Ini tentangku, tentangmu, dan tentang mereka.... Tetes-tetes hujan di setiap sisa ujung hari sengaja aku tampung pada sebuah cawan di sini. Kelak ketika aku, kau, atau kalian lupa, kita bisa menengok dan berkaca pada pantulan air di secawan tetes hujan ini.
Yang mau nyari fan fiction, bisa klik label "fan fiction" sebelah kanan.

Yang mau galau badai menye-menye puitis ria, bisa klik label favorit gue "phoetic phrase".

Any comments are welcomed.... ^_^

Sunday, 21 August 2016

Bungkus Kopi





BUNGKUS KOPI
Fatyana Rach


ALEX Buntala menjentikkan jemarinya yang terselip rokok. Putung berserak dalam asbak di tengah meja, tepat di samping kopi yang tampaknya mendingin.
“Pesanannya, Pak.” Seorang pelayan kafe menghampiri ramah. Sigap meletakkan satu cangkir kopi lagi menemani cangkir kopi yang tadinya sendiri di meja.
Kebersamaan itu tak berlangsung lama. Alex memberi kode untuk menyingkirkan kopi dingin. Sang pelayan mengambil cangkir kopi yang mendingin dan undur diri sopan,
Alex meletakkan rokok di ujung asbak. Tangannya berganti meraih cangkir yang mengepulkan uap panas. Ia menghirup aroma kopi berharga puluhan ribu itu dengan ekspresi tenang. Lalu bibirnya menempel di cangkir dan menyeruput perlahan.
Ah, kopi panas memang lebih nikmat dibanding kopi dingin. Itulah sebabnya ia rela memesan satu cangkir kopi baru untuk membuang yang lama. Tak masalah.
***

“PAK, kopinya. Empat ribu.” Seorang remaja laki-laki menawarkan dagangan kepada orang-orang yang lalu-lalang di sekitar Malioboro. Panji Kahuripan, remaja itu, berusia sekitar tujuh belas tahun. Setiap sore sepulang sekolah, ia menggendong kotak plastik besar di depan perut berisi aneka minuman sachet. Juga termos air panas dalam jinjingan. Tak lupa rokok yang bisa dibeli eceran.
“Panji!” sebuah sapaan memanggil.
Kepala remaja laki-laki itu menoleh cepat. Namun rasanya ia ingin segera membuang muka setelah tahu siapa yang memanggil. Dua teman sekelasnya.
“Kau di sini rupanya.” Catur Mandala, laki-laki berkaca mata yang hobinya main play station, melangkah mendekat.
Di belakangnya, seorang remaja laki-laki lain mengekor. Ia Joshua Yoon, satu-satunya murid blesteran di kelas mereka. Tentu wajahnya ganteng dan rambutnya agak kecoklatan alami.
“Aku pikir hanya rumor.” Catur berhenti satu meter di hadapan Panji.
Sedangkan yang diajak bicara hanya mematung. Kedua tangannya tanpa sadar menggenggam pinggiran box jualan dengan erat.
Joshua mencondongkan tubuh ke depan, seolah memastikan bahwa sosok yang berjualan keliling di hadapannya adalan teman sekelas mereka. “Ah, ternyata bukan rumor ya? Tapi beneran.”
Panji melirik dagangannya. Lalu mengangkat wajah dengan muka datar. “He he....” tawanya hambar. “Kalian mau beli?”
***

SIARAN musik terdengar dari radio mobil. Alex Buntala memacu mobilnya keluar dari mall terbesar di Yogyakarta itu ketika langit bersemu jingga di ufuk barat. Ia menuju apartemen ketika ponselnya berdering.
Matanya melirik layar. Tangan kanan Alex segera menggeser layar untuk menerima telepon dan mengaktifkan speaker. Lalu kembali sibuk di kemudi mobil.
Hei, Alex. Kau luang malam ini?” Suara seorang teman menyapa di seberang telepon. David Kurniawan.
“Hm.” Alex membalas malas.
Ayo nongkrong. Malam minggu nih!” Suara lain menyahut di seberang. Tanpa diberitahu, Alex tahu siapa dia. Bryan Jefri. Dua sosok itu adalah teman baik Alex sejak beberapa tahun silam.
Laki-laki yang sibuk dengan kemudi mobil mendesah. Lagi?
Ia mulai lelah pada dua temannya itu. Meski tak pernah bilang apa-apa, Alex tahu bahwa dirinya hanya dimanfaatkan. Bryan dan David memanfaatkan isi dompet Alex. Ah, tak masalah. Mau bagaimana lagi, sulit menemukan teman bersenang-senang yang cocok di usia tiga puluhan tahun begini.
“Oke.” Alex tersenyum kecut. “Kalian ada di mana? Biar aku jemput.”
***

DUA gelas kopi terseduh air panas di bangku sekitar Malioboro. Bibir Panji Kahuripan bungkam. Ia tak bicara sejak pesanan ini terucap dari sang pembeli. Tangan Panji mengaduk dua gelas kopi instan secara canggung.
Tentu saja canggung. Ia tengah membuatkan kopi untuk dua teman sekelasnya. Ah, rasanya ia ingin sembunyi saja selamanya. Kenapa sangat malu begini?
“Sejak kapan kau menjalani rutinitas ini?” Catur Mandala membuka percakapan setelah sekian menit mereka saling diam.
“Setahun.” jawab Panji sekenanya. Ia menyerahkan dua gelas kopi. “Setelah ayahku yang tukang judi itu lari entah ke mana, dan aku harus membantu ibu. Kami masih harus memikirkan dua adikku yang masih SD.”
Joshua Yoon menerima yang pertama karena duduk lebih dekat. “Ah, menyenangkan sekali bisa mencari uang sendiri, ya. Kau hebat, Panji.”
Panji melirik Joshua. Benarkah siswa paling tampan di kelasnya itu baru saja memujinya?
Catur mengangguk setuju. Ia menerima kopi Panji. “Kenapa tidak mengajak kerjasama denganku, Panji? Kita bisa membuka kedai kopi bersama-sama. Kakakku seorang barista. Kita bisa belajar dari dia untuk membuka kafe.”
Panji tertawa kecil. “Ah, jangan mimpi terlalu tinggi. Apalah aku dibanding kalian. Tak punya modal besar untuk buka kafe.” Ia memberesi bekas sachet kopi instan untuk dimasukkan ke dalam plastik sampah. Tak boleh membuang sampah sembarangan.
Joshua menurunkan gelas kopi yang tadi menutupi bibirnya. “Aku tidak suka kau bicara membandingkan kita.” Wajahnya berubah serius.
Panji tersenyum. Kali ini lebih hangat. “Kadang, aku malu pada kalian.”
Catur mengernyit. “Selama kau tidak mencuri, jangan malu.”
“Ha ha, benar.” Panji tertawa garing. “Seharusnya yang malu cukup ayahku saja.”
Jalan Malioboro begitu ramai malam ini. Kendaraan berjejal mengantre lewat. Sesekali, kereta kuda berketipak di antara mesin-mesin kendaraan.
So, jadi mau buka bisnis bareng?” Joshua tersenyum lebar. “Aku mau jadi pengusaha muda.”
Catur meletakkan gelas kopi di bangku, tepat di sampingnya. “Karena kita belum punya tanah, kita mulai dengan membuka stand pinggir jalan.” Ia tersenyum lebar. “Biar aku tanya kakakku dari mana mendapatkan biji kopi murah berkualitas.”
Ini Yogyakarta. Banyak pengusaha muda terlahir dari kota ini, dari mahasiswa-mahasiswa yang menuntut ilmu di sini. Bagi mereka bertiga, tak perlu menunggu jadi mahasiswa untuk berwirausaha.
***

“Yuhuuu!!!” Bryan Jefri bersorak girang di kursi belakang. “Kali ini Alex akan mentraktir kita lagi!”
David Kurniawan yang duduk di samping kemudi Alex Buntala tertawa renyah. “Ah, kita harus berterima kasih pada Alex atas kemurahan hatinya.”
Kepala Bryan muncul di antara mereka berdua. “Bersyukurlah, Alex. Menjadi manager di perusahaan kopi terkenal tidaklah kesempatan yang bisa dimiliki semua orang.”
Di balik kemudi, Alex mengulum senyum tipis. “Kalian mau pergi ke mana?”
“Bar?” David menjawab antusias.
Alex berdecak. “Ah, terlalu mainstream. Tak ada yang berubah dari minggu ke minggu.”
“Lalu kau mau merekomendasikan ke mana?”
“Malioboro?” Alex memutar kemudi menuju jalan yang akan membawa mereka ke sebuah tempat. “Mari kita coba makanan murah-murah di sana.”
Wajah David dan Bryan terlihat tak puas.
Mobil memasuki Malioboro dan terparkir rapi di halaman Museum Benteng Vredeburg. Mereka bertiga keluar mobil.
Mata Alex mengamati sekeliling sejenak. Suasana malam. Lalu ia melihat seorang penjual kopi asongan yang duduk di bangku tak jauh darinya.
“Kalian mau kopi?” Alex menawarkan kepada dua temannya tanpa mengalihkan tatapan dari si penjual.
“Kopi di pinggir jalan?” Mata David dan Bryan melebar dengan kalimat yang nyaris terucap bersamaan.
Alex mengulum senyum. Kedua kakinya terayun. “Kenapa tidak?”
***

Tiga remaja laki-laki itu sedang tersenyum cerah merencanakan masa depan mereka setelah lulus dari bangku SMA, ketika tiba-tiba seorang laki-laki berkemeja rapi menghampiri.
“Kopinya masih ada?”
Panji Kahuripan, salah satu dari remaja yang tengah berbincang itu, mendongak. Ia terbata mengangguk. “Masih, Mas. Mau kopi yang mana?”
Ketika sang laki-laki berkemeja rapi itu sibuk memiih kopi, Panji melihat dua orang yang juga berpenampilan kelas atas menghampiri mereka.
“Kau masih memburu aneka jenis kopi, Alex?” Salah satu dari mereka mengernyit kepada laki-laki yang sedang memilih kopi sachet.
Yang ditanya tak menjawab. “Ini.” Melainkan menunjuk salah satu sachet kopi instan.
Panji dengan cekatan memotong rentengan sachet kopi dan segera menyiapkan gelas.
“Alex?” Salah satu teman yang berpenampilan berkelas menunjukkan layar ponsel. “Sepertinya aku dan Bryan harus pergi. Gilang baru saja mengirim pesan untuk mengajak nongkrong bareng.”
Laki-laki yang tadi memilih kopi membalikkan badan. “Kenapa tidak minta dia ke sini saja? Biar rame?”
Dua orang temannya berwajah tak setuju. “Tidak. Kami akan menemui Gilang. Dia akan menjemput kita ke sini.”
Dari sudut mata Panji, ia melihat laki-laki yang tadi memilih kopi tersenyum kecut.
Panji dan laki-laki itu seperti dua sisi kaca. Saling berkebalikan.
Seperti kopi, manusia tak pernah meminta dimasukkan ke kehidupan yang seperti apa. Karena biji-biji kopi tak pernah bisa memilih di mana mereka akan dibungkus. Apakah di kemasan terkenal yang akan digiling di mall, atau dalam sachet murahan di gerobak asongan.
Satu hal berharga yang tak boleh terlewat. Dengan siapa kita menikmati kopi, jauh lebih penting dibanding brand pada bungkus kopi.

Bandung, 21 Agustus 2016
23:49 WIB




Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com










Tuesday, 7 June 2016

Ramadhan 2016




Sahur pertama, di basecamp PK yang telah ditinggal penghuninya (kecuali saya).
Buka puasa pertama, di commuter line menuju Pasar Senen.
Sahur kedua, insya Allah di dalam kereta Senja Utama menuju Solo Balapan.

Ramadhan ini, adalah ketika saya masih usia dua puluhan. Ramadhan ini, adalah ketika saya berjuang mewujudkan mimpi. Ramadhan ini, adalah ketika saya bertemu banyak teman-teman baru dari seluruh pelosok negeri.

Ramadhan ini, akan saya rindukan pada suatu hari nanti, di hari tua. Ramadhan tahun ini akan terkenang. Terus terkenang selama saya hidup.



Stasiun Pasar Senen, 6 Juni 2016
18:32 WIB



Thursday, 2 June 2016

Kotak-kotak Donat dan Misi



Pada sebuah titik di jalanan Cimanggis, Depok, saya antri pulsa di *nd*m*r*t.

Seorang bapak enam puluhan berpakaian rapi (kemeja putih celana hitam) menawarkan donat-donat dalam kotak rapi, bertumpuk pada plastik kuning besar. Kira-kira ada sekitar belasan kotak.

"Donat, mbak?" tawarnya dari pintu.

Beberapa orang tak acuh. Sebagian menggeleng atau menunjukkan telapak tangan.

Saya menggeleng pelan dengan senyum. Tentu saya tak bisa meninggalkan antrian, karena tinggal satu orang giliran saya. Benar-benar butuh pulsa cepat.

Namun ternyata di *nd*m*r*t sedang gangguan. Maka saya keluar dan tak tahu harus beli pulsa di mana.
Saat keluar, saya melihat si bapak penjual donat berjalan ke sebuah arah. Saya ikuti sambil mengamati dari belakang.

Akhirnya setelah berjalan beberapa meter, saya percepat langkah dan menyusul si bapak. "Pak, donatnya bisa saya beli?"

Si bapak berhenti, menoleh. Matanya berkata 'oh?'.
"Oh, bisa mbak." Lalu beliau menepi ke pinggir jalan dan saya ikuti.
Plastik beliau buka. "Mau berapa kotak?"

Mata saya meneliti isi kotak. Untuk ukuran donat jalan, donat ini terbilang high quality. Bersih, rapi, kemasan menarik, dan terlihat enak.

"Satu kotak berapa?"

"Dua belas ribu."

Murah. Untuk ukuran sepuluh donat aneka rasa yang kelihatan nikmat, selembar uang ungu dan abu-abu sudah cukup.
"Beli satu saja, Pak. Nanti tak habis saya makan." Bibir saya tersenyum ramah.

"Kemarin ada yang borong dua puluh. Tapi dia hanya ambil satu kotak." Si bapak bercerita semangat sambil masukkan kotak ke plastik.

Dahi mengernyit. "Sisanya?"

"Dia minta saya membagikannya ke anak-anak jalanan."

Saya langsung 'waow' dalam hati.

Si bapak melanjutkan, "Kalau kemarin, ada tiga kotak dibayar orang, untuk saya sebar ke anak-anak jalanan."

Saya tak punya duit banyak. Tapi saya mau ikut misi ini. Maka saya bayar dua kotak. "Yang satu kotak tolong bagikan juga ya, Pak."

"Ke siapa, Mbak?"

Saya menangkap aura wajah beliau yang ingin memastikan secara jelas amanah pembagian kotak donat.
"Siapa saja yang membutuhkan. Jadinya berapa? Dua empat ya?"

Kami berpisah. Si bapak melanjutkan jalan. Saya kembali cari pulsa.

Oh, tentu ada dari kita yang berpikir apakah si bapak menipu atau tidak. Bagi saya, itu bukan urusan. Toh, saya sudah menyerahkan amanah. Perkara mau dilaksanakan sama si bapak atau tidak, itu bukan urusan saya.

Yang jelas, saya yakin, bahwa bapak ini orang baik. Benar-benar baik. Aura kebaikan tak akan salah, meski pada akhirnya siapa tahu disalahgunakan.

Oh, saya bukan orang yang gampang merasa kasihan. Saya bukan pengasih.
Saya hanya ingin ikut misi bayar donat tapi donatnya dibagikan ke orang lain yang membutuhkan.

Seperti sebuah kedai kopi di suatu negara Eropa (saya pernah baca tapi lupa di mana), bahwa banyak orang-orang membayar gelas-gelas kopi untuk tuna wisma yang berkunjung.





Warung Es
Mekar Sari, Cimanggis, Depok, 1 Juni 2016
10:17 WIB





Saturday, 2 April 2016

Hampir 365 Hari Berlari



Tulisan ini tergabung dalam Antologi Batch 1 2016 LPDP yang sedang dalam proses pembuatan. Saya ikut tergabung di tim ilustrator dan layouter. Tulisan ini saya post di blog, selain untuk memotivasi juga untuk promosi Antologi Batch 1 2016 LPDP. Selamat membaca, semoga memberi semangat dan inspirasi.





Hampir 365 Hari Berlari
Oleh Fatyana Rachma Saputri



Sepuluh tahun lalu di bangku putih biru
Jenjang itu adalah sebuah bayangan
Yang bahkan menghilang karena cahaya terlalu menyilaukan
Terlalu terang hingga mata terpejam
Dan tak berniat mendongak melihatnya


Di bangku SMP, cita-cita saya adalah menjadi guru bahasa Inggris. Berpikir tentang menyelesaikan gelar S.Pd saja sudah alhamdulillah. Mimpi menjadi guru Bahasa Inggris mengantar saya masuk ke jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Yogyakarta lewat jalur tanpa tes. Di tempat itulah saya bertemu banyak teman dan dosen-dosen yang menginspirasi.
Beberapa teman dan dosen pergi ke luar negeri untuk pertukaran mahasiswa atau presentasi karya. Di kelas, tak jarang dosen-dosen bercerita tentang study abroad. Melihat foto tempat-tempat luar nusantara, mimpi itu begitu nyata di depan mata. Ditambah lagi, saya belajar banyak lewat cerita-cerita inspiratif dunia pendidikan Indonesia lewat diskusi di kelas-kelas. Semua itu membuat saya ingin melakukan sesuatu. Sesuatu yang lebih luas cakupannya. Perlahan-lahan, cita-cita saya berubah dari guru menjadi dosen.
Di bangku kuliah, berbagai beasiswa mulai dikenal. Belum pernah sekalipun saya mendapat beasiswa meski sudah apply setiap tahun beasiswa PPA-BBM. Menjelang lulus kuliah, BPI yang dikelola LPDP terdengar di telinga. Beberapa teman lolos beasiswa tersebut, mengambil studi luar negeri. Teman-teman lain ikut termotivasi. Maka, kami sering berkumpul membicarakan persiapan-persiapan beasiswa meskipun belum lulus kuliah.
Waktu tak mau berkompromi. Kami juga harus cepat. Sedikit demi sedikit, skripsi selesai. Di saat yang bersamaan, kami juga mulai belajar bahasa Inggris untuk memperbaiki TOEFL maupun IELTS. Semua butuh persiapan matang. Saya pun rajin membaca maupun mendengarkan berita online bahasa Inggris. Tak jarang, saya bertukar software pelatihan bahasa dengan teman-teman. Saya bahkan ikut simulasi TOELF sebanyak kurang lebih tiga kali, sebelum benar-benar mengambil TOEFL yang diakui.
Skripsi selesai dan bersiap yudisium. Beberapa dari kami mulai membidik universitas tujuan. Mendatangi setiap Education Fair adalah wajib hukumnya. Sebelum lulus pun kami rajin mendatangi Education Fair, tak peduli antrean sepanjang rel kereta. Di sana, kami memanfaatkan stand-stand universitas untuk mendapat informasi semaksimal mungkin.
Sembari mencari universitas tujuan, saya persiapkan segala persyaratan seperti surat rekomendasi, tes kesehatan, SKCK, dan lain sebagainya. Saya tulis semua sertifikat organisasi, seminar, workshop, kepanitiaan, dan segala macam data pendukung. Bahkan untuk benar-benar matang supaya tak terlewat, saya membutuhkan waktu kurang lebih dua bulan merangkum semua. Tujuan saya satu, supaya semua terangkum dan tidak tercecer. Saya rajin memilah-milah kembali mana yang menjadi kekuatan saya. Apa yang bisa saya lakukan untuk masa depan Indonesia.
Lalu saya merancang essay sambil terus memantau peraturan LPDP yang selalu diperbaiki. Bahkan essay ditulis ulang lebih dari tiga kali. Saya berdiskusi pada teman atau dosen tentang bagaimana cara menulis essay yang benar. Laptop menjadi saksi bisu tentang banyaknya draft essay yang telah saya tulis.
Apa kekuatan saya? Mimpi saya? Kontribusi saya? Tujuan saya? Rencana saya?
Saya dapatkan jawaban tentang masa depan Indonesia seperti apa yang ingin saya kontribusikan, setelah merenung selama kurang lebih tiga bulan.
Hal pertama yang saya lakukan adalah berkaca pada diri sendiri. Apa yang saya punya? Kekuatan macam apa yang bermanfaat bagi Indonesia? Kenapa harus mengambil uang rakyat untuk membiayai pendidikan lanjut saya? Dalam bentuk apa semua uang pendidikan ini saya balas nanti?
Saya benar-benar berkaca pada diri sendiri.
Akhirnya saya paham, saya tidak perlu ambil universitas luar negeri. Keputusan mengambil universitas dalam negeri benar-benar matang dan sesuai kebutuhan saya. Awalnya saya ingin apply di Batch 4 2015. Namun saya masih merasa ada yang harus diperbaiki pada mental saya. Maka saya undur dan memutuskan ikut Batch 1 2016.
Saya lengkapi semua persyaratan, mendaftar, dan berdoa sambil cemas-cemas menunggu. Tuhan memberi jawaban lewat sebuah e-mail hari itu. Saya lolos administrasi.
Menuju proses wawancara, saya banyak persiapan. Rajin membaca berita, rajin bercermin untuk latihan wawancara, sampai-sampai memberitahu bapak ibu supaya tidak menganggap saya gila karena berbicara sendiri. He he....
Pada 10 Maret 2016, semua kerja keras selama hampir satu tahun persiapan terjawab sudah. Saya lolos. Dan saya menangis malam itu di pelukan ibu. Di hadapan ayah.
Untuk perjuangan hampir 365 hari menabur mimpi, menapak terjalnya jalan, saya diberi amanah oleh Indonesia. Di atas kaki-kaki kita nantilah Indonesia dipanggul pundak.



Gemolong, Sragen, 21 Maret 2016
15.54 WIB
Di antara gerimis yang bertempias lewat jendela.






Saturday, 13 February 2016

Museum dan Aku





Apa salahnya dengan museum?
Meski ada banyak orang bilang bahwa museum adalah sebuah dunia membosankan, saya sungguh mencintainya.

Sejak mengenal Sangiran lebih dari sepuluh tahun lalu, saya jadi cinta museum. Seperti masuk dunia lain. Seperti kembali ke masa lalu. Pernah saya mengunjungi Museum Affandi Yogyakarta. Di depan sebuah lukisan pohon, tiba-tiba mata saya pedih dan meneteskan air mata. Dalam sorot lampu kekuningan ala museum, saya hayati cerita tersembunyi di setiap bingkainya.


Atau ketika mengunjungi Monumen Jogja Kembali, pada patung diorama pertama, dada sesak melihat adegan perang. Diorama kedua, mata pedih. Diorama ketiga, mata basah.

Apa salahnya menangis ketika berada di dunia lain? Toh, tak akan ada yang melihat. Karena tempat itu sepi peminat. Kalaupun ada, tak seramai wisata alam di luar sana, yang katanya pada cinta alam tapi buang sampah semena udel masing-masing.

Dua jam bagi saya di museum hanya terasa dua menit.








Solo Grand Mall, 11 Februari 2016
16:26 WIB


Tuesday, 9 February 2016

The Kids and What Life is





Saya sedang di warnet umum tanpa bilik. Sehingga layar komputer samping kanan kiri kelihatan. Di sebelah kanan, segerombol anak laki-laki usia pertengahan SD sibuk main game. Setelah bosan game, mereka buka facebook. Mereka stalking teman-temannya, lalu di timeline banyak sekali foto orang-orang, kebanyakan teman-teman perempuan mereka. Mereka browsing kalimat mutiara tentang cinta untuk ditulis dan dipost ulang ke timeline facebook.

Benar. Kalimat mutiara tentang cinta, saudara-saudara! Seperti samar saya dengar barusan, “Meskipun kau mencintai orang lain, tapi aku tetap cinta.”

Duh, gusti. Mereka pipis saja belum lurus, sudah bicara tentang cinta.

Indeed, our kids should be taught about what LIFE is.
Life is hard, sweetheart. Life is NOT ONLY about love. Life is about how to live.
The kids must try hard, play as hard as they try, get a proper live, and find the one they love.




Rental Komputer dan Warnet Hidayah, Gemolong, 9 Februari 2016
15:14 WIB



Temanku dan Anjing-anjing yang Ditemuinya di Jalan



Suatu hari, aku membuka facebook dan di timeline kutemukan sebuah post yang dipublish seorang teman dekat. Namanya Anindyka Sekar Trisnasih. Tertangal 2 Februari 2016.

Awalnya aku tidak begitu tertarik. Tapi paragraf pertamanya menarik. Aku iseng baca satu kalimat. Ternyata tak bisa berhenti di kalimat pertama. Mataku terus memindai paragraf demi paragraf berupa cerita sepulangnya ia dari kampus.

Setelah selesai membaca, aku terdiam agak lama. Termenung/ Lantas menghela napas. Detik selanjutnya, kembali melakukan aktivitasku yang tadi sempat terhenti. Ceritanya terlupakan begitu saja.

Hari berikutnya, aku membuka facebook lagi dan kudapati Anindyka menge-post satu tulisan lagi, yang sepertinya punya korelasi dengan post sebelumnya. Aku baca, penasaran apa yang ia tulis dan bagaimana kelanjutan kisahnya.

Selesai membaca, lagi-lagi aku terdiam. Kali ini terdiam lebih lama. Termenung lebih lama. Dan dada lebih sesak dari sebelumnya.

Mendadak, kepalaku teringat Loo, kucing yang sekitar dua bulan lalu dibungkus di karung dan dibuang di depan rumah tetangga. Pemiliknya entah siapa. Lalu teringat Sniff, kucing liar yang ditemukan ayahku beberapa minggu lalu di kebun, seberang jalan, yang sama sekali tidak ada sumber makanan di sana.

Astaga ya Tuhan....
Bukankah Tuhan selalu menyuruh manusia berkasih sayang pada semua makhluk ciptaan-Nya? Termasuk binatang malang sekecil apapun. Setakberdaya apapun.

Kali ini, setelah aku izin dengan Anindyka untuk repost tulisannya, aku ceritakan kisah seekor anjing dan satu temannya padamu. Semoga, yang berkunjung ke tulisan ini adalah orang-orang yang tergerak hatinya untuk melindungi hewan.




Rental Komputer dan Warnet Hidayah, Gemolong, 9 Februari 2016
14:19 WIB






Post 2 Februari 2016, 11:29 WIB


Berusan ngeliat pemandangan yang miris dan bikin nangis.

Balik ke kos dari kampus, lewat jalan yang bukan biasanya. Muter-muter di daerah Seturan, Yogyakarta.

Pas masuk gang kecil ngeliat ada anjing dirantai. Kupikir wajarlah, tapi pas ngeliat dari dekat kaget bukan main..!! Itu anjing Siberian Husky! Dengan kondisi badan yang tinggal tulang dan kulit. Bahkan bisa keliatan jelas tulangnya menonjol semua. Kurus parah. Lebih kagetnya lagi, dari punggung sampai area pantat warnanya ungu. Entahlah kenapa bisa begitu. Mungkin dicat atau apa. Tapi nggak bisa dipungkiri itu anjing dalam kondisi yang tidak baik dan sehat. Dia ditelantarkan begitu saja. Nggak mungkin anjing bisa sampai sekurus itu. Bahkan lebih kurus daripada anjing dijalan yang biasa terlihat dipinggiran jalan Babarsari.

Syok, iya pasti. Pengen banget nemuin pemiliknya dan tanya kenapa si husky bisa sampai gitu. Muka sayu, kurus kering, dan bulunya sepertinya rontok parah. Pengen tanya tapi takut pemiliknya tersinggung dan marah. Tapi hati nggak kuasa pengen protes kenapa si husky bisa sekurus itu..!! Dia anjing rumahan, tapi ditali diluar pagar. Pengen adopt tapi udah ada 2 pom di kos. Sekarang nggak tau harus gimana. Butuh bantuan dan saran banget. Apa ada shelter, animal defender, ataupun regu penyelamat binatang yang mau bertandang ke rumah si pemilik dan menanyakan kondisi anjingnya? Please... Kasihan sekali. Tolongin anjing itu

Yang terakhir, pengen bilang ke kalian semua. Kalau kalian punya binatang peliharaan, baik anjing, kucing, kelinci, ikan, burung, bahkan satwa ekstrim seperti ular dll, dijaga dan dipelihara sebaik mungkin. Jangan ditelantarkan dan ditinggal ketika mereka sudah tua. Jangan pernah memutuskan untuk mempunyai binatang peliharaan ketika kamu tidak yakin akan sanggup mengasihi, menjaga, merawat, dan memelihara mereka layaknya bagian dari keluarga..!

Ini teguran untuk siapapun.









Post 6 Februari 2016, 18:29 WIB


Inget husky yang kapan hari saya ceritakan? Well, ternyata ada dua. Dengan kondisi yang tidak jauh beda. Jantan dan betina.

Dengan perasaan agak was-was akhirnya berani datang dan lewat ke tempat si husky ditali. Dan ternyata ada pemiliknya. Si pemilik tinggal bersama 2 saudaranya. Saya minta ijin untuk melihat. Puji Tuhan diijinkan.

Sesuai dugaan, bulu rontok parah, caplak dan semua jenis kutu menyebar rata di badan dua husky ini.

Saya hampir menangis ketika melihat tulang-tulang yang menonjol di badan mereka.

Oke saya deskripsikan, mata sehat, bulu rontok, kurus, banyak kutu kemungkinan besar menyebabkan anemia, tulang besar, struktur bagus. Seandainya mereka sehat akan terlihat sangat gagah.

Saya tanya pada pemilik kenapa kondisi dua husky nya seperti itu, dia bilang kurus karena stres mau kawin tidak bisa. Well, saya kurang paham. Dua pom saya stres mau kawin, bulu rontok, tapi masih gembul-gembul saja. Tapi okelah, saya iyakan.

Saya tanya apa mereka sudah makan dan apa makannya. Dijawab sudah makan, dua kali sehari, dengan dogfood. Kebetulan saat itu ada dogfood di sepeda motor saya. Saya ambil dan saya berikan. Mereka makan dengan lahap. Saya juga tak lupa memberikan mereka air mineral yang saya bawa. Dan saat itu saya menangis. Mereka manja terhadap saya, sejauh ini komunikasi antara husky dan saya lancar, mereka percaya pada saya.

Hampir lupa, saya melihat dan menyaksikan sendiri pup si husky betina. Pup nya penuh darah dan berwarna hijau kebiruan. Saya yakin dia sakit.

Tak lama setelah itu saya pamit, dan meminta si pemilik membawa nya ke vet untuk diperikasakan. Kasihan. Meski tidak sakit namun paling tidak semua caplak dan kutu bisa dihilangkan. Setelah itu saya mendekati husky jantan dan betina dan mencium kepala mereka. Si pemilik sepertinya tau gerak-gerik saya dan tidak membalas kata pamitan saya. Salah satu dari saudaranya terlihat kurang suka juga dengan kedatangan saya.

Saya berharap suatu saat diijinkan lagi bertemu dengan mereka.
Perasaan lega sudah bertemu dengan mereka tapi sedih karena tidak bisa me-rescue mereka berdua. Hanya bisa berharap mereka sehat selalu dan berumur panjang.

Please human, siapapun kalian, apapun binatang peliharaan kalian, mereka punya hak untuk hidup dengan layak. Rawatlah mereka dengan baik supaya mereka bisa menemani kalian sampai tua. Jangan biarkan mereka kelaparan dan terlantar. Jika kalian sudah memutuskan mempunyai binatang peliharaan maka kalian harus bertanggung jawab atas hidup mereka.

God bless you

#dogsarenotfood