Ini tentangku, tentangmu, dan tentang mereka.... Tetes-tetes hujan di setiap sisa ujung hari sengaja aku tampung pada sebuah cawan di sini. Kelak ketika aku, kau, atau kalian lupa, kita bisa menengok dan berkaca pada pantulan air di secawan tetes hujan ini.
Yang mau nyari fan fiction, bisa klik label "fan fiction" sebelah kanan, yak.... ^_^
Any comments are welcomed.

Rabu, 01 Oktober 2014

Catatan Seorang Mahasiswa Tingkat Akhir




Menjelang berakhirnya bulan September, tiba-tiba aku seperti terbangun dari tidur panjang tiada henti. Mataku terbelalak lebar mengingat skripsi yang belum aku sentuh.

Astaga....
Aku seperti beruang yang baru bangun dari hibernasi panjang di musim dingin. Ketika hawa mulai memanas, aku sadar bahwa aku belum melangkah sampai manapun.

Tanpa terasa, aku mulai sering melihat foto wisuda teman-teman di timeline facebook. Rasanya, aku tertinggal sangat jauh. Skripsiku baru 25%. Duh, gusti.... Ngapain aku selama tiga bulan kemarin?

Hari Senin lalu, aku menemui Pak Agus untuk kedua kalinya setelah terakhir kali bertemu bulan Maret lalu. Gilak ya aku.... Maret.... September....

Hari ini aku menemui beliau lagi. Karena molor kemarin, setidaknya sekarang targetku menjadi bimbingan minimal 2x seminggu.

Ah, kemarin....
Kemarin kenapa ya? Rasanya malas mengerjakan?

Karena laporan program TEFL?

Dengan dalih mengurusi laporan program konsentrasi TEFL, seharusnya aku bisa memulai bulan Juni kemarin. Tapi apa yang telah aku lakukan? Juni, aku pikir aku perlu bersantai sejenak setelah jatuh bangun dan berdarah-darah sehabis mengurus laporan program konsentrasi. Tapi kenyataannya, aku bersantai terlalu lama sampai-sampai aku tidak sadar waktu bergulir sangat cepat. Aku tidak sadar berapa lama waktuku habis terbuang sia-sia. Seperti memakan kue lotus di mitologi Yunani, melupakan tujuan awal dan berkutat pada dunia kesenangan.

Target yang awalnya Desember, mundur jadi Januari. Mungkin, aku akan wisuda bulan Februari atau Maret. Harus ekstra ngebut dan lembur terus.

Semoga dilancarkan sama Allah....
Aamiin.




Note:

Ternyata, nulis skripsi itu tantangannya pada hawa nafsu. Nafsu yang ingin selalu menunda dan bermalas-malasan.





Yogyakarta, 1 Oktober 2014
12.05 WIB
Perpustakaan Pusat, UNY



Minggu, 28 September 2014

Nyumpah, Eh.... Nyampah Maksudnya




*Note:
Khusus 18+
Awas, tulisan ini mengandung amukan saya.



Salah satu hal nyebelin media sosial adalah, ada orang yang tanpa rasa dosa, alias tanpa basa basi, minta nomor hape, pin, atau malah parahnya lagi adalah minta foto. Tanpa pembukaan pula, langsung minta gitu aja.

Gila pa?

Hei, elo kira gue langsung ngirim foto gue gitu? Sambil gue tanya pendapat elo, 'akyu cantik khaaan'....
*gebrak meja pake kepala

Elo kira gue langsung kasih nomor gue sambil diselipin emoticon smile? Terus bilang, 'jangan lupa cepet sms akyu yaaak'....
*teriak pake toa masjid

Elo nggak mikir apa, kenapa di profil gue, nggak nyantumin nomor telepon atau nggak upload foto close-up 4l4y geje begituan?
*asah jarum buat ngebunuh elo

Ya itu karena buat ngehindarin orang-orang macam elo, yang sukanya liatin foto orang sambil ngepoin nomor teleponnya.
*banting meja

Bukan sok jual mahal, bukan sok alim, aku juga nggak alim-alim banget keles. Tapi nggak gitu juga kali, elo bisa berpendapat kalo elo bebas minta-minta tanpa rasa dosa. Mintanya nggak cuma satu atau dua kali pula. Frontal juga malah.

Terus, setelah gue kasih foto, mau elo pake buat apaan?
Buat apaan coba?
Diprint buat iklan jasa percetakan foto? Mau cetak ukuran berapa? 2x3 apa 4R?

Atau dipasang di meja belajar elo? Mantengin foto wajah gue semaleman sampe subuh? 
Emangnya wajah gue buat pengusir nyamuk?
Ngelamar jadi bintang iklan obat nyamuk aja belum tentu gue diterima.

Kalo gue lagi pengen upload foto narsis, ntar juga gue upload! Masalah kapan ada mood pengen upload, itu terserah gue dong! Taon depan, atau tiga kali puasa dan tiga kali lebaran ngalahin Bang Thoyib juga suka-suka gue mau upload apa enggak.

Jadi inget beberapa orang 4l4y yang minta nomor telepon dulu-dulu. Mintanya maksa pula, pake argumen pula, dibilang menutup diri dari silahturrahmi. Gue aja kagak kenal elo, ngapain nyambung silahturrahmi? Elo kira, yang namanya silahturrahmi, adalah minta nomor telepon sama orang yang nggak elo kenal?

Itu namanya teror, bang. Mau ngalahin teroris?
Mana gue tahu elo bakal kirim sms mama minta pulsa ke gue tiap hari?
Mau kirim sms mama minta pulsa ataupun emak minta pulsa pun, nggak bakal gue kasih. Emak gue aja kagak pernah minta pulsa ke gue. Apalagi elo yang mungkin bakal sms ngaku-ngaku emak gue. Emang sejak kapan emak gue berjenis kelamin cowok?

Nambah temen?
Temen sekampus yang belum gue kenal aja ada ribuan, ngapain kenalan sama elo yang nggak jelas asal dari kampung mana atau anaknya siapa?



See?!
*banting meja, lagi
*nahan lidah buat nggak nyumpahin orang

D*mn!
(Ups, keceplosan....)

Astaghfirullah.... Sabaaar!
*ngelus dada pake kaki



Yogyakarta, 28 September 2014
6.42 WIB




Senin, 15 September 2014

Cuma Pengen Posting




*menghela napas dalam

So what?
So whaaat?!

*emosi sendiri

Aaarrggh....

*acak-acak rambut

Btw, nanti sore mau ke Mirota Kampus sama Mbak Dinda.
Mau beli apa coba?
Mau beli bleaching sama cat rambut.
Nyobain highlight, ahahaha....



Yogyakarta, 15 September 2014
10.28 WIB
Di perpustakaan pusat, di sela-sela nyari ide gila buat ditulis di skripsi



Kamis, 28 Agustus 2014

Fan Fiction of Hey! Say! JUMP - A Couple of Liars





Title                 : A Couple of Liars
Author             : Fatyana Rach
Song                : Come Back...?
Genre              : Romance, gender switch
Rating              : 13+
Length             : One shot (A really really really short story)


Takaki Yuya mematung di tempat.
Tepat di seberang jalan sana, dia melihat sosok gadis yang sangat dikenalnya keluar dari kedai kopi. Laki-laki itu semakin mengernyit ketika melihat sosok laki-laki lain ikut berjalan bersama gadis itu. Mereka berdua terlihat dekat di sana.
Senyum itu....
Bahkan siapapun tahu arti senyum yang ditunjukkan gadis itu kepada laki-laki di sampingnya. Itu bukanlah senyum biasa. Senyum itu penuh getaran dan sedikit rona malu-malu di pipi.
Yuya masih mematung tak bergerak. Tangannya yang menggenggam gelas plastik kosong mulai meremas, membuat gelas plastik bekas kopi itu rusak.
“Ada apa?” seorang gadis tiba-tiba melingkarkan tangan di lengannya, “Kau lihat apa?”
Yuya menoleh cepat, tersenyum lebar, “Bukan apa-apa.” dia mendaratkan sebuah kecupan kecil di kening gadis itu, “Aku telepon seseorang dulu. Kau tunggu di sini.”
Un.” kepala gadis itu mengangguk disertai senyum kecil.
Tanpa buang-buang waktu, Yuya berbalik menjauh beberapa meter sambil mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jaket. Tangannya memencet beberapa tombol sembari terus berjalan. Ketika dia menempelkan ponsel ke telinga, langkah kakinya berhenti, menciptakan jarak sekitar lima meter dari gadis di belakangnya.
Nada dering terdengar. Sedetik kemudian, seseorang berada di seberang sambungan. Suara seorang gadis, “Moshi moshi?”
“Kau terlihat menikmati kebersamaan dengan laki-laki itu.” Yuya tertawa kecil. Sudut matanya menatap sebuah arah di seberang jalan sana, di mana ada seorang gadis sedang berhenti di pinggir trotoar menerima telepon.
“Apa maksudmu, Takaki?” suara di seberang terdengar gugup. Bersamaan itu pula, Yuya bisa melihat gadis di seberang jalan tampak memeriksa sekeliling. Kepalanya berputar-putar ke segala arah.
“Tak apa-apa, Inoo.” bibir Yuya tersenyum, “Aku juga sedang selingkuh. Kita sama-sama sedang selingkuh.”
“Ah, apa? Apa maksudmu?”
“Jangan pura-pura bodoh.” sekali lagi bibir Yuya terangkat, menyeringai kecil disertai tawa pelan, “Arahkan kepalamu ke seberang jalan.”
Gadis di seberang jalan tampak memeriksa sekeliling sekali lagi. Lalu, tatapan mata mereka saling bertemu. Yuya menatap gadis itu dari seberang jalan. Tangan Yuya terangkat, memperlihatkan jari tengah kepada gadis itu disertai senyum pongah khas Takaki Yuya.
Yuya segera menutup telepon. Dia memasukkan ponsel ke saku sembari berbalik kembali ke arah gadis yang setia menunggu beberapa meter di dekatnya. Yuya tersenyum lebar kepadanya dan segera melingkarkan lengan di punggung gadis itu.
“Kau satu-satunya gadis dalam hidupku, Yuri.”
Berdua, mereka berjalan semakin menjauh sampai hilang di tengah keramaian.
***

“Siapa?”
Inoo Kei menoleh cepat mendengar pertanyaan laki-laki yang sedari tadi bersamanya. Mereka sedang berada di trotoar. Perjalanan sempat terhenti karena Kei harus menerima telepon.
“Kau kenapa?” laki-laki itu berjalan mendekat dengan wajah ingin tahu, “Ada sesuatu di seberang jalan?”
Kei melebarkan senyum. Kepalanya menggeleng, “Iie. Bukan apa-apa.”
Laki-laki itu berdiri di samping Kei.
Kei mendongak menatapnya, “Kouta, aku mencintaimu. Tak ada laki-laki lain dalam hidupku selain dirimu.”
Laki-laki itu tersenyum. Matanya yang sipit semakin menyipit nyaris hilang, “Aku tahu. Kau sudah mengatakannya berkali-kali.”
***



Gemolong, 22 Agustus 2014 (17.42 WIB)





Night Roasted-Fish Party 2014




It was happened at August 26, 2014.

Awalnya, pagi hari, Mbak Ais dapat sms dari anak-anak asrama putra, nawari ikan gurame. Kita langsung bersorak mengiyakan. 

Beberapa jam kemudian, agak sorean, datanglah kiriman ikan gurame, satu plastik gede.

Langsung saja kita bingung mau diapain. Saat itu, yang ada di dapur adalah aku, Mbak Dinda, dan Enha. Sebagian teman ada yang lagi sholat atau apalah di sudut-sudut rumah.

Ada yang usul, gimana kalau dibakar aja.

Okelah, aku, Mbak Dinda, dan Enha mulai membuang sisik ikan dan 'membethethi' gurame-gurame tersebut. Ikannya gede-gede. Kata Fuji, paling ikannya hasil pancingan. Soalnya kalau beli nggak mungkin segede itu. 

Mungkin itu ikannya dari kolam majelis. Di samping majelis memang ada kolam gede banget buat ikan-ikan.

Satu persatu, penghuni asrama mulai berdatangan pulang dari kampus. Serentak kita heboh mau masak apa. Sepakat, akhirnya ikannya dibakar aja.

Fuji dan Lintang beli arang, minyak, dan segala bahan-bahan buat masak. Aku, Mbak Dinda, dan Enha masih setia bergulat mengeluarkan isi perut ikan. Tangan kami sampai ada yang tergores sirip. Jari tengah kiriku juga berdarah karena siripnya tajam-tajam.

Maghrib. Sebagian pada sholat. Yang lain melanjutkan menata arang dan lain sebagainya. Sehabis maghrib, Enha tidak di bagian bersih-bersih ikan lagi. Dia nyusul yang lain ke bagian bumbu. Tinggal aku dan Mbak Dinda, diganti Sofiy. Bertiga masih main-main pisau.

Beberapa saat kemudian, Mbak Dinda masak nasi karena ternyata belum ada yang masak nasi. Tutut datang menggantikan Mbak Dinda. Karena Tutut dan Sofiy nggak kuat mbedah ikan, akhirnya aku yang mbedah-mbedah. Mereka bersihin sisik dan mencuci ikan.

Ba'da isya, Ida dan yang lain mulai membuat arang. Bau bumbu mulai tercium. Terdengar suara desis ketika ikan tercelup minyak goreng. Karena aku sudah selesai, aku ikut buat arang bareng anak-anak yang bergulat dengan arang. 

Semakin malam, banyak yang mulai pulang ke rumah kami ini. Suasana begitu hidup. Canda tawa, teriakan, atau sedikit lengkingan histeris karena salah memasukkan sesuatu ke bumbu. Bahkan kami sempat berteriak hampir bersamaan ketika Ida nyaris menuang bensin ke arang.

Semua sibuk, sibuk bersama-sama. Bahkan kami masak dua sesi untuk nasi.

Entah kenapa, sudah ada daun pisang di dapur. Oh, ternyata ada yang cari daun pisang di kebon samping rumah. Ide Fuji, makan pakai daun pisang.

Bakar-bakar mulai dilaksanakan. Jam delapan, kami berkumpul. Perlu diketahui, dapur kami luas, ada bagian tanpa atap meskipun masih di dalam rumah. Jadi, sembari bernaung di bawah langit malam, kita rempong bareng-bareng. Saling banyol dan narsis bersama lewat foto.

What a beautiful moment.... :')

Bau sedap tercium. Satu persatu, tangan-tangan iseng menyumpil-nyumpil ikan buat dirasain. Ha ha, kalau ini dibiarkan terus, ikannya habis tanpa kita makan pakai nasi. Jangan begitu lah. Ikannya dirampungkan dulu, dibakar semua.

Setelah selesai membakar ikan, ada yang menyiapkan nasi, es teh, dan lain sebagainya.

Jam sembilan, kami berkumpul di aula tengah. Ada sepuluh orang lebih.

Beralaskan tikar, dan dua pelepah daun pisang memanjang, kami makan bersama. Tanpa piring, tanpa pincuk. Hanya daun pisang utuh yang digelar memanjang. Tangan-tangan kami mulai menjamah makan malam kala itu. 

Rasanya hangat.
Indahnya ukhuwah.
Bersama-sama mengingatkan dalam kebaikan.
Semoga kelak kami dikumpulkan kembali di dalam surgaNya.
Amin.


Note* 
Tahu alasan kenapa kita pakai daun pisang?
Karena kita malas cuci piring.
Ha ha ha!
XD




Yogyakarta, 28 Agustus 2014
12.29 WIB
Perpustakaan Pusat UNY