapan. Lalu ibu tua berkaos kuning (yang bergambar partai tertentu) mulai berbicara.

"Tiap duduk kok depannya perempuan." Nada beliau bersungut-sungut, "Padahal aku nggak masalah kalau yang duduk di depan itu anggota polri atau TNI yang laki-laki. Tapi kok perempuan terus dapatnya."

Aku tersenyum ramah saja. Mengangguk sopan.

Well, tak ada hal aneh.

Aku lihat si ibu berkaos kuning selalu menutup hidung. Benar, aku mencium bau tak sedap. Aku ajak ngobrol saja si ibu dengan ramah seperti biasa.

"Sepertinya bagian sini agak bau ya, bu." kataku seraya menunjuk salah satu sisi kereta yang terlihat kotor. Ada semacam gumpalan di situ. Entah gumpalan apa, hitam menjijikkan.

Aku mengatakan ini karena aku punya tujuan. Yakni membuat ibu berkaos kuning itu nyaman dan yakin bahwa tidak hanya dirinya yang membaui tak sedap. Aku ingin ibu itu nyaman menutup hidung. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku setuju dengannya. Itu saja.

Tapi jawaban ibu terdengar ketus sekali.

"Masih untung kamu bsia naik kereta seperti ini."

Aku tertegun.
Sejenak, aku kagum dengan si ibu berkaos kuning. Wah, beliau bijak sekali meski penyampaiannya kasar.

Benar, kita masih beruntung disediakan fasilitas ini sehingga jarak Yogyakarta-Solo hanya perlu waktu satu jam. Tak lebih dari satu jam malah.

Aku mengiyakan, "Benar, bu. Bersyukur saja ya." kataku sambil tersenyum.
Well, Prameks termasuk salah satu fasilitas nyaman. Aku senantiasa memakai jasa transportasi ini sejak lima tahun lalu. Tak ada masalah. Pelayanan begitu baik. Bahkan Prameks sangat bersih. Baru kali ini aku menjumpai gerbong kereta yang ada gumpalan kecil warna hitam di jendela dan berbau tak sedap. Tapi tak apa. Ini masih termasuk pelayanan baik.

Si ibu berjilbab yang tadi memanggilku dan mas-mas di sampingku tak bereaksi apa-apa. Diam saja.

Aku nikmati saja perjalanan.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh. Aku layangkan pandangan ke ibu berkaos kuning. Beliau menatapku. Tak berkedip. Benar-benar menatap.

Kau tahu seperti apa wajah orang menatap sesuatu?
Tak berkedip. terus menatap. Tanpa rasa sungkan terus menatapku.

Aneh.
Merinding.
Tiba-tiba dari detik inilah aku merasa was-was.

Ada apa?
Apa ada yang salah denganku?

Aku melayangkan senyum termanisku. Teramahku. Sambil mengangguk sopan dengan harapan tatapan ibu itu hanyalah tatapan ingin bertegur sapa denganku. Aku balas tatapannya dengan senyum.

Tapi tatapan itu tak kunjung beralih. Beliau terus menatap. Layaknya film horor.

Tanpa sadar, aku mulai memindai penampilan ibu itu.

Ia berusia sekitar enam puluhan tahun.
Berkaos kuning milik partai tertentu dan terlihat lusuh. Aku yakin itu kaos gratisan yang dibagikan partaitersebut. Celananya pendek, celana kain biasa. Ada tas lusuh juga, terbuat dari anyaman tali plastik warna-warni yang biasa dipakai simbok-simbok ke pasar.

"Kalau nggak mau duduk di sini, duduk yang lain aja." kata beliau.
Aku menggeleng, "Tidak, bu. Saya nyaman di sini. Tidak apa-apa."

"Sana, tempat lain masih banyak."

Aku tak berniat pindah. Aku meyakinkan padanya bahwa aku baik-baik saja duduk di dekatnya.

"Nggak usah ngajak saja bicara." katanya lagi. Masih dengan tatapan mengerikan.

Aku tercenung. Kecurigaanku semakin terasa.
Bukannya mengatakan beliau aneh, tapi memang ada keanehan tersendiri dalam diri ibu itu.

Kau percaya insting?
Seperti itulah yang aku rasakan, bahwa ada yang tak beres dengan si ibu.

"Pergi saja, mbak. Pindah saja sana. Cari tempat duduk lain. masih banyak."

Aku melongo.
Sedangkan si ibu berjilbab dan mas-mas di antara kami bersikap apatis.

Si ibu melanjutkan, "Nggak enak lihat muka kamu."

HAH?

Kesalahan apa yang telah aku lakukan?

"Maaf, bu?" dahiku mengenyit.

Si ibu masih menatapku tajam, "Ada efek tertentu kalau lihat wajahmu itu."

Ngeeek....

Aku pindai penampilanku.
Apa ibu ini benci wanita pakai jilbab?
Atau bertindak rasis terhadap yang berjilbab agak lebar?
Kebetulan aku sedang pakai jilbab selebar lengan.

Aku masih tersenyum.
Lalu aku pamit undur diri.

"Terima kasih sudah mempersilakan saya duduk di sini tadi." kataku pamit. Dengan sopan.

Aku berpindah ke pintu kereta. Dekat dengan ibu-ibu lain.

Kereta terus berjalan menuju Maguwo dan aku berdiri.
Lalu seorang ibu lain berjilbab orange kecoklatan mempersilakan aku duduk mepet dengannya. Padahal bangku beliau sudah diduduki dua orang. Beliau sendiri dan seorang bapak.

Aku menolak halus, berterima kasih.

Aku terus berdiri.

Aku melihat si ibu berjilbab orang kecoklatan mengobrol dengan dua orang wanita dekat pintu. Beramah tamah, teman perjalanan sepertinya.

Aku terus berdiri.

Pada suatu titik, sepertinya ibu yang berjilbab orange kecoklatan merasa kasihan dan tak nyaman aku berdiri. Untuk menyamankan beliau, aku duduk pakai helm. Hanya sekedar menyamankan beliau. Padahal aku nyaman berdiri.

Kami mulai mengobrol. Beliau bernama Bu Rini, dari Wonogiri.

Dari obrolan itu, tiba-tiba nyambung tentang tempat duduk. Aku bilang kalau sebenarnya aku sudah dapat tempat duduk. Tapi aku nyaman berdiri.

Entah bagaimana, kita sampai menuju suatu titik obrolan tentang sang wanita tua berkaos kuning.

"Ah, ibu-ibu tua berambut sebahu putih?" tanya Bu Rini,
Aku mengiyakan, "Saya pilih pergi saja dari sana, ibu."

Bu Rini tersenyum lebar, "Saya tadi juga duduk di depannya."

Mataku melebar, "Lalu?"

"Lha ya dia aneh. Saya datang langsung dimintai makanan. Dia bilang 'ayo, keluarkan semua makanan dalam tas, bagi-bagi sini'. Setelah itu dia minta apa-apa dari tas saya. Saya pergi, mbak."

Aku tersenyum kecut.
Dalam hati beryukur. Kenapa bersyukur? Karena itu artinya aku tidak membuat kesalahan. Si ibu berkaos kuning itulah yang bersikap tak biasa.

Di Maguwo, kereta berhenti. Penumpang masuk lagi.

Lalu, aku melirik bekas bangku.
Ada seorang mbak menduduki bangku di depan si ibu berkaos kuning. Telingaku mendengar jelas si ibu mengomel lagi, "Perempuan lagi! Tiap duduk kok perempuan! Mbok bapak-bapak itu aja yang duduk di sini!"

Aku melirik para penumpang lain.
Bapak yang ditunjuk tak menggubris. Berjalan lurus ke arahku dan duduk lesehan di lantai pakai bangku lipatnya.

Si mbak yang baru duduk di sana sepertinya agak terkejut. Kutangkap wajahnya mengheran. Lalu ia memilih mengobrol bersama mas-mas di sampingnya.

Astaga....

It is a strange journey.
Sungguh.
Aku penasaran ada apa dengan si ibu tua berkaos kuning itu.
Apakah ia sebegitu bencinya dengan perempuan?



Solo Balapan, 26 Januari 2016
11.07 WIB
Di sela-sela perjalanan pulang, menulis ini segera di sebuah bangku dekat kios-kios makanan sebelah utara..




Monday, 11 January 2016

Ibu dan Sang Wanita Karir




Ada perdebatan klise, mana yang lebih baik antara seorang wanita ibu rumah tangga dan wanita karir.

Ada yang beranggapan bahwa ibu rumah tangga jauh lebih mulia. Benar. Saya setuju. Saya ingin jadi ibu rumah tangga. Mendedikasikan waktu demi keluarga.

Lantas, pertanyaannya adalah apakah ibu rumah tangga tak boleh bekerja?

Seorang wanita, apapun kegiatannya, apapun pekerjaannya, adalah seorang wanita. Baik ibu rumah tangga maupun ibu karir tetaplah seorang wanita. Lantas, kenapa ada anggapan ibu karir adalah bukan ibu?

Wanita yang bangun sebelum subuh demi menyiapkan apapun untuk anak dan suami, lalu bersiap berangkat kerja...

Wanita yang mengajarkan kepada anak tentang kerasnya bertahan hidup mencari uang...

Wanita yang harus membagi waktu antara bekerja dan keluarga...

Wanita yang ingin meringankan beban suami...

Wanita yang memikirkan kemungkinan buruk di masa depan karena suami tak mampu bekerja lagi...

Wanita yang akhir minggunya selalu terasa spesial untuk dihabiskan bersama keluarga...

... adalah wanita yang tak pantas disebut ibu.

Benarkah?
Kalau bukan ibu, kenapa ia mau melahirkan?
Kenapa mau menerima tanggung jawab merawat anak?

Bagi saya, wanita karir tetaplah seorang ibu. Yang merindukan sambutan anak di muka pintu sepulang kerja. Lalu mengajak anak jalan-jalan walau sekadar membeli es krim. Lantas bercerita tentang sekolahnya.

Begitu spesial karena waktu-waktu itu begitu terbatas. Tak bisa dinikmati setiap jam.


Saya bisa mengatakan ini karena saya tumbuh kembang dari seorang ibu karir. Ibu saya bekerja di luar rumah. Jam tujuh pagi sudah berangkat bekerja. Jam dua siang, beliau baru pulang. Tapi, kesibukan itu tak lantas membuat saya jauh dengan ibu saya.

Sebelum saya sekolah, alias usia balita, saya dititipkan pada seorang pengasuh dimana beliau adalah tetangga sendiri. Tapi ibu saya tidak semena-mena menyerahkan. Sebelum yakin bahwa tetangga itu adalah orang baik-baik, ibu melakukan pengamatan jauh-jauh hari. Setelah yakin dengan tetangga tersebut, ibu berani menitipkan saya. Dari usia setahun sampai menginjak bangku SD.

Setelah SD, ibu tidak menitipkan saya lagi. Saya di rumah sendiri. Membaca majalah atau buku. Mungkin dari sinilah hobi saya membaca muncul.

Saya menyadari, waktu ibu terbatas di pagi hari. Maka, ketika bersama ibu, itu adalah momen-momen romantis kami berdua. Biasanya, sepulang sekolah, saya akan membaca majalah atau mewarnai buku gambar. Lalu ketika mendengar suara motor ibu datang di halaman, ada perasaan riang gembira dan ceria. Biasanya ibu membawa aneka jajanan seiring beliau pulang. Lalu bertanya aku mau makan apa. Sorenya, kami biasanya jalan-jalan.

Ibu, meskipun berkarir di luar rumah, tetaplah seorang ibu.





 Gemolong, 11 Januari 2016
16.11 WIB
Rental komputer dan Warnet Hidayah, sehabis gerimis mereda.












Pos Indonesia dan Masa Kecil




Saya masih ingat sekali masa-masa di mana kaki mengayuh sepeda dan berdiri di depan sebuah kotak warna orange menyala. Biasanya rutinitas itu saya lakukan sepulang sekolah. Sekitar tahun 2001 sampai 2004 ketika saya menginjak bangku SD.

Tak peduli terik matahari, karena ada sensasi tersendiri yang akan dirasakan ketika berdiri di depan kotak orange itu. Lalu tangan mengambil sebuah amplop di keranjang depan sepeda. Mengarahkannya ke lubang kotak.

Terhenti, tak jadi dimasukkan.

Berkali-kali tangan kecil saya bermain di lubang kotak untuk merasakan sensasi berkirim surat. Karena setelah surat masuk, tentu tak bisa lagi diambil. Mata berbinar ceria sambil sesekali menoleh kanan kiri. Takut ada Pak Pos yang melihat dan menertawakan.

Kadang, saya duduk tak jauh dari kotak pos orange itu untuk melihat Pak Pos datang. Lalu membuka kotak. Mata saya mengerjap kagum melihat limpahan surat. Puluhan. Bahkan ada yang beramplop besar di mana saya tak pernah mengirim surat sebesar itu.

Saya pulang. Menunggu balasan surat minggu depan. Tak sabar. Lalu ketika pada suatu hari ibu saya pulang dari kantor, beliau selalu menyodorkan amplop hasil balasan surat minggu lalu. Saking hafalnya dengan nama saya, Pak Pos memilih menuju kantor ibu saya dibanding datang ke rumah. Dan Pak Pos sudah akrab dengan ibu dan saya.

"Oh, ini adik yang sering kirim surat itu, ya?" sapa Pak Pos ketika pada suatu hari sepulang sekolah saya dijemput ibu dan menemani di kantor. Lalu kebetulan ada surat datang.

Benar, memori itu begitu kuat. Begitu indah. Begitu mendebarkan di sela penantian datangnya surat.

Karena Pos Indonesia, saya punya banyak sahabat pena di seluruh Indonesia, yang sama-sama suka menulis, suka membaca majalah, suka berkirim surat, maupun suka mengirim karya ke media cetak anak-anak. Saya bisa mendengar cerita mereka tentang Indonesia di seberang pulau, di balik gunung, di seberang laut, maupun di balik perbukitan serta hutan. Tak jarang mendapat kiriman barang khas daerah mereka, bahkan makanan khas.

Kami akan berlomba-lomba tulisan tangan siapa yang paling bagus. Lalu harus menyusun kalimat supaya mudah dipahami. Lama-lama terbiasa menulis.

Sayang sekali, anak-anak sekarang hampir mustahil merasakan sensasi memasukkan surat ke kotak pos. Hampir mustahil mendapat surat istimewa yang ditujuan khusus pada mereka. Dengan amplop tertera nama mereka di depannya.

Sungguh. Itu sensasi yang mahal harganya.



Gemolong, 11 Januari 2016
15.47 WIB
Rental komputer dan Warnet Hidayah, sehabis gerimis mereda.


Monday, 16 November 2015

Kesan Personal Kepada Para Peserta Kampus Fiksi #14



Dua postingan sebelumnya membahas kegiatan Kampus Fiksi. Kali ini, aku mau share kesan personal pada masing-masing peserta. Ngikutin postingan Mei di blognya. Mwuahahaha....


Oke, ini dia, 21 orang (termasuk aku) yang selama 4 hari 3 malem kumpul kebo di satu gedung yang sama.


1. Agus Mulyadi
Ini artis paling keren di antara kami angkatan 14. Secara, dia sudah terkenal dan punya buku, judulnya "Diplomat Kenangan" dan "Jomblo Tapi Hafal Pancasila". Bisa cari di google dan bakal nemu banyak tulisan tentangnya. Sekarang lagi menggarap buku ketiga kayaknya. Orangnya ramah. Tapi aku nggak deket soalnya nggak sekamar. (plak)

2. Ahmad Muhtarom
Aku ngrobrol panjang sama Tarom baru pada hari-hari menjelang akhir. Dia backpacker sejati. Blundas-blundus negeri. Orangnya sih sekilas pendiem. Tapi nggak tau aslinya. Dia partner bikin mie goreng bareng aku sama Mei. Endingnya, partner nyuci piring sama aku. Nggak banyak omong. Tapi aku ragu dia pendiem.

3. Anisa Sholihat
Kenal sejak pertama kali dateng ke asrama. Tipe wanita sholihah seperti namanya. Aamiin.... Orangnya pendiem, nggak banyak omong, Sampai ending juga pendiem. Santun. Murah senyum. Sepertinya Nisa tipe orang yang harus didekati, baru bisa deket. Itu menurut pengamatan. Aslinya belum tahu sih. Siapa tahu dia sampai rumah bakal lempar tas dan jungkir balik sendirian?
(peace, Nis....)

4. Dwi Sri Utami
Orangnya dewasa dan bisa mengontrol kadar level kegilaan yang menggebu. Pengamat sejati kayaknya, diam-diam mengamati. He he.... Rasanya, dia hampir tau kelakuan anak-anak meskipun tanpa banyak berkata.

5. Elsa Pradani
Pertama kali bertemu ketika aku masuk kamar. Elsa sudah di dalam. Begitu dengar namanya, terlintas bayangan Elsa Frozen dan mendadak ruangan serasa dihujani kristal es. Lalu mataku berhalusinasi melihat Elsa sedang menari sambil lempar-lempar es batu. Sebagian kena mata, sebagian mecahin jendela.

6. Erin Cipta
Ini emak-emak gaul. Serius. Usia beliau 37 tahun dan kesan pertamaku adalah beliau berusia 27 tahun. Datang kurang lebih satu jam setelah aku datang. Aku pikir, Mbak Erin ini pembicara atau orang penting. Penampilannya gahol gitu. Cantik. Saat itu, entah bagaimana ceritanya kami bisa duduk bersampingan. Lalu mulai cerita. Mbak Erin paling senang ceritain kedua tuan putrinya, Elok dan Embun, serta perpustakaan mini bernama "Gemas" yang beliau buka. Bukunya udah terbit di Taiwan dalam dua bahasa. Kayaknya beliau tipe emak yang suka keluar negeri. Mwuahaha.... *kecup Mbak Erin

7. Iqbal
Ini peserta paling bayi di antara kami. Usianya 15, masih SMP kelas IX, dan menjadi korban bribikan para tante di Kampus Fiksi. Saya jadi trenyuh sama perjuangan Iqbal mempertahankan diri di antara serbuan para tante. Dia anaknya pendiem. Unyu. Tapi dari sorot mata Iqbal dan kuluman senyumnya, aku rasa dia bukan tipe pendiam. Di sekolah aja dia penyiar radio. Tapi sumpah, dia jaim banget. Pendieeem....

8. Fatyana Rachma Saputri
(ini saya)
Saya berusaha kalem di tempat itu. Tapi gara-gara Mei, pertahanan saja kebobolan. Saya sudah tidak polos lagi bersamanyaaa.... T,T

9. Firman
Ini bapak berasal dari Padang. Tempat duduknya di samping saya waktu di kelas. Mungkin, sebagian besar teman berpendapat Mas Firman (ndak mau dipanggil "pak", he he) adalah sosok pendiem. Itu sepenuhnya tidak salah, karena selama kegiatan berlangsung, beliau memang pendiem. Mungkin lelah karena ulah kami para ababil labil. Tapi ketika saya sudah terjerat percakapan dengan beliau, woi... jangan salah. Beliau orangnya kritis dan banyak pendapat.

10. Frilla Amanda
Neng geulis dari Bandung. Pertama lihat dia, waaah... cantik. Modis pulak. Aku mau dong kayak Frilla. Dia termasuk pendiam di antara kami. Dekat sama Gyna (bukan peserta, tapi alumni Kampus Fiksi senior yang sudah menelurkan lebih dari 10 novel, dan hari itu menemani kami full selama kegiatan berhari-hari). Nggak banyak yang aku tahu dari Frilla. Tapi sepertinya teman enak buat hang out sore-sore.

11. Ibnu Majah
Ini adik kelas SMP, woi.... Dan guweh baru pertama kali liat wajahnya pas kemaren. Sebelum di Kampus Fiksi, dia pernah beberapa kali inbox facebook menanyakan tentang kereta Solo-Yogyakarta dan arah seputar wilayah UNY. Lantas, beberapa minggu kemudian, dia tanya apakah aku ikut Kampus Fiksi angkatan 14. Ha ha.... Akhirnya ketemu juga. Nggak nyangka yak, gara-gara Kampus Fiksi jadi kenal sama adik kelas yang sebelumnya nggak tau sama sekali.

12. Lalu Muhammad Getar
Namanya.... Unique. At the first glance, ini tipe-tipe nama puitis yang menjual kalo jadi nama pena. Lalu Getar? Orangnya pendiem juga. Karena aku nggak begitu deket sama dia. Kontaknya baru pas hari-hari akhir. After all, dia asik.

13. Latifah Desti
Temen sekamar niiih.... Aku kira dia pendiem, sampai akhirnya pas malam terakhir dia maju ngasih kesan pesan pada kegiatan ini. Ya ampuuun.... Latifah, kamu ternyata orangnya gitu?

14. Meilisa Eka Nur Alam
Mei.... Mei.... Mei.... Entah kenapa, Mei dan aku relatif berhubungan dengan foto 45 derajat serong nyamping. Ha ha ha.... Dia sepertinya sosok legawa, rela, dan koperatif. Meskipun ujungnya pengen cubit dan tampar. *cipok

15. Mustika Desi Harjani
Mbak Tika, kesannya pemerhati lingkungan sekitar. Pengamat seperti Dwi. Nggak begitu deket sama Mbak Tika, nggak sekamar juga. Tapi asik buat temen diskusi.

16. Septian Andrian Putra
Hh.... (menghela napas)
Sosoknya sulit ditebak.
Septi.... Dia punya kekuatan mengubah orang asing menjadi dekat dengannya, menjadi nyaman dengannya. Septi punya kekuatan itu. Dan dia enak buat dibully rame-rame. Nyiahahaha.... Awalnya pada nggak percaya umurnya baru 18 (kelahiran 97). Aku juga nggak percaya. Tapi ketika aku melihat lebih dalam ke roman mukanya, dia kelihatan baru aja lulus SMA, menanggalkan identitas anak ingusan menuju anak kuliahan. Septi sampe nunjukin KTP lho, buat bikin orang-orang percaya umurnya bukan 25.

17. Sri Amalia Kusuma W.
Sriii.... Biasa dipanggil "black". Dia adalah orang pertama di Kampus Fiksi yang kutemui dalam mobil penjemputan. Di mobil, dalam waktu hitungan menit, kami sudah akrab. Asal Palembang. Easy going. Kadang apatis. Masa bodoh. Tapi di sisi lain, dia peduli banget. Black ini ketua suku angkatan 14. Enak diajak gila. Semangat, yah.... *peluk

18. Sri Wahyuni
Dipanggil Riri. Aku pikir dia senior pas pertama kali aku datang ke asrama. Dia duduk depan laptop, sibuk, sesekali menyahut obrolan. Agak nyeremin tatapannya. Kupikir dia galak, ternyata.... Ahahaha!

19. Syaifullah
Nah, ini satu dari dua orang yang nggak aku samperin alias nggak aku ajak ngobrol. Well, seharusnya aku deketin semua peserta. Tapi Ipul nggak kejamah, nggak tergapai, meskipun aku ingin dekat juga dengannya seperti yang lain. Jarak kursi kami juga berjauhan. Tapi di grup wa sama facebook, kita nyambung. Dari review pandangan, Ipul anaknya asik.

20. Tri Hermawan
Kalau salah satu orang yang nggak aku samperin adalah Ipul, orang lainnya adalah Triher. Well, kursi kita juga jauhan. Jadi kurang banyak komunikasi. Dari semua yang dia lakukan, aku tahu Triher anaknya asik juga. Oh iya, ada satu episode tentang facebook. Triher add friend. Tapi ketika aku accept, nggak bisa. Aku kirimin inbox. Ternyata saking banyaknya teman facebook jadi nggak bisa add friend lagi. Tapi ujung-ujungnya bisa, setelah dia kurangi beberapa friend.

21. Wakhidati Maimunah
Temen sekamar. Pertama kali lihat Dati, aku pikir dia anak SMA, Mungil dan baby face. Anaknya rame, ramah, dan kita sempet review beberapa novel K-Pop di kamar.


Well, itu tadi review dariku.
^___^
I miss you, guys.... <3




Gemolong, 16 November 2015
07.41 WIB